"Pasien kanker paru-paru sudah rentan secara medis, dan temuan kami menunjukkan bahwa asap kebakaran hutan dapat menempatkan mereka pada risiko yang jauh lebih besar," ujar Zhang.
"Seiring polusi udara akibat kebakaran hutan yang semakin sering terjadi, mengurangi paparan bisa menjadi komponen yang semakin penting dalam perawatan kanker dan perencanaan masa pemulihan pasien," paparnya lagi.
Wei menambahkan bahwa temuan ini memiliki implikasi langsung bagi para dokter dan pasien.
"Bagi orang yang menderita kanker paru-paru atau penyakit jantung dan paru-paru kronis, memantau kualitas udara dan membatasi aktivitas di luar ruangan saat terjadi asap sangatlah penting," kata Wei.
Sementara itu dalam studi kedua yang diterbitkan di jurnal Nature Communications, para peneliti menganalisis catatan data rawat inap warga dari 20 negara bagian di AS antara tahun 2006 hingga 2019.
Data tersebut dihubungkan dengan model canggih untuk memperkirakan paparan jangka panjang terhadap partikel PM2.5, baik yang berasal dari kebakaran hutan maupun sumber lainnya. Studi ini mencakup lebih dari 57 juta kasus rawat inap akibat penyakit kardiovaskular dan hampir 33 juta kasus rawat inap akibat penyakit paru-paru.
Para peneliti menemukan bahwa paparan jangka panjang terhadap PM2.5 akibat kebakaran hutan berkaitan dengan peningkatan risiko rawat inap untuk berbagai kondisi jantung dan pernapasan.
Kondisi tersebut meliputi gagal jantung, penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi , asma, pneumonia, penyakit paru obstruktif kronis, serta berbagai gangguan pernapasan lainnya.
Baca juga: PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pada tingkat konsentrasi yang setara, PM2.5 akibat kebakaran hutan secara konsisten berkaitan dengan peningkatan risiko rawat inap yang lebih besar dibandingkan PM2.5 dari sumber non-kebakaran.
"Studi ini memberikan kesempatan unik untuk membandingkan secara langsung dampak kesehatan dari asap kebakaran hutan dengan polusi udara dari sumber lain dalam skala besar," ujar Zhang.
Secara keseluruhan, kedua studi ini menunjukkan bahwa asap kebakaran hutan harus dipandang sebagai ancaman kesehatan lingkungan yang khas. Hal ini memerlukan strategi penanganan khusus yang lebih terarah, tidak sekadar mengandalkan pendekatan lama yang hanya berfokus pada tingkat polusi udara secara umum.
Penelitian di masa depan akan berfokus pada identifikasi komponen kimia dalam asap kebakaran hutan yang memicu tingkat toksisitas yang lebih tinggi, serta memahami proses biologis bagaimana PM2.5 dari kebakaran hutan memengaruhi kesehatan jantung, penyakit pernapasan, dan hasil pengobatan kanker.
"Seiring aktivitas kebakaran hutan yang terus meningkat di seluruh dunia, memahami dampak kesehatan dari asap kebakaran hutan menjadi semakin mendesak," ujar Wei.
"Studi-studi ini merupakan langkah penting untuk mengenali siapa yang paling rentan dan strategi apa saja yang dapat membantu melindungi kesehatan masyarakat di tengah perubahan iklim," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya