El Niño adalah fenomena alam berulang yang menjadi bagian dari siklus ENSO (El Niño–Southern Oscillation), yaitu proses ketika suhu permukaan laut dan tekanan udara berfluktuasi di sepanjang Samudra Pasifik tropis.
El Niño merupakan fase "panas" dalam siklus tersebut, yang terjadi saat angin sakal di Pasifik melemah, sehingga air hangat menumpuk di sepanjang pantai barat Amerika Selatan dan mendongkrak suhu global.
Baca juga: Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Para ilmuwan memperkirakan fenomena El Niño saat ini akan mencapai puncaknya menjelang akhir tahun 2026 dan dampaknya akan berlanjut hingga tahun 2027.
Meski begitu, tren pemanasan suhu laut akibat perubahan iklim tetap menjadi kekhawatiran utama para ahli.
Pickerell, Direktur Global Program Laut di World Resources Institute, menegaskan pentingnya menekan emisi gas rumah kaca untuk mengendalikan tren tersebut. Menurutnya, ini bukan tanggung jawab individu, melainkan industri penyumbang emisi besar yang harus beralih dari minyak dan gas.
Perjanjian Paris yang disepakati pada tahun 2015 bertujuan menahan kenaikan suhu global agar tidak melewati batas 1,5 derajat C di atas tingkat pra-industri. Namun, laporan terbaru dari Program Lingkungan PBB (UNEP) menunjukkan bahwa suhu global kemungkinan besar akan melewati batas tersebut dalam beberapa tahun ke depan, membawa bumi ke zona yang semakin berbahaya.
"Pada akhirnya, kita harus memangkas emisi. Itulah kunci utamanya," tegas Pickerell.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya