KOMPAS.com - Gambar buah yang ditampilkan pada kemasan jus dapat membantu konsumen mengenali jenis atau rasa produk dengan cepat. Namun, visual tersebut tidak selalu memberikan informasi mengenai kandungan buah sebenarnya dalam produk.
Guru Besar Ilmu Perilaku Konsumen IPB University Ujang Sumarwan mengatakan, gambar buah pada kemasan merupakan salah satu stimulus yang diproses konsumen ketika memilih produk.
“Gambar buah mungkin mengatakan ini produk jeruk, tetapi belum tentu menjawab berapa persen kandungan sari buahnya,” ujar Ujang, dilansir dari laman resmi IPB University, Rabu (23/9/2026).
Baca juga: PepsiCo, BWC, dan Pemkot Denpasar Ubah Sampah Bekas Kemasan Jadi Papan Penanda Jalan
Menurut Ujang, ketika konsumen berhadapan dengan banyak pilihan produk dan harus mengambil keputusan dalam waktu singkat, berbagai elemen visual pada kemasan dapat memengaruhi perhatian mereka.
Elemen tersebut meliputi warna, bentuk, ukuran, gambar buah, tipografi, serta informasi yang tercantum pada kemasan.
Dalam konteks jus, gambar jeruk, apel, mangga, atau anggur dapat dengan cepat menghubungkan konsumen dengan jenis buah atau rasa tertentu. Visual tersebut menjadi semacam perceptual shortcut atau jalan pintas dalam mengenali produk.
Ujang mengatakan, kondisi tersebut berkaitan dengan keterbatasan waktu, perhatian, dan kemampuan konsumen dalam memproses informasi.
Saat berada di supermarket atau minimarket, misalnya, konsumen dapat hanya memiliki waktu singkat untuk memperhatikan sebuah produk. Visual yang sederhana dan mudah dikenali dapat mengurangi usaha kognitif untuk mengenali produk.
Meski membantu konsumen mengenali produk, Ujang mengingatkan bahwa gambar pada kemasan tidak dapat dengan sendirinya menjadi bukti mengenai komposisi produk.
Tampilan buah yang dominan dapat membentuk persepsi tertentu terhadap produk, tetapi konsumen tetap perlu melihat informasi verbal dan numerik pada kemasan untuk mengetahui kandungan sebenarnya.
Menurut dia, informasi mengenai komposisi menjadi penting agar persepsi yang terbentuk dari visual sesuai dengan kondisi produk.
“Prinsip yang penting adalah visual harus membantu konsumen memahami produk, bukan sekadar membuat konsumen membeli produk,” tutur Ujang.
Dengan demikian, desain kemasan tidak hanya berfungsi sebagai pembungkus, tetapi juga menjadi bagian dari komunikasi antara produsen dan konsumen.
Kekuatan visual dalam membentuk persepsi konsumen juga muncul dalam konteks klaim keberlanjutan atau greenwashing.
Dosen Universitas Teknologi Bandung Erni Nurjanah mengatakan, konsumen dapat menggunakan jalan pintas ketika memproses informasi mengenai suatu produk, termasuk ketika menilai apakah produk tersebut ramah lingkungan.
Baca juga: Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Menurut Erni, elemen visual seperti warna hijau, gambar daun, serta label seperti natural, eco-friendly, atau organic dapat langsung diasosiasikan dengan atribut positif oleh konsumen.
“Dalam kasus greenwashing ada istilah Halo Effect. Ketika tampilan hijau, itu kemudian langsung diasosiasikan dengan kebaikan, entah itu misalnya gambar daun, warna hijau, atau label tadi,” ucap Erni dalam webinar Greenwashing; Digital Transparency & ESG Data Importance, Selasa (31/3/2026).
Karena itu, menurut Erni, konsumen perlu melakukan pembandingan dan verifikasi terhadap informasi yang diberikan produk, bukan hanya mengandalkan tampilan visual.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya