KOMPAS.com - Meskipun teknologi AI generatif berkembang pesat dan memicu minat publik yang tinggi, penggunaan AI dalam pekerjaan sehari-hari bagi banyak karyawan ternyata belum menjadi hal yang umum.
Ini merupakan temuan dari survei tahap ketiga Konstanz AI study, yang melibatkan 1.105 karyawan pada Mei 2026.
Melansir Phys, Jumat (18/9/2026) jumlah karyawan yang memanfaatkan AI dalam pekerjaan mereka hanya naik tipis dari 35 persen menjadi 38 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Data ini juga menunjukkan bahwa penggunaan AI lebih sering didorong oleh inisiatif karyawan sendiri, bukan diatur secara strategis oleh perusahaan. Hanya 55 persen pengguna AI yang menyatakan bahwa alat AI yang paling sering mereka gunakan diresmikan oleh pemberi kerja.
Dengan demikian, banyak karyawan yang mempelajari AI secara mandiri, sementara perusahaan kerap tertinggal dalam hal aturan penggunaan, keamanan infrastruktur, dan pelatihan karyawan.
"Di banyak organisasi, revolusi besar AI sejauh ini tidak berjalan sebagai proses transformasi yang terencana," jelas Florian Kunze, ketua penelitian sekaligus profesor perilaku organisasi di Universitas Konstanz.
Baca juga: Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
"Sebaliknya, banyak karyawan yang bereksperimen sendiri dengan AI, sementara perusahaan masih tertinggal dalam membuat aturan yang jelas, menyediakan pelatihan, serta menerapkan solusi AI yang aman," katanya lagi.
Kesenjangan antar kelompok pekerjaan terus terjadi. Pada pekerjaan kantor dan berbasis pengetahuan, 49 persen karyawan kini menggunakan AI. Sebaliknya, di kalangan pekerja produksi dan buruh kasar, angkanya hanya 25 persen.
Walaupun ada pertumbuhan dibanding tahun lalu pada kedua kelompok, jurang pemisah ini hampir tidak berubah. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan ruang lingkup penggunaan AI di masing-masing bidang kerja.
Perbedaan berdasarkan tingkat pendidikan juga tetap terlihat jelas. Sebanyak 56 persen karyawan berpendidikan tinggi memanfaatkan AI dalam pekerjaan mereka, sedangkan bagi karyawan berpendidikan lebih rendah angkanya hanya 21 persen.
Karyawan berpendidikan tinggi juga menunjukkan harapan yang lebih positif terhadap teknologi ini dan berbicara lebih terbuka tentang penggunaannya.
Ukuran organisasi juga memegang peranan penting. Perusahaan kecil jauh lebih jarang menyediakan pelatihan AI, membuat panduan resmi penggunaan AI, atau menyediakan alat AI milik perusahaan.
Sebagai contoh, hanya 11 persen karyawan di perusahaan kecil yang mengaku pernah menerima pelatihan AI, dan hanya 10 persen yang menyatakan memiliki aturan mengikat soal penggunaan AI. Di perusahaan besar, struktur pendukung seperti ini jauh lebih umum ditemukan.
"Temuan ini menunjukkan bahwa transformasi AI berkembang tidak merata di masyarakat," jelas Elena Gerdiken, peneliti doktoral di Future of Work Lab Konstanz.
"Karyawan di sektor pekerjaan berbasis pengetahuan, mereka yang berpendidikan tinggi, serta yang bekerja di perusahaan besar saat ini menjadi pihak yang paling diuntungkan dari peluang baru dan potensi kemajuan yang ditawarkan AI. Tanpa langkah penanganan yang tepat, ada risiko kesenjangan yang ada saat ini akan semakin parah," terangnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya