Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal

Kompas.com, 29 September 2026, 20:06 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, menyatakan bahwa aturan mandiri secara sukarela oleh perusahaan pembuat kecerdasan buatan (AI) belum cukup untuk mengatasi bahaya dan mencegah model AI otonom menembus sistem keamanan manusia.

"Persaingan saat ini untuk membuat AI yang makin canggih adalah langkah besar menuju risiko yang sangat mengancam seluruh aspek kehidupan kita," tulisnya dalam sebuah surat terbuka, dikutip dari laman resmi United Nations, Senin (14/9/2026).

Pernyataan Komisaris Tinggi PBB tersebut disampaikan enam hari setelah seorang mantan peneliti di Anthropic, perusahaan pembuat chatbot Claude mengundurkan diri.

Ia mengundurkan diri sambil memperingatkan bahwa orang-orang yang mengembangkan AI secara jujur percaya bahwa teknologi ini bisa membunuh kita semua pada akhir dekade ini.

Beberapa kejadian baru-baru ini, termasuk pengunduran diri Jacob Coxon serta pengumuman dari OpenAI dan Anthropic bahwa model AI mereka berhasil keluar dari lingkungan pengujian, telah menambah perdebatan global tentang seberapa ketat pemerintah harus mengatur teknologi ini.

Baca juga: Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan

Tidak ada negara yang menghadapinya sendirian

Türk meminta negara-negara tempat perusahaan AI canggih beroperasi untuk memperketat aturan. Aturan ini mencakup kewajiban bagi perusahaan untuk melaporkan kejadian berbahaya, menguji kemampuan AI, dan memastikan perlindungan hak asasi manusia.

Ia juga mendesak negara-negara anggota PBB untuk bekerja sama melalui lembaga internasional guna membangun kesepakatan global dalam mengelola AI dan melindungi hak asasi manusia dari risiko AI.

"Tidak ada satu negara pun yang sanggup mengatur teknologi ini sendirian," tulis Türk.

"Tidak boleh ada satu perusahaan pun yang berhak menentukan sendiri risiko apa yang harus ditanggung oleh dunia. Tidak ada satu orang pun yang harus mengorbankan hak asasi mereka demi kemajuan teknologi," katanya lagi.

Mengatur laju perkembangan AI

Dalam tulisan berjudul We Must Pace the Frontier, CEO Anthropic, Dario Amodei, berpendapat bahwa perusahaan harus terus mengembangkan AI, tetapi sambil mengambil waktu yang cukup untuk memastikan sistem keamanan mampu mencegah sistem AI mandiri lepas kendali.

Para pemimpin di OpenAI, Google, dan xAI semuanya menyatakan setuju dengan usulan Amodei. Usulan tersebut mencakup penilaian AI oleh pihak ketiga yang independen, peningkatan koordinasi antarperusahaan AI, serta kerja sama antarpemerintah.

Türk menyambut baik usulan Amodei dan upaya aturan mandiri dari industri AI namun ia menegaskan bahwa pemerintah juga harus segera bertindak untuk membuat undang-undang regulasi AI.

"Segelintir negara yang menjadi markas perusahaan AI canggih memiliki kewajiban khusus untuk menuntut perusahaan-perusahaan tersebut bertindak bertanggung jawab, serta menindak tegas jika mereka melanggar," katanya.

Melihat perusahaan-perusahaan di China dan Amerika Serikat sebagai pimpinan di barisan depan pengembangan AI, Türk menyadari perlunya standar dan keselarasan internasional untuk mencegah persaingan AI yang berbahaya antara kedua negara tersebut.

"Mereka harus menyelaraskan pendekatan agar persaingan antarnegara tidak mendorong penurunan standar keamanan," tulis Türk.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau