KOMPAS.com - Cairan perasan rumput laut yang selama ini dianggap limbah dan dibuang sia-sia di pesisir Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini disulap menjadi inovasi biomaterial bernilai tinggi.
Lewat kolaborasi riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama The University of Queensland (UQ), cairan rumput laut berwarna cokelat keemasan, Sargassum, berhasil diolah menjadi ekoenzim antibakteri yang diproyeksikan sebagai bahan baku kemasan pangan pintar (smart packaging).
Riset berjudul 'Sustainable Biomaterials from Macroalgae: A Dual Approach to Food Security and Ocean Health' ini membuktikan pemanfaatan potensi lokal mampu menjawab tantangan ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian ekosistem laut.
“Dengan melihat sumber daya yang tersedia di Gunungkidul, penelitian ini melihat bagaimana cairan hasil perasan Sargassum yang sebelumnya hanya dibuang saja dan belum dimanfaatkan, dapat diolah sebagai bahan baku ekoenzim antibakteri," ujar Ketua Tim Peneliti BRIN, Athanasia Amanda Septevani dalam keterangan tertulis, Jumat (2/10/2026).
Wilayah pesisir Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyimpan potensi rumput laut Sargassum yang melimpah.
Baca juga: 25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Potensi rumput laut Sargassum tersebut dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya laut yang berkelanjutan.
Sebagai wilayah yang pesisirnya didominasi pantai berbatu, Gunungkidul menjadi habitat sesuai untuk tumbuhnya Sargassum.
Namun, pemanfaatan rumput laut Sargassum masyarakat masih terbatas untuk pangan, pupuk organik, atau dijual dalam bentuk mentah. Kondisi tersebut membuka peluang untuk pengolahan Sargassum sebagai bahan yang bernilai ekonomi dan bermanfaat bagi masyarakat.
Lebih dari 50 peserta komunitas pesisir, khususnya perempuan, terlibat dalam pengolahan cairan hasil perasan Sargassum ini menjadi bahan baku koenzim antibakteri.
"Karena itu, kami melibatkan komunitas sejak prosesnya, termasuk perempuan yang sehari-hari tinggal dan beraktivitas di wilayah pesisir. Dari situ kami bisa belajar apa yang mereka butuhkan dan menyesuaikan pengembangan teknologi agar lebih dekat dengan kondisi di lapangan,” tutur Amanda.
Melalui pendekatan sosial yang inklusif, riset ini meletakkan kelompok perempuan dan penyandang disabilitas pesisir sebagai aktor utama dalam rantai inovasi pangan dan kesejahteraan keluarga.
Mengadopsi masukan dari program Gender Equality and Low-Carbon Partnerships (GELP), tim peneliti memberikan ruang penuh bagi kelompok perempuan sejak perencanaan hingga eksekusi laboratorium lapangan. Pengetahuan lokal perempuan pesisir mengenai karakteristik Sargassum dipadukan dengan desain teknologi tepat guna.
Baca juga: IPB Kembangkan Pupuk Bokashi dari Limbah Rumput Laut dan Jeroan Ikan
Bagi masyarakat yang terlibat, proses tersebut membuka pemahaman baru mengenai potensi Sargassum. Perwakilan komunitas pesisir Kepala Dukuh Dunggubah I Gunungkidul, Aji Surya Utama mengaku baru mengetahui limbah perasan rumput laut Sargassum bisa dikelola menjadi produk bernilai.
"Sebelumnya kami belum tahu kalau cairan hasil perasan Sargassum juga bisa dimanfaatkan. Setelah mengikuti lokakarya, kami jadi tahu bagaimana prosesnya dan bisa langsung mencoba. Ternyata dari bahan yang ada di sekitar kita, ada yang bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang punya manfaat,” ucapnya.
Ke depan, tim peneliti akan mengembangkan pengelolaan ekoenzim lebih lanjut yang berpotensi digunakan sebagai smart packaging pangan antibakteri.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya