KOMPAS.com - Limbah pangan mata ikan tuna bisa disulap menjadi camilan fungsional.
Guru Besar IPB University, Wini Trilaksani mengungkapkan, inovasi tersebut berawal dari potensi kandungan Docosahexaenoic Acid (DHA) pada mata tuna.
Melalui metode cold centrifugation, mata tuna dibersihkan dan dilumatkan, kemudian dipisahkan menggunakan sentrifugasi pada suhu rendah 4 derajat Celcius dengan kecepatan 10.000 rotasi per menit (rpm) selama 30 menit.
Baca juga: BRIN: Ikan Tuna akan Lebih Mudah Ditangkap saat El Nino Terjadi
Proses tersebut menghasilkan minyak pada lapisan teratas. Berdasarkan analisis profil asam lemak minyak yang dihasilkan, kandungan DHA sebesar 33,44 persen dan total omega-3 mencapai 40,10 persen.
Minyak ikan mata tuna tersebut dikembangkan menjadi inovasi pangan laut ala Turkish delight dengan memadukan serat dari sumber daya akuatik, buah tropis, rempah, dan bunga.
"Riset ini mengembangkan ekstraksi omega-3, khususnya DHA, dari mata tuna sebagai sumber bahan pangan fungsional," ujar Wini, dilansir dari laman resmi IPB, Jumat (2/10/2026).
Proses pengolahan minyak ikan tuna menjadi produk yang disebut Helbygoom disertai dengan pengurangan gula pasir. Proses pengolahan tersebut juga melewati formulasi, pengujian mutu, penerimaan konsumen, sampai pengujian pasar awal.
Kini, olahan minyak ikan tuna tersebut memiliki tujuh varian. Yaitu, rosela, jeruk, buah naga, pandan, bunga telang, jahe, dan susu.
Selain sebagai camilan fungsional, olahan minyak minyak ikan tuna berpotensi dikembangkan sebagai produk retail maupun makanan pendamping, oleh-oleh dan hadiah, hamper.
Pengembangan marine-derived omega-3 melalui inovasi pemanfaatan mata tuna sebagai sumber minyak kaya DHA tersebut sudah dipresentasikan ke Food Ingredients Asia Conference.
Baca juga: Cerita Usaha Kerupuk Sirip Ikan Tuna di Bali, Terhambat Cuaca Tak Tentu
Pengembangan inovasi perlu dilakukan dengan pendekatan terarah, termasuk melalui prinsip quality by design, sehingga hasil penelitian dapat memberikan kontribusi yang nyata.
Dosen dengan bidang keahlian pemanfaatan hasil samping perikanan dari Universitas Brawijaya, Rahmi Nurdiani mengatakan, jndustri pengolahan hasil perikanan dapat menghasilkan produk sampingan hingga 70 persen dari total berat ikan.
Bagian ikan tuna selain daging, seperti kepala, kulit, tulang, isi perut, minyak, sampai darah bisa dimanfaatkan sebagai produk sampingan. Bahkan, potensi produk sampingan dari ikan tuna bisa mencapai Rp 10,21 triliun.
"Setiap bagian (tubuh ikan tuna) bisa berpotensi sebagai hasil samping atau limbah yang tidak dimanfaatkan. Mungkin memang belum menghitung modalnya berapa dan lain sebagainya untuk suatu industri. Tapi, potensi ini bisa dimanfaatkan sampai Rp 10 triliun," ujar Rahmi dalam webinar, Selasa (23/9/2025).
Produksi ikan tuna di Indonesia cukup tinggi. Namun, mayoritas pemanfaatan ikan tuna hanya pada dagingnya. Padahal, masih banyak bagian tubuh ikan tuna yang bisa dimanfaatkan, sehingga berpotensi menjadi industri baru.
Baca juga: Ikan Tuna Segemuk Sapi di Jepang Laku Rp 21 Miliar
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya