Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu

Kompas.com, 11 Oktober 2026, 09:01 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyoroti pencemaran dan sedimentasi sungai yang memperburuk tantangan pengelolaan air di Indonesia.

Kondisi tersebut, ditambah menurunnya kapasitas sungai menampung air, turut meningkatkan risiko banjir di kawasan perkotaan.

Menurut AHY, persoalan sungai tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan air limbah rumah tangga dan industri, sanitasi, serta perlindungan daerah aliran sungai (DAS).

Baca juga: Pengamat: Pengelolaan Air Jadi Kunci Praktik Pertambangan Berkelanjutan

“Saya harus katakan, waktu terbaik untuk membersihkan sungai-sungai kita adalah 50 tahun yang lalu, tetapi waktu terbaik kedua, waktu terbaik berikutnya adalah sekarang, hari ini. Jadi, mari kita bersihkan sungai-sungai kita. Mari kita bersihkan air kita untuk generasi berikutnya, untuk anak cucu kita,” ujar AHY dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026, pekan lalu.

AHY mengatakan, ketahanan air membutuhkan pengelolaan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Upaya tersebut mencakup perlindungan DAS, penyediaan air baku, modernisasi irigasi, akses air minum dan sanitasi, pengendalian banjir, serta pengolahan air limbah sebelum dibuang kembali ke lingkungan.

Menurut dia, pengelolaan air merupakan bagian mendasar dari pembangunan karena berkaitan langsung dengan ketersediaan pangan, kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi.

“Air bukan sekadar sumber daya alam. Air adalah fondasi kehidupan, pembangunan ekonomi, dan peradaban itu sendiri. Seperti yang sering saya katakan: air adalah kehidupan. Tanpa air, tidak ada pangan, tidak ada kesehatan, tidak ada kesejahteraan, dan pada akhirnya, tidak ada masa depan,” tutur AHY.

Ia menambahkan, ketahanan air tidak terbentuk dengan sendirinya, tetapi membutuhkan perencanaan dan investasi pada sistem serta infrastruktur yang memadai.

Infrastruktur perkotaan perlu terintegrasi

AHY juga menyoroti pentingnya mengintegrasikan pengelolaan air dengan perencanaan kawasan perkotaan. Menurut dia, kota tidak cukup hanya mengandalkan teknologi modern apabila masyarakatnya masih menghadapi banjir, sanitasi buruk, pencemaran udara, dan keterbatasan akses terhadap layanan dasar.

Karena itu, pembangunan infrastruktur perkotaan perlu menghubungkan pengelolaan air, sanitasi, drainase, perumahan, persampahan, transportasi umum, dan ruang publik dalam satu perencanaan.

“Kita tidak boleh hanya membangun lebih banyak rumah, kita harus membangun komunitas yang lebih baik. Kita tidak boleh hanya memindahkan lebih banyak kendaraan, kita harus memindahkan orang dan barang secara lebih efisien. Dan kita tidak boleh hanya membangun lebih banyak infrastruktur, kita harus membangun infrastruktur yang bekerja selaras dengan alam dan memperkuat ketangguhan jangka panjang,” ujar AHY.

Baca juga: Kementerian ESDM Permudah Izin Pengelolaan Air Tanah Berkelanjutan

Untuk mendukung pembangunan infrastruktur tersebut, pemerintah mengidentifikasi empat faktor pendukung, yakni modal, inovasi, talenta, dan tata kelola.

Anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tetap menjadi salah satu sumber pendanaan pembangunan. Namun, AHY mengatakan, pembiayaan tersebut perlu dilengkapi dengan skema inovatif yang melibatkan modal swasta dan lembaga multilateral.

Menurut dia, investasi pada infrastruktur perlu diarahkan untuk membangun sistem yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan kawasan terhadap tekanan lingkungan.

AHY menegaskan, pembangunan ekonomi perlu berjalan beriringan dengan keberlanjutan lingkungan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau