Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja

Kompas.com, 9 Oktober 2026, 21:00 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi global terbaru menemukan bencana iklim meningkatkan risiko pernikahan anak, kehamilan remaja, dan kekerasan terhadap anak perempuan.

Hal ini terjadi karena banjir, kekeringan, dan gelombang panas ekstrem merusak layanan kesehatan dan pendidikan yang mereka butuhkan.

Melansir Independent, Minggu (4/10/2026) analisis dari lembaga kemanusiaan Plan International ini memeriksa data kesehatan dan iklim dari lebih 50 negara selama tiga dekade terakhir. Riset ini juga dilengkapi survei terhadap 5.000 anak perempuan serta wawancara mendalam di Bangladesh, Kenya, Peru, Senegal, dan Zimbabwe.

Hasilnya menunjukkan bahwa 1 dari 10 anak perempuan mengaku mengalami kehamilan tak direncanakan setelah terjadinya bencana iklim. Sementara itu, sepertiga responden melihat adanya peningkatan kasus kehamilan tak direncanakan di lingkungan tempat tinggal mereka.

Selain itu, 1 dari 10 anak perempuan yang disurvei menyatakan telah menikah sebelum usia 18 tahun dengan 36 persen melaporkan melihat lebih banyak kasus pernikahan anak setelah bencana iklim terjadi.

Baca juga: Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia

"Ketika banjir membuat warga kehilangan segalanya, keluarga yang mengalami kesulitan keuangan akhirnya menikahkan anak perempuan mereka di usia yang sangat muda," ujar Shahina (19 tahun) dari Bangladesh.

Para peserta riset menceritakan bahwa anak perempuan di Peru mengalami kehamilan bahkan sejak usia 12 dan 13 tahun, sementara responden di Zimbabwe mencatat kasus kehamilan dialami oleh anak perempuan yang masih duduk di bangku SD dan SMP.

"Bagi anak perempuan, krisis iklim bukanlah ancaman masa depan yang jauh. Krisis ini sudah mengganggu pendidikan mereka dan memperbesar risiko bahaya saat mereka tidak bisa mengakses layanan kesehatan," tegas Reena Ghelani, CEO Plan International.

"Hanya separuh dari rencana iklim nasional yang menyebutkan kesehatan perempuan atau anak perempuan. Dan meski dampak krisis iklim terhadap sistem kesehatan makin parah, hanya 0,5 persen dari dana iklim global yang dialokasikan untuk sektor kesehatan," katanya lagi.

Pernyataan ini disampaikan di tengah peringatan dari berbagai lembaga bantuan kemanusiaan mengenai dampak gelombang ekstrem El Nino tahun ini yang kian memperburuk kesehatan perempuan.

Peningkatan kekerasan terhadap perempuan

Krisis iklim juga memicu meningkatnya kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan. Studi Plan International menemukan bahwa lebih dari seperempat anak perempuan mengaku menyaksikan kenaikan kasus kekerasan setelah terjadinya bencana iklim.

Anak perempuan juga lebih berisiko terpaksa putus sekolah akibat bencana iklim, padahal sekolah merupakan salah satu perlindungan terkuat dari ancaman pernikahan dini, kehamilan remaja, dan kekerasan.

Baca juga: Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun

Menurut penelitian tersebut, anak perempuan yang pendidikannya terganggu memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi untuk menikah muda atau mengalami kehamilan yang tidak direncanakan.

Meski lebih dari tiga perempat responden menyatakan bahwa perempuan muda di komunitas mereka kesulitan mengakses setidaknya satu layanan kesehatan, angka ini melonjak hingga 84 persen pada mereka yang terdampak kekeringan.

Di antara 50 negara yang diteliti, kekeringan berkepanjangan menjadi bencana yang paling konsisten memicu peningkatan angka pernikahan anak.

"Ayah saya tidak lagi memiliki hewan ternak untuk dijual demi membiayai saya ke perguruan tinggi, karena itulah saya akhirnya menerima untuk dinikahkan," ungkap Galgalo (22 tahun) dari Kenya.

Laporan tersebut memperingatkan bahwa semua risiko ini dipastikan akan makin parah seiring bencana iklim yang terjadi semakin sering dan hebat, terutama bagi anak-anak perempuan yang sudah hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau