KOMPAS.com - Fokus pada tata kelola dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara bertanggung jawab makin meningkat seiring dengan melesatnya penggunaan AI di sektor perbankan.
Hal ini terungkap dalam laporan tahunan lembaga riset Evident terhadap 50 perusahaan keuangan terbesar di dunia.
Melansir ESG Dive, Selasa (6/10/2026) hampir seluruh bank yang disurvei menyatakan telah menerapkan prinsip responsible AI, melonjak drastis dibanding tahun 2023 yang baru diterapkan oleh 16 bank.
Lebih dari dua pertiga bank juga memiliki pengawasan khusus yang detail untuk sistem AI mulai dari memeriksa data yang dimasukkan dan hasil yang dikeluarkan, membatasi alat yang boleh dipakai, hingga memantau AI yang sudah aktif.
Responsible AI sendiri merupakan pendekatan dalam merancang, mengembangkan, dan menggunakan teknologi AI agar aman, adil, transparan, serta tidak merugikan manusia.
Baca juga: AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
"Bank-bank terkemuka merancang batasan aman, izin, standar evaluasi, syarat pemantauan, dan mekanisme penanganan masalah sejak awal, lalu memasukkannya langsung ke dalam sistem dan arsitektur AI perusahaan," jelas Alexandra Mousavizadeh, salah satu pendiri dan CEO Evident.
Untuk mendukung penggunaan AI, bank-bank secara cepat menambah tenaga ahli, memberikan pelatihan bagi karyawan yang menggunakannya, dan memperkuat sistem keamanan untuk melindungi data.
Dalam satu tahun terakhir, kemajuan adopsi AI di sektor perbankan melaju tiga kali lebih cepat dibanding tiga tahun sebelumnya, seiring dengan makin matangnya pemanfaatan AI.
Sebanyak 50 bank yang disurvei mencatat telah menerapkan lebih dari 1.100 bentuk penggunaan AI sejak tahun 2021.
Dalam penilaian berbasis bakat, inovasi, kepemimpinan, dan transparansi, JPMorgan Chase menduduki peringkat pertama dalam Maturity Index milik Evident, disusul oleh Capital One, Royal Bank of Canada, dan CommBank.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap AI yang makin canggih, bank-bank papan atas dalam indeks ini terbukti berinvestasi besar pada pengawasan ketat dan tata kelola yang kuat.
Saat penggunaan AI makin meluas, bank kini lebih berfokus memasukkan AI ke dalam alur kerja harian dibanding sekadar menerapkannya secara serentak di semua lini. Sebanyak 12 bank melaporkan telah meraih keuntungan nyata (ROI) dari proyek AI mereka, naik dari 8 bank pada tahun lalu.
Penerapan pada perangkat lunak dan alat penasihat menjadi beberapa bentuk penggunaan AI yang paling memberikan nilai tambah tahun ini. Bank-bank raksasa seperti Bank of America, Wells Fargo, Citigroup, BNY, dan JPMorgan Chase telah menjelaskan cara mereka menerapkan AI di berbagai lini bisnis.
Sementara itu jumlah tenaga ahli pengawas AI di 50 bank teratas tumbuh 33 persen dibanding tahun lalu, seiring dengan tetap tingginya prioritas keamanan di industri ini. Bank juga memanfaatkan AI untuk mencegah risiko lebih dari separuh pimpinan TI perbankan memperkirakan AI agents akan dipasang penuh pada fungsi manajemen risiko, kepatuhan, audit, pelacakan penipuan, hingga pemantauan transaksi.
Baca juga: Bank Dunia Kantongi Rp 70,78 Triliun dari Penjualan Obligasi Berkelanjutan
Tata kelola dan keamanan menjadi prioritas utama para pimpinan teknologi bank karena AI bekerja di dalam sistem berisiko tinggi dan terikat aturan yang sangat ketat, serta berlandaskan pada kepercayaan nasabah.
Teknologi AI ini digunakan untuk membantu pengambilan keputusan terkait kredit, penipuan, pembayaran, perdagangan saham, nasihat keuangan, data nasabah, hingga layanan keuangan lainnya.
“Kesalahan kecil saja bisa berdampak langsung pada kerugian uang, bahaya bagi nasabah, pelanggaran aturan hukum, hingga rusaknya reputasi dan stabilitas perusahaan,” papar Mousavizadeh.
Bank yang berhasil menghemat waktu berkat AI cenderung memanfaatkan kembali waktu tersebut untuk melayani nasabah, mengembangkan produk, dan menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.
Bank-bank yang meraih skor tinggi dalam indeks Evident berfokus pada penerapan AI secara nyata beserta dampaknya, serta menambah tenaga ahli untuk mewujudkannya seperti ilmuwan AI, manajer produk AI, insinyur perangkat lunak, hingga spesialis manajemen risiko.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya