Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat

Kompas.com, 13 Oktober 2026, 15:12 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Philanthropy Asia Alliance (PAA) mendukung pengembangan lanjutan Global Heat Health Information Network (GHHIN) Southeast Asia Hub untuk memperkuat koordinasi penanganan dampak panas ekstrem di Asia Tenggara.

Dukungan tersebut mencakup pendanaan bagi sejumlah langkah di Indonesia dan Thailand pada 2027, serta persiapan penyelenggaraan Southeast Asia Heat Health Forum kedua.

Dukungan itu diumumkan dalam Global Heat Forum di Bangkok, Thailand, Jumat (9/10/2026).

Baca juga: Cuaca Ekstrem Terjang Cicurug Sukabumi, Sekolah hingga Kendaraan Rusak

Meski sistem peringatan dini dan rencana aksi di sejumlah kota mulai berkembang, banyak negara belum memiliki mekanisme koordinasi berkelanjutan yang menghubungkan sektor kesehatan, ketenagakerjaan, perkotaan, dan penanggulangan bencana.

Ketersediaan data antarnegara juga belum merata. Sementara itu, sejumlah program percontohan menghadapi kesulitan untuk berlanjut setelah pendanaan berakhir.

Chief Executive Officer PAA Shaun Seow mengatakan, panas ekstrem merupakan persoalan yang berkaitan erat dengan perubahan iklim, kesehatan, dan ekonomi. Namun, penanganannya kerap terbagi di antara lembaga yang bekerja secara terpisah.

“Tantangannya adalah menghubungkan sains dengan lembaga pemerintah dan komunitas lokal secara berkelanjutan, sehingga kita dapat melangkah dari melindungi ratusan ribu orang menjadi ratusan juta orang,” ujar Seow dalam keterangan tertulis, Senin (12/10/2026).

Menurut Seow, dukungan PAA ditujukan untuk memperkuat fondasi regional yang telah dibangun GHHIN Southeast Asia Hub sekaligus mendorong penanganan panas ekstrem yang dipimpin oleh masing-masing negara.

Perkuat aksi di Indonesia dan Thailand

Di Indonesia, GHHIN Southeast Asia Hub melanjutkan Proyek KATALIS-HEAT yang dijalankan bersama Pusat Lingkungan dan Kesehatan Asia-Pasifik WHO (ACE), WHO Indonesia, dan Kementerian Kesehatan.

Program tersebut bertujuan memperkuat koordinasi di tingkat nasional serta mendorong pengembangan aksi penanganan panas ekstrem di tingkat kota. Makassar menjadi salah satu lokasi pelaksanaan, dengan dua kota tambahan direncanakan masuk dalam program tersebut.

Adapun di Thailand, upaya masih berada pada tahap awal. Konsultasi dengan mitra dan pemetaan cepat sedang dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi yang ada serta menyepakati prioritas penanganan pada tahap berikutnya.

Pembelajaran dari kedua negara akan dihimpun dalam platform regional agar dapat dimanfaatkan oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya. Dengan pendekatan ini, pemerintah di kawasan diharapkan dapat mengadaptasi praktik yang telah diuji tanpa harus memulai pengembangan program dari awal.

Bangun basis pengetahuan regional

GHHIN Southeast Asia Hub bekerja sama dengan pemerintah, peneliti, penyandang dana, dan mitra pelaksana untuk menghubungkan bukti ilmiah dengan kebijakan serta praktik penanganan panas ekstrem.

Kegiatannya mencakup penguatan bukti ilmiah dan sistem data kesehatan terkait panas, peningkatan kapasitas masyarakat melalui intervensi yang sesuai dengan kondisi lokal, serta pertukaran pembelajaran antarnegara.

Sejak diluncurkan pada Januari 2025, Hub tersebut mulai membangun fondasi respons regional dengan Indonesia sebagai negara pertama yang menjadi fokus keterlibatan. Dukungan untuk pengembangan aksi di Kamboja dan Filipina juga mulai tumbuh.

Salah satu hasil kerjanya adalah laporan pada 2026 yang mendokumentasikan pendekatan Singapura dalam melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun ketahanan terhadap panas di perkotaan.

Baca juga: BPBD Taput Catat Kerusakan 29 Rumah Akibat Cuaca Ekstrem di Tapanuli Utara

Direktur Heat Resilience & Performance Centre NUS Medicine sekaligus Ketua GHHIN Southeast Asia Hub, Profesor Jason Lee, mengatakan, pertukaran pengetahuan memungkinkan kemajuan di satu negara mempercepat pengembangan penanganan di negara lain.

Bukti ilmiah yang disusun bersama pemerintah dapat diadaptasi sesuai kebutuhan negara lain. Sebaliknya, pengalaman pelaksana di lapangan dapat membantu peneliti menentukan pertanyaan dan kebutuhan riset yang relevan.

“Dengan menyatukan berbagai wawasan ini di seluruh Asia Tenggara, kita dapat membangun basis pengetahuan praktis yang lebih kuat yang dapat dimanfaatkan dan disesuaikan oleh setiap negara dengan konteksnya masing-masing,” kata Lee.

Ia menambahkan, tahap pengembangan berikutnya diarahkan untuk memperkuat fondasi yang telah dibangun dan mendukung pemerintah mengembangkan respons kesehatan terhadap panas yang sesuai dengan kondisi lokal serta berkelanjutan dalam jangka panjang.

GHHIN merupakan jaringan global yang menghimpun pembuat kebijakan, ilmuwan, dan praktisi untuk memperkuat penanganan dampak panas ekstrem.

Jaringan ini merupakan inisiatif bersama World Meteorological Organization (WMO), World Health Organization (WHO), dan US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

GHHIN Southeast Asia Hub berpusat di Heat Resilience & Performance Centre, Fakultas Kedokteran Yong Loo Lin, National University of Singapore (NUS). PAA berperan sebagai penyandang dana katalis dan mitra dampak untuk mendukung pengembangan inisiatif tersebut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau