Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum

Kompas.com, 11 Oktober 2026, 08:42 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) mengembangkan sejumlah bahan bakar nabati (biofuel) dengan memanfaatkan sumber daya domestik, mulai dari kelapa sawit, molase atau tetes tebu, hingga sorgum.

Diversifikasi bahan baku ini dilakukan untuk memperluas pilihan sumber energi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.

Senior Vice President Business Development Pertamina Ary Kurniawan mengatakan, biogasoline berbasis kelapa sawit akan diuji coba di dua kilang Pertamina.

Baca juga: Biodiesel Makin Luas, Pertamina Trans Kontinental Perkuat Konektivitas Laut

Selain itu, perusahaan mengembangkan bioetanol berbahan molase tebu dan mengkaji penggunaan bahan baku alternatif.

“Ini bagian dari bagaimana kita melakukan diversifikasi sumber energi yang kita miliki,” ujar Ary dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/10/2026).

Pertamina juga mengembangkan pemanfaatan minyak jelantah (used cooking oil/UCO) sebagai bahan baku sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Bahan bakar ini menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan sektor penerbangan sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.

Menurut Ary, pengembangan berbagai jenis biofuel membutuhkan dukungan kebijakan dan regulasi pemerintah, termasuk mandat pemanfaatan bahan bakar nabati, agar dapat diperluas.

Sorgum menjadi alternatif bahan baku

Selain sawit dan molase tebu, Pertamina menjajaki pemanfaatan sorgum untuk produksi bioetanol. Manager Sustainability Rating & Disclosure Pertamina Hendrick Warman mengatakan, perusahaan telah mengembangkan proyek percontohan bioetanol dari fermentasi biomassa sorgum di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hingga April 2026, bioetanol yang dikembangkan Pertamina masih menggunakan molase sebagai bahan baku. Perusahaan juga mengkaji diversifikasi bahan baku, termasuk sorgum dan aren, yang dinilai memenuhi spesifikasi untuk dicampurkan ke bensin.

“Saat ini, kami bergerak ke (arah) bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, dengan emisi yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar eksisting,” ujar Hendrick dalam webinar Our Power; Our Planet, Jumat (24/4/2026).

Bioetanol yang dicampurkan ke bensin dapat meningkatkan angka oktan atau research octane number (RON). Namun, besarnya penurunan emisi dari penggunaan campuran tersebut perlu dilihat berdasarkan jenis bahan baku, proses produksi, dan karakteristik bahan bakar yang dihasilkan.

B50 untuk mengurangi impor solar

Diversifikasi biofuel juga dilakukan melalui program biodiesel B50, yakni campuran 50 persen biodiesel dengan 50 persen solar. Program ini memanfaatkan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel untuk mengurangi ketergantungan terhadap solar impor.

Berdasarkan proyeksi yang disampaikan dalam materi Pertamina, implementasi B50 berpotensi mengurangi kebutuhan impor solar sekitar 18 juta kiloliter dan menekan emisi hingga 44 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e).

Baca juga: Pendanaan Biodiesel B50 Diklaim Cukup meski Harga Energi Bergejolak

Program tersebut juga diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp170 triliun pada 2026.

Dari sisi ekonomi, B50 diperkirakan dapat menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja dan meningkatkan nilai tambah minyak kelapa sawit mentah (*crude palm oil*/CPO) sebesar Rp20,9 triliun.

Ary mengatakan, pemanfaatan sumber daya perkebunan, termasuk kelapa sawit, merupakan salah satu pilihan untuk memperkuat pasokan energi domestik. Menurut dia, tantangan berikutnya adalah mengoptimalkan sumber daya tersebut agar dapat memenuhi kebutuhan energi nasional.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau