KOMPAS.com - Pola El Nino yang makin kuat tidak hanya menciptakan rekor suhu tertinggi di zona penting Samudra Pasifik pada September lalu. Pemantau iklim Uni Eropa Copernicus mengungkapkan, kondisi tersebut juga dapat menjadikan tahun ini sebagai tahun terpanas di dunia yang pernah tercatat.
Melansir Phys, Senin (12/10/2026) para ahli cuaca global telah memperingatkan selama berbulan-bulan bahwa El Niño kali ini kemungkinan akan menjadi yang terkuat yang pernah ada.
Rekor suhu terbaru ini bahkan sudah pecah sebelum puncak peristiwa tersebut yang diperkirakan terjadi pada akhir tahun ini.
Sebagai fase pemanasan dari siklus iklim alami, El Niño secara sementara menaikkan suhu laut di wilayah tropis Pasifik. Hal ini memicu perubahan cuaca yang dapat meningkatkan risiko kekeringan dan banjir, serta memperparah pemanasan global akibat ulah manusia.
Baca juga: Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Badan Layanan Perubahan Iklim Copernicus menyatakan bahwa suhu permukaan laut di wilayah pemantauan El Niño yang penting di Pasifik atau dikenal sebagai wilayah Niño3.4 telah mencapai rekor tertinggi baru yaitu 29,70 derajat Celsius bulan lalu.
Badan pemantau iklim Uni Eropa tersebut mengatakan bahwa suhu ini melampaui rekor puncak dari peristiwa El Niño kuat sebelumnya pada tahun 1982/1983, 1997/1998, dan 2015/2016.
Direktur Copernicus, Carlo Buontempo, mengatakan El Niño tahun ini, yang mulai muncul pada bulan Juni, adalah fenomena yang sangat luar biasa. Namun, masih terlalu dini untuk memastikan apakah ini merupakan yang terkuat yang pernah ada.
Seiring perubahan iklim yang terus menaikkan suhu laut, peristiwa El Niño saat ini bisa terlihat lebih kuat dibandingkan masa lalu, sehingga perbandingan data dari masa lampau menjadi lebih rumit.
Copernicus menyatakan bahwa mereka telah menggunakan cara ukur baru yang memperhitungkan pemanasan di lautan tropis. Hasilnya menunjukkan bahwa peristiwa saat ini belum tentu lebih kuat dari kejadian-kejadian di masa lalu.
"Ini tetap merupakan peristiwa yang sangat besar, bahkan jika diukur dengan cara tersebut. Peristiwa yang sangat besar ini terjadi di dalam iklim yang saat ini jauh lebih hangat," ujar Buontempo.
Tidak semua badan pembuat prakiraan cuaca menggunakan ukuran yang sama untuk menilai El Niño.
Baca juga: Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pada hari Jumat lalu, Badan Meteorologi Jepang menyatakan bahwa kondisi El Niño telah mencapai tingkat kekuatan tertinggi yang pernah tercatat.
Seiring menguatnya El Niño, rata-rata suhu permukaan laut global mencapai rekor tertinggi di angka 21,05 derajat Celsius pada bulan September. Angka ini melampaui rekor sebelumnya di bulan yang sama pada tahun 2023, yaitu 20,92 derajat Celsius, menurut data dari Copernicus.
Para ahli memperingatkan bahwa El Niño ini, yang bergabung dengan perubahan iklim akibat ulah manusia, juga dapat menjadikan tahun 2027 sebagai tahun terpanas dalam sejarah karena panas yang tersimpan di Samudra Pasifik dilepaskan ke atmosfer.
Fenomena cuaca ini biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan. Dampaknya dapat menaikkan suhu global pada tahun setelah ia mencapai puncaknya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya