Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga

Kompas.com, 19 Oktober 2026, 17:07 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Anak usaha PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Subur Agro Makmur (SAM) membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di lahan-lahan milik warga masyarakat.

‎Kondisi cuaca kering dan panas memang memicu karhutla pada sejumlah titik di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Kendala akses dan minimnya sumber daya air berbagai lokasi terjadinya karhutla memperparah kerumitan dalam penanganannya.

‎Sesuai aturan, penanganan karhutla di dalam konsesi memang tanggung jawab perusahaan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Hulu Sungai Selatan, Ika Agus mengatakan, keikutsertaan PT Subur Agro Makmur dalam membantu pemadaman hingga ke lahan warga turut memperkuat upaya penanganan karhutla di Hulu Sungai Selatan.

Bantuan diberikan melalui dukungan personel, peralatan pemadaman darat, dan pengerahan helikopter untuk melakukan pemadaman dari udara (water bombing). 

Baca juga: Kabut Asap Karhutla di Puncak Papua Tengah Ganggu Penerbangan

‎Agus menyebut, bantuan yang diberikan PT Subur Agro Makmur sangat dibutuhkan untuk menghadapi ancaman karhutla. Khususnya, ketika kondisi cuaca kering dan keterbatasan sumber air menyulitkan proses pemadaman.

‎“Dukungan darat dan helikopter water bombing ini sangat membantu tim gabungan mengendalikan karhutla di HSS," ujar Agus dalam keterangan tertulis, Senin (19/10/2026).

‎Menurut Agus, wilayah Hulu Sungai Selatan saat ini berada dalam status Siaga Darurat karhutla. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan dan koordinasi lintas pihak agar kebakaran bisa ditangani sedini mungkin sebelum meluas ke wilayah lainnya. Dukungan PT Subur Agro Makmur menjadi bagian dari upaya bersama dalam penanganan karhutla itu.

‎Perusahaan yang berada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan ini mengerahkan helikopter Bell 505 Jet Ranger X untuk melakukan pemadaman melalui water bombing. Hingga saat ini, operasi udara tersebut tercatat telah melaksanakan tiga kali pengeboman air (water bombing) pada titik-titik api di luar konsesi, terutama di sekitar perimeter areal perusahaan.

‎Keberadaan sarana udara tersebut membantu menjangkau lokasi kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat. Khususnya, kawasan semak belukar dan area dengan keterbatasan sumber air permukaan.

Operasi udara ini akan terus dilanjutkan dengan tetap mempertimbangkan faktor visibilitas atau jarak pandang dan menempatkan area di luar konsesi sebagai prioritas utama penanganan.

‎Dalam penanganan karhutla di lapangan, tim kesiapasiagaan tanggap darurat (TKTD) PT Subur Agro Makmur bekerja sama dengan Masyarakat Peduli Api (MPA). Tim gabungan tersebut melakukan pemantauan dan pemadaman secara langsung.

Baca juga: Kabut Asap Karhutla Picu Penurunan Bisnis Wisata Outdoor di Singapura

‎Keterlibatan PT Subur Agro Makmur dalam penanganan karhutla di luar wilayah konsesi perusahaan menjadi salah satu bentuk dukungan mereka terhadap upaya pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi ancaman karhutla.

Kolaborasi tersebut juga menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan bersama. Ini mengingat dampak kebakaran lahan dan kabut asap tidak mengenal batas wilayah administrasi maupun konsesi.‎

‎Melalui koordinasi antara BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor swasta, Agus berharap upaya pencegahan sekaligus penanganan karhutla di Hulu Sungai Selatan semakin efektif. Ia juga berharap, koordinasi antar sektor tersebut dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan, lingkungan, serta aktivitas ekonomi masyarakat akibat kebakaran dan kabut asap.

‎

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Swasta
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
Desa Sejahtera Astra
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Pemerintah
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
Pemerintah
Kisah Di Balik Kaltim Dapat Triliunan Dana Karbon dari Bank Dunia...
Kisah Di Balik Kaltim Dapat Triliunan Dana Karbon dari Bank Dunia...
Pemerintah
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau