Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Kepala Adat Long Pahangai Tolak Suap dari Perusahaan dan Pilih Tanam Pohon Meranti

Kompas.com, 20 Oktober 2026, 10:15 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

‎KALIMANTAN TIMUR, KOMPAS — Di tengah masifnya ekspansi kebun kelapa sawit di Kalimantan, masyarakat adat Dayak Bahau Umaq Suling di Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, memilih jalan berbeda.

‎Sebanyak tujuh perusahaan perkebunan kelapa sawit berupaya mengantongi izin masuk ke wilayah hulu Mahakam sekitar tahun 2010 lalu. Dari jumlah tersebut, empat perusahaan menyasar kawasan Long Pahangai dan tiga perusahaan menyasar Long Apari.

Namun, masyarakat dayak yang tinggal di tempat tersebut menolak kehadiran perusahaan perkebunan kelapa sawit skala besar demi mempertahankan kelestarian hutan.

‎"Jadi, mereka mau buka Long Apari, saya bilang silakan, tetapi pakai udara, kalian. Enggak boleh injak tanah. Batal juga mereka di sana," ujar Kepala Adat Kecamatan Long Pahangai, Alauwing Lejeu, Minggu (18/10/2026).

Baca juga: Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi

‎Penolakan terhadap perkebunan kelapa sawit didasari prinsip perlindungan ruang hidup dan nilai filosofis ekologis.

Bagi masyarakat adat setempat, tanah diibaratkan sebagai air susu ibu. Sedangkan hutan berfungsi sebagai bapak dan ibu yang menopang mata pencaharian mereka.

‎Pertimbangkan Kelestarian Lingkungan

‎Pertimbangan dampak lingkungan di kawasan hulu Sungai Mahakam juga menjadi alasan utama penolakan ekspansi perkebunan kelapa sawit.

Pembukaan hutan skala besar untuk perkebunan sawit berisiko memicu bencana banjir dan pencemaran sungai dari herbisida atau penggunaan bahan kimia lainnya yang merugikan masyarakat di sepanjang aliran Mahakam.  ‎

‎Dalam musyawarah adat yang melibatkan warga dari 13 kampung, disepakati ultimatum bahwa setiap kepala adat, petinggi kampung, maupun anggota badan pengawas kampung (BPK) yang meloloskan izin perkebunan sawit akan langsung diberhentikan dari jabatannya. 

‎"Empat perusahaan masuk di Long Pahangai ini. Mereka bilang mau beri Rp 2 miliar. Wah, waktu itulah, saya bersumpah betul-betul. Demi leluhur saya, saya bilang, 'Kalau saya terima uang kalian, saya akan mati hari ini'," tutur Alauwing.

‎Hingga saat ini, kawasan Kecamatan Long Pahangai berhasil mempertahankan wilayahnya dari pembukaan perkebunan kelapa sawit, menjadikannya salah satu kawasan benteng tutupan hutan alam yang tersisa di wilayah hulu Mahakam.

Baca juga: Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya

‎Sebagai alternatif pembangunan ekonomi tanpa mengorbankan hutan, masyarakat Long Pahangai memilih mengembangkan agroforestri. Mereka melakukan gerakan reboisasi dengan menanam pohon-pohon hutan berkayu keras secara berdampingan dengan tanaman komoditas.

‎"Kalau sawit enggak bisa berdampingan dengan tanaman lain dan harus membabat habis hutan," ucapnya.

‎‎Gerakan Penanaman Kembali‎

‎Sebagai wujud konkret dalam menjaga keberlanjutan fungsi hutan tanpa bergantung pada bantuan luar, lembaga adat dan warga Long Pahangai mengembangkan program agroforestri secara swadaya.

Untuk mengganti kayu yang telah ditebang untuk kebutuhan pembangunan rumah dan fasilitas lokal di masa lalu, Alauwing memelopori gerakan penanaman kembali kayu lokal.

‎"Saya ini sudah banyak menebang kayu, dosa saya banyak. Iya. Nah kalau saya menanam kembali ya setidak-tidaknya ya mungkin yang di atas itu, pikir juga kena ganti gitu. Itulah alasan saya, meski saya sombong, saya menanam pohon meranti paling banyak di Kecamatan Long Pahangai," tutur Alauwing.

‎Ia mengolah lahan percontohan penanaman pohon meranti dan ulin seluas 12 hektare sejak tahun 2001.

Pohon meranti dan ulin yang ditanam dengan jarak 2 meter saat ini telah tumbuh besar. Lembaga adat sudah menerbitkan instruksi kepada warga di 13 kampung untuk menanam pohon meranti atau ulin, dengan target minimal 100 pohon per orang per kepala keluarga yang dilakukan secara berkala setiap tahun.‎

Baca juga: Pemerintah Rayu AS Bebaskan Tarif Resiprokal untuk Produk Nanas hingga Kayu Meranti

‎"Tujuan saya supaya mengajarkan masyarakat ini menghadirkan kembali apa yang sudah ada, ciptaan yang sudah ada seperti ulin dan meranti. Kalau tidak kita tanam kembali, nanti anak cucu kita tidak bisa dapat lagi," ujar Alauwing.

‎Di sisi lain, masyarakat adat di Kecamatan Long Pahangai mengembangkan beberapa tanaman komoditas perkebunan, seperti karet, rotan, kakao, gaharu, dan gamal.

Pada masa awal pengembangannya, Alauwing mengambil langsung 6.000 bibit kakao berkualitas dari Jember, Jawa Timur, untuk dibagikan kepada warga. Kakao ditanam dengan menggunakan pohon hutan berkayu keras sebagai peneduh alami.‎

‎"Kami biasa buat perlindungan dia (kakao) itu dengan (pohon) gamal itu. Nah, sudah itu maju lagi, saya juga pesan dari Waringin Barat," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Cerita Kepala Adat Long Pahangai Tolak Suap dari Perusahaan dan Pilih Tanam Pohon Meranti
Cerita Kepala Adat Long Pahangai Tolak Suap dari Perusahaan dan Pilih Tanam Pohon Meranti
LSM/Figur
800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan
800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan
Pemerintah
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
Pemerintah
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
LSM/Figur
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Swasta
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Swasta
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
Desa Sejahtera Astra
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Pemerintah
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
Pemerintah
Kisah Di Balik Kaltim Dapat Triliunan Dana Karbon dari Bank Dunia...
Kisah Di Balik Kaltim Dapat Triliunan Dana Karbon dari Bank Dunia...
Pemerintah
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau