Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan

Kompas.com, 19 Oktober 2026, 21:59 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perubahan cepat mulai dari kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital hingga energi terbarukan dan pergeseran kependudukan sedang mengubah perekonomian di seluruh dunia.

Perubahan ini memang menciptakan peluang baru, tetapi juga berisiko memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi, menurut peringatan dari laporan terbaru PBB.

Melansir laman resmi United Nations, Kamis (15/10/2026) memanfaatkan perubahan ini sering kali membutuhkan keahlian khusus dan akses ke teknologi terbaru, sehingga kelompok rentan berisiko tertinggal.

Laporan tersebut pun menegaskan bahwa perempuan, kaum muda, lansia, penyandang disabilitas, migran, masyarakat adat, dan komunitas berpenghasilan rendah adalah kelompok yang paling rentan, serta menguraikan berbagai rekomendasi bagi pemerintah agar transformasi ini dapat memberikan manfaat bagi semua orang.

Baca juga: PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal

Inklusi adalah prioritas

Laporan dari Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB (DESA) menegaskan bahwa keterlibatan sosial bukan sekadar kewajiban moral, melainkan juga kebutuhan ekonomi.

Laporan tersebut menemukan bahwa memperluas peluang bagi kelompok terpinggirkan dapat memperbesar jumlah tenaga kerja produktif, memperkuat modal manusia, meningkatkan inovasi serta kewirausahaan, memperbaiki penempatan tenaga kerja, dan menyebarkan keuntungan produktivitas secara lebih merata.

"Masyarakat yang inklusif jauh lebih produktif, tangguh, dan makmur," ungkap Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam sebuah pesan video saat peluncuran laporan tersebut.

Laporan itu juga menekankan bahwa langkah-langkah menuju inklusi sosial harus segera diambil. Jika tidak, kelompok yang tersingkir dari sistem utama akan menghadapi hambatan yang jauh lebih berat untuk mengejar ketertinggalan di masa mendatang.

Apa yang harus dilakukan

Seiring kecerdasan buatan (AI) mengubah pasar tenaga kerja, laporan tersebut mendesak pemerintah untuk berinvestasi dalam pelatihan berkelanjutan dan peningkatan keterampilan bagi para pekerja yang pekerjaannya terancam digantikan atau diubah, alih-alih hanya berfokus pada penciptaan lapangan kerja baru.

Begitu pula dengan peralihan ke energi terbarukan, yang harus mencakup dukungan bagi para pekerja dan komunitas yang bergantung pada bahan bakar fosil melalui pelatihan ulang, peluang kerja alternatif, dan bantuan sosial.

Untuk menjembatani kesenjangan digital, pemerintah juga harus memperluas akses internet yang terjangkau, infrastruktur digital, dan pelatihan teknologi terutama di komunitas-komunitas yang kurang beruntung.

Rekomendasi utama terakhir adalah berhenti mengandalkan PDB saja untuk mengukur pertumbuhan, dan mulai menilai kemajuan berdasarkan penurunan angka kemiskinan, akses terhadap pendidikan dan kesehatan, jaminan pekerjaan, penekanan kesenjangan, serta perlindungan lingkungan.

Pertumbuhan ekonomi yang hanya dinikmati oleh segelintir orang, menurut laporan tersebut, tidak bisa dianggap sebagai pertumbuhan yang benar-benar inklusif.

Yang terpenting, investasi ini membutuhkan biaya, dan banyak negara berkembang sedang menghadapi kendala keuangan yang dapat menghambat proses transisi tersebut.

Baca juga: Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG

Sekretaris Jenderal PBB memperingatkan bahwa hampir separuh dari negara-negara termiskin di dunia saat ini sedang mengalami atau berisiko tinggi mengalami krisis utang. Pembayaran bunga utang dibandingkan dengan pendapatan negara pun berada di tingkat tertinggi dalam satu generasi terakhir.

Guterres mendesak para pemimpin dunia untuk menepati komitmen yang dibuat melalui Deklarasi Politik Doha tentang Pembangunan Sosial dan Komitmen Sevilla tentang pembiayaan pembangunan tahun lalu.

Ia juga mendorong reformasi pada lembaga-lembaga keuangan internasional agar dapat mewakili dan melayani negara-negara berkembang dengan lebih baik.

"Transformasi tidak dapat dihindari. Ketimpangan dan penggusuran sosial bisa dicegah.
Mari kita bekerja sama untuk memastikan bahwa perubahan besar yang sedang membentuk dunia kita ini membantu membangun masyarakat yang berakar pada keadilan, martabat, dan kesempatan bagi semua," pungkas Guterres.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
Pemerintah
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
LSM/Figur
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Swasta
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Swasta
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
Desa Sejahtera Astra
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Pemerintah
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
Pemerintah
Kisah Di Balik Kaltim Dapat Triliunan Dana Karbon dari Bank Dunia...
Kisah Di Balik Kaltim Dapat Triliunan Dana Karbon dari Bank Dunia...
Pemerintah
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau