Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim

Kompas.com, 5 November 2026, 19:55 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber phys

KOMPAS.com - Mahasiswa merasa cemas terhadap perubahan iklim. Banyak di antara mereka merasa tidak berdaya dan frustrasi melihat masa depan Bumi, padahal fasilitas pendukung untuk membantu mereka mengatasi kecemasan ini masih sangat minim.

Temuan dari penelitian lintas disiplin ilmu di University of Utah ini juga menunjukkan perasaan tersebut tidak hanya dialami mahasiswa jurusan lingkungan.

"Masyarakat dan mahasiswa tidak sendirian. Ada banyak mahasiswa yang merasakan hal yang sama, dan kemungkinan besar banyak orang dewasa juga merasakannya," kata Jennifer Follstad Shah, profesor madya di School of Environment, Society & Sustainability universitas tersebut.

Temuan penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Sustainability.

Melansir Phys, Selasa (3/11/2026) riset yang dipimpin oleh Follstad Shah dan tim pengajar Utah ini menyurvei 547 mahasiswa University of Utah mengenai respons emosional mereka terhadap perubahan iklim serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Lebih dari separuh responden mengaku sering merasa tidak berdaya atau frustrasi.

Baca juga: Kecemasan Iklim Itu Nyata, Perempuan dan Generasi Muda Lebih Rentan

Tahun lalu, tim ini juga merilis studi pendamping berdasarkan data survei yang sama untuk meneliti cara mahasiswa mengatasi kecemasan iklim (climate anxiety).

Dipimpin oleh Monika Lohani, profesor madya psikologi, studi tersebut menemukan bahwa mahasiswa merasa lebih tenang dengan cara menghabiskan waktu di alam terbuka, berkumpul bersama teman, bermain dengan hewan peliharaan, melakukan perawatan diri, mengubah perilaku untuk mengurangi dampak iklim, serta mempelajari lebih banyak hal tentang perubahan iklim.

"Pengetahuan memberi mereka kekuatan untuk memahami rumitnya masalah ini. Hal itu membuat mereka tidak merasa kehilangan harapan," kata Lohani, peneliti di Natural History Museum of Utah (NHMU).

"Semua kemajuan teknologi untuk mengatasi jejak karbon justru membuat mereka merasa lebih optimistis," paparnya lagi.

Kedua studi tersebut mendesak agar perguruan tinggi memperluas layanan bantuan untuk membantu mahasiswa mengelola beban emosional akibat perubahan lingkungan yang merusak yang dipicu oleh ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Penyebab kecemasan iklim

Para peneliti menyurvei mahasiswa yang mengambil tiga mata kuliah studi lingkungan dan satu mata kuliah komunikasi.

Mahasiswa menilai seberapa sering perubahan iklim memicu emosi tertentu dalam diri mereka. Dalam studi yang dipimpin oleh Follstad Shah, rasa tidak berdaya dan frustrasi menjadi emosi yang paling banyak dirasakan di mana 54 persen mahasiswa mengaku sering merasa tidak berdaya, dan 55 persen merasakan hal yang sama terkait rasa frustrasi.

Baca juga: Orang Super Kaya Dapat Keuntungan Ganda dari Krisis Iklim

Hanya 4 persen mahasiswa yang mengaku sangat optimistis, meski 40 persen di antaranya masih menyimpan sedikit harapan jika kategori jawaban lain dihitung.

Mahasiswa yang memiliki kecemasan umum cenderung mengalami kecemasan yang lebih tinggi terhadap isu iklim. Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa temuan ini tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat langsung antara perubahan iklim dan gangguan kecemasan.

"Bisa jadi kecemasan iklim berkontribusi pada kecemasan umum, begitu pula sebaliknya," kata Follstad Shah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
6 Perusahaan Indonesia Sabet Penghargaan Emas ESG Tingkat Asia
6 Perusahaan Indonesia Sabet Penghargaan Emas ESG Tingkat Asia
Swasta
40 Perusahaan Malaysia, Indonesia, dan Filipina Raih 52 Penghargaan ESG Asia 2026
40 Perusahaan Malaysia, Indonesia, dan Filipina Raih 52 Penghargaan ESG Asia 2026
Swasta
Karhutla Ancam Penghidupan dan Pendidikan di Kalimantan
Karhutla Ancam Penghidupan dan Pendidikan di Kalimantan
LSM/Figur
Ketika China Menjadi Ruang Belajar bagi Siswa
Ketika China Menjadi Ruang Belajar bagi Siswa
Swasta
Aksi Pengurangan Penuh Metana Bisa Tekan Emisi, Namun Gagal Capai Target 2030
Aksi Pengurangan Penuh Metana Bisa Tekan Emisi, Namun Gagal Capai Target 2030
Pemerintah
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
LSM/Figur
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
LSM/Figur
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
LSM/Figur
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
LSM/Figur
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Pemerintah
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Pemerintah
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
LSM/Figur
Alarm Kesehatan, Kasus Kanker Serviks Global Diprediksi Terus Meningkat
Alarm Kesehatan, Kasus Kanker Serviks Global Diprediksi Terus Meningkat
Pemerintah
Kelompok Disabilitas di Pedalaman Kalimantan Pakai Dana Karbon untuk Budi Daya Ikan
Kelompok Disabilitas di Pedalaman Kalimantan Pakai Dana Karbon untuk Budi Daya Ikan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau