KOMPAS.com - Mahasiswa merasa cemas terhadap perubahan iklim. Banyak di antara mereka merasa tidak berdaya dan frustrasi melihat masa depan Bumi, padahal fasilitas pendukung untuk membantu mereka mengatasi kecemasan ini masih sangat minim.
Temuan dari penelitian lintas disiplin ilmu di University of Utah ini juga menunjukkan perasaan tersebut tidak hanya dialami mahasiswa jurusan lingkungan.
"Masyarakat dan mahasiswa tidak sendirian. Ada banyak mahasiswa yang merasakan hal yang sama, dan kemungkinan besar banyak orang dewasa juga merasakannya," kata Jennifer Follstad Shah, profesor madya di School of Environment, Society & Sustainability universitas tersebut.
Temuan penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Sustainability.
Melansir Phys, Selasa (3/11/2026) riset yang dipimpin oleh Follstad Shah dan tim pengajar Utah ini menyurvei 547 mahasiswa University of Utah mengenai respons emosional mereka terhadap perubahan iklim serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Lebih dari separuh responden mengaku sering merasa tidak berdaya atau frustrasi.
Baca juga: Kecemasan Iklim Itu Nyata, Perempuan dan Generasi Muda Lebih Rentan
Tahun lalu, tim ini juga merilis studi pendamping berdasarkan data survei yang sama untuk meneliti cara mahasiswa mengatasi kecemasan iklim (climate anxiety).
Dipimpin oleh Monika Lohani, profesor madya psikologi, studi tersebut menemukan bahwa mahasiswa merasa lebih tenang dengan cara menghabiskan waktu di alam terbuka, berkumpul bersama teman, bermain dengan hewan peliharaan, melakukan perawatan diri, mengubah perilaku untuk mengurangi dampak iklim, serta mempelajari lebih banyak hal tentang perubahan iklim.
"Pengetahuan memberi mereka kekuatan untuk memahami rumitnya masalah ini. Hal itu membuat mereka tidak merasa kehilangan harapan," kata Lohani, peneliti di Natural History Museum of Utah (NHMU).
"Semua kemajuan teknologi untuk mengatasi jejak karbon justru membuat mereka merasa lebih optimistis," paparnya lagi.
Kedua studi tersebut mendesak agar perguruan tinggi memperluas layanan bantuan untuk membantu mahasiswa mengelola beban emosional akibat perubahan lingkungan yang merusak yang dipicu oleh ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Para peneliti menyurvei mahasiswa yang mengambil tiga mata kuliah studi lingkungan dan satu mata kuliah komunikasi.
Mahasiswa menilai seberapa sering perubahan iklim memicu emosi tertentu dalam diri mereka. Dalam studi yang dipimpin oleh Follstad Shah, rasa tidak berdaya dan frustrasi menjadi emosi yang paling banyak dirasakan di mana 54 persen mahasiswa mengaku sering merasa tidak berdaya, dan 55 persen merasakan hal yang sama terkait rasa frustrasi.
Baca juga: Orang Super Kaya Dapat Keuntungan Ganda dari Krisis Iklim
Hanya 4 persen mahasiswa yang mengaku sangat optimistis, meski 40 persen di antaranya masih menyimpan sedikit harapan jika kategori jawaban lain dihitung.
Mahasiswa yang memiliki kecemasan umum cenderung mengalami kecemasan yang lebih tinggi terhadap isu iklim. Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa temuan ini tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat langsung antara perubahan iklim dan gangguan kecemasan.
"Bisa jadi kecemasan iklim berkontribusi pada kecemasan umum, begitu pula sebaliknya," kata Follstad Shah.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya