Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat

Kompas.com, 5 November 2026, 22:01 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kinerja ekspor Indonesia berisiko terdampak penerapan kebijakan perdagangan internasional berkelanjutan, seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dan European Union Deforestation Regulation (EUDR).

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Indonesia perlu segera memperkuat sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (*Measurement, Reporting, and Verification*/MRV) emisi gas rumah kaca (GRK), terutama pada sektor manufaktur.

Anggota Dewan Ekonomi Nasional Mochamad Firman Hidayat mengatakan, nilai ekspor Indonesia yang berpotensi terdampak jika CBAM diterapkan secara global mencapai 33,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 599,49 triliun.

Baca juga: Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada

Saat ini, CBAM baru diberlakukan di Uni Eropa. Nilai ekspor Indonesia ke kawasan tersebut yang terdampak diperkirakan mencapai 2,32 miliar dollar AS atau sekitar Rp 42,15 triliun, setara 11,9 persen.

Kendati demikian, Firman menilai dampak CBAM terhadap ekspor Indonesia ke Uni Eropa saat ini belum terlalu besar.

Tantangan yang lebih berat justru datang dari EUDR, dengan perkiraan dampak mencapai 6,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 125,35 triliun, setara 35,5 persen dari ekspor Indonesia ke Uni Eropa.

CBAM menyasar sektor industri berat, seperti semen, besi, dan baja. Sementara itu, EUDR menyasar sejumlah komoditas pertanian, termasuk kelapa sawit, kakao, kopi, dan karet.

Menurut Firman, penguatan sistem MRV emisi GRK di sektor industri dapat menjadi langkah cepat atau quick win untuk menghadapi CBAM. Langkah tersebut juga penting untuk mengantisipasi kemungkinan perluasan penerapan kebijakan ke negara lain, termasuk Inggris pada 2027.

Ia menyebut, melalui perhitungan emisi yang lebih akurat dan penyesuaian di tingkat pabrik, angka emisi GRK yang tercatat dalam neraca perdagangan Uni Eropa berpotensi ditekan hingga 90 persen.

“Nah, kami harus coba carilah quick win seperti ini gitu kan, yang mungkin kadang-kadang sebenarnya enggak banyak effort yang dibutuhkan untuk mencapainya,” ujar Firman di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Perlu adaptasi dan diversifikasi pasar

Firman mengakui, kebijakan perdagangan internasional berkelanjutan berpotensi memengaruhi kinerja ekspor Indonesia secara signifikan. Karena itu, pemerintah perlu segera beradaptasi terhadap kemungkinan perluasan kebijakan serupa di luar Uni Eropa.

Dalam jangka pendek, perusahaan-perusahaan di Indonesia juga perlu mempertimbangkan diversifikasi pasar ekspor. Langkah ini dapat menjadi alternatif apabila komoditas tertentu menghadapi hambatan untuk masuk ke pasar Uni Eropa.

“Tentu kalau usul saya sih ya diversifikasi. Mungkin enggak, gitu kan? Kalau misalkan CPO (minyak kelapa sawit) kita nanti akan enggak bisa masuk ke pasar EU gitu kan, ada enggak diversifikasi ke pasar negara lain? Itu langkah jangka pendeknya. Tetapi ya ke depan persyaratan-persyaratan yang meminta untuk lebih sustainable ya harus kita bisa sesuaikan gitu kan,” tutur Firman.

Baca juga: Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada

Selain itu, Firman menyoroti nilai emisi bawaan (default value) yang ditetapkan Uni Eropa. Menurut dia, nilai emisi bawaan untuk produk asal Indonesia relatif lebih tinggi, bahkan mencapai dua hingga tiga kali lipat dibandingkan negara-negara setara di kawasan.

Ia menduga, kesenjangan data dalam perdagangan internasional menjadi salah satu faktor yang menyebabkan jejak emisi produk Indonesia dihitung lebih tinggi.

“Kita juga masih bertanya-tanya sebenarnya kenapa mereka memberikan angka ini dibandingkan dengan Indonesia, tetapi salah satu dugaannya adalah karena kita memberikan gap *default value* untuk beberapa perdagangan gitu ya, sehingga emisinya dianggap, dihitung lebih tinggi gitu,” ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
LSM/Figur
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
LSM/Figur
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
LSM/Figur
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
LSM/Figur
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Pemerintah
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Pemerintah
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
LSM/Figur
Alarm Kesehatan, Kasus Kanker Serviks Global Diprediksi Terus Meningkat
Alarm Kesehatan, Kasus Kanker Serviks Global Diprediksi Terus Meningkat
Pemerintah
Kelompok Disabilitas di Pedalaman Kalimantan Pakai Dana Karbon untuk Budi Daya Ikan
Kelompok Disabilitas di Pedalaman Kalimantan Pakai Dana Karbon untuk Budi Daya Ikan
LSM/Figur
Studi Ungkap Krisis Pendanaan Hijau UMKM Global Capai Rp18.136 Triliun
Studi Ungkap Krisis Pendanaan Hijau UMKM Global Capai Rp18.136 Triliun
Pemerintah
Perhitungan Global Ungkap Dampak Ekonomi Akibat Kenaikan Permukaan Laut
Perhitungan Global Ungkap Dampak Ekonomi Akibat Kenaikan Permukaan Laut
Pemerintah
Pabrik Coca-Cola di Bekasi Pasang PLTS Atap 1,45 MWp, Tekan Emisi 1500 ton CO2e
Pabrik Coca-Cola di Bekasi Pasang PLTS Atap 1,45 MWp, Tekan Emisi 1500 ton CO2e
Swasta
Krisis Timur Tengah Ancam Ketahanan Pangan 11,7 Juta Perempuan
Krisis Timur Tengah Ancam Ketahanan Pangan 11,7 Juta Perempuan
Pemerintah
Kesenjangan Keterampilan Hambat Perpindahan Pekerja Sektor Energi Asia Pasifik
Kesenjangan Keterampilan Hambat Perpindahan Pekerja Sektor Energi Asia Pasifik
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau