KOMPAS.com - Studi baru yang dipimpin oleh para peneliti IIASA dan ditulis bersama rekan-rekan dari UNEP, menemukan jika pemerintah berkomitmen penuh menjalankan rencana pengurangan metana, mereka dapat memangkas emisi global sebesar 11 persen antara tahun 2020 dan 2030.
Langkah ini akan membalikkan tren peningkatan emisi metana saat ini, namun masih belum cukup untuk mencapai target Global Methane Pledge (Komitmen Metana Global).
Temuan ini diterbitkan dalam jurnal Global Biogeochemical Cycles.
Melansir Phys, Senin (19/10/2026) penilaian mendetail menunjukkan bahwa pengurangan sebesar 22 persen sebenarnya sangat mungkin dicapai dengan biaya yang relatif rendah, sementara pengurangan sebesar 30 persen akan hampir memaksimalkan seluruh potensi mitigasi yang dapat dicapai dengan teknologi yang ada saat ini.
Metana adalah penyumbang terbesar kedua terhadap pemanasan global setelah karbon dioksida. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas manusia menyumbang sekitar dua pertiga dari total emisi gas metana global, di mana masing-masing sekitar 40 persen berasal dari sektor energi dan pertanian, serta 20 persen dari sektor sampah dan air limbah.
Baca juga: Waspada Krisis Iklim dan Energi, PBB Luncurkan Kampanye Tekan Metana
Gas metana telah memicu peningkatan suhu bumi sekitar 0,5 derajat C sejak masa sebelum era industri, yang mencakup sekitar sepertiga dari total pemanasan yang kita rasakan saat ini.
Karena potensi pemanasannya yang sangat tinggi dan umurnya yang relatif singkat di atmosfer, upaya cepat dan tegas untuk mengurangi gas metana menjadi cara paling efektif untuk mengendalikan pemanasan global dalam beberapa dekade ke depan.
Studi baru ini merupakan pembaruan dan kelanjutan dari analisis yang sebelumnya dibuat oleh tim yang sama dalam laporan Global Methane Status UNEP tahun 2025. Tujuan dari analisis seperti ini adalah untuk memberikan penilaian yang mandiri dan konsisten bagi para pengambil kebijakan mengenai sektor dan wilayah mana yang paling bisa mengurangi emisi metana beserta estimasi biayanya.
Informasi ini sangat berguna sebagai titik awal saat merancang dan merundingkan target internasional baru untuk pengurangan emisi metana.
Untuk mendukung proses pembuatan kebijakan tersebut, studi ini juga dilengkapi dengan kumpulan data komprehensif.
Data ini berisi perkiraan terperinci di tingkat negara atau regional mengenai potensi dan biaya dari berbagai solusi teknis untuk mengendalikan emisi metana di setiap sektor sumbernya.
Pada tahun 2021, Global Methane Pledge diluncurkan sebagai inisiatif internasional untuk mengurangi emisi metana dan memperlambat laju perubahan iklim.
Sejak saat itu, 159 negara dan Komisi Eropa telah berjanji untuk bersama-sama mengurangi emisi metana global sebesar 30 persen antara tahun 2020 dan 2030.
Dalam studinya, para peneliti menyoroti fakta yang mengkhawatirkan: rencana yang diajukan oleh berbagai negara mengenai cara mereka mencapai tujuan tersebut paling pol hanya dapat mengurangi emisi sebesar 11 persen.
Angka ini memang besar, tetapi masih belum cukup. Kendati demikian, para penulis menjelaskan target 30 persen tersebut secara teknis masih bisa dicapai, meskipun akan sangat sulit mengingat waktu menuju tahun 2030 sudah semakin singkat.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya