Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pembangkit Surya dan Angin Dominasi Listrik di Eropa, Kalahkan Energi Fosil

Kompas.com, 24 Januari 2026, 19:35 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan dari lembaga Ember mengungkapkan pembangkit listrik tenaga angin (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mendominasi sebagian besar sumber listrik di Uni Eropa, mengalahkan pembangkit fosil sepanjang 2025.

Dilansir dari The Guardian, Sabtu (24/1/2026), peneliti mengungkapkan PLTA serta PLTS menyalurkan 30 persen energi listrik bersih Uni Eropa. Sementara itu, pembangkit batu bara, minyak, dan gas menghasilkan 29 persen listrik di negara-negara tersebut.

"Capaian itu merupakan titik balik besar yang memiliki arti strategis bagi Uni Eropa yang kian khawatir terhadap ketergantungannya pada negara lain dalam pasokan energi," kata analis dari Ember, Beatrice Petrovich.

Baca juga: Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW

“Bahaya ketergantungan pada bahan bakar fosil sangat nyata di tengah geopolitik yang tidak stabil," imbuh dia.

Para analis menyebut tren ini didorong oleh lonjakan tenaga surya, yang menghasilkan rekor 13 persen listrik Uni Eropa. Di lima negara termasuk Belanda tenaga surya menyumbang lebih dari 20 persen listrik bersih.

Menurut laporan tersebut, pembangkit listrik tenaga angin menghasilkan sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, namun tetap menjadi sumber listrik terbesar kedua dengan kontribusi 17 persen listrik Uni Eropa.

Sedangkan, penggunaan gas fosil meningkat 8 persen yang mayoritas disebabkan penurunan produksi tenaga air karena cuaca. PLTU batu bara turun ke titik terendah sepanjang sejarah, menyumbang kurang dari 10 persen listrik Uni Eropa, sebagian besar berasal dari Jerman dan Polandia.

Analis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), Petras Katinas menilai bahwa tenaga surya dan angin makin menjadi tulang punggung sistem kelistrikan di Eropa.

Baca juga: Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029

“Tenaga surya saja tumbuh lebih dari 20 persen dalam satu tahun, membuktikan bahwa listrik bersih dapat berkembang lebih cepat dibandingkan teknologi konvensional mana pun. Tantangan sekarang bukan lagi pembangkitan, melainkan seberapa cepat Eropa dapat membangun jaringan listrik, baterai, dan fleksibilitas sistem," jelas Katinas.

Di sisi lain, Eropa tengah menghadapi dinamika geopolitik dengan Amerika Serikat, pemasok utama gas alam cair (LNG), di tengah ambisi Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Greenland.

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick bahkan mengkritik adopsi energi surya dan angin di Eropa, dengan alasan minimnya pabrik baterai domestik berisiko membuat kawasan tersebut bergantung pada China.

Ekspansi Listrik Bersih

Melansir Reuters, pemerintah negara Uni Eropa bakal menegaskan kembali rencana mereka untuk memperluas proyek pembangkit listrik tenaga angin. Meskipun, menuai kritik dari Trump terkait agenda energi hijau di Eropa.

Hal tersebut tertuang dalam rancangan deklarasi yang akan ditandatangani para pemimpin negara Uni Eropa. Dalam pertemuan puncak di Hamburg, Jerman, sembilan negara Eropa sepakat mempercepat pengembangan PLTA lepas pantai melalui proyek lintas negara.

Target pembangkit terpasang mencapai 300 gigawatt (GW) kapasitas angin lepas pantai pada 2050. Kemudian, Inggris bersama negara-negara Uni Eropa yang terlibat berkomitmen memenuhi hingga 100 GW dari target tersebut melalui proyek bersama.

Deklarasi itu juga akan ditandatangani oleh Belgia, Prancis, Irlandia, Luksemburg, Belanda, dan Norwegia. Pemerintah-pemerintah Eropa berpandangan, ekspansi energi terbarukan lepas pantai akan memperkuat ketahanan energi, meningkatkan daya saing industri, memperluas lapangan kerja, serta mendorong kemandirian strategis kawasan

Kendati menghadapi tantangan berupa meningkatnya biaya modal dan komponen yang sempat menggagalkan sejumlah lelang ladang angin di kawasan Laut Utara, Uni Eropa berencana meningkatkan pembiayaan proyek melalui jaminan anggaran dan skema subsidi.

Langkah tersebut menegaskan pergeseran berkelanjutan Uni Eropa menuju energi rendah karbon, di mana tenaga surya dan angin kini menjadi pilar utama sistem kelistrikan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Pemerintah
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Swasta
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau