KOMPAS.com - Gajah Sumatra yang sangat terancam punah kini makin terdesak ke ambang kepunahan akibat kebakaran hutan yang menghanguskan sebagian besar habitat mereka di Pulau Sumatra. Hal ini disampaikan oleh kelompok konservasi Indonesia, Geopix.
Melansir Phys, Rabu (16/9/2026) selama berbulan-bulan, Indonesia terus berjuang melawan kebakaran hutan di wilayah Kalimantan dan Sumatra yang menyelimuti Indonesia dengan kabut asap yang menyesakkan
Dalam laporan yang terbit hari Selasa, Geopix menyebutkan bahwa lebih dari 4.500 titik api terdeteksi di 21 kawasan habitat gajah Sumatra antara bulan Juni hingga awal September.
Baca juga: PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Titik api di dalam habitat gajah melonjak hingga lebih dari 2.800 pada minggu pertama bulan September, naik dua kali lipat lebih dibanding bulan Agustus yang mencatat sekitar 1.300 titik api.
Lebih dari 560.000 hektar lahan hangus terbakar pada periode tersebut, menurut laporan Geopix.
Kondisi ini mengancam salah satu spesies gajah paling langka di dunia. World Wildlife Fund (WWF) memperkirakan hanya tersisa sekitar 2.400 hingga 2.800 ekor gajah Sumatra yang masih hidup di alam bebas.
Aktivis senior perlindungan satwa Geopix, Annisa Rahmawati, menggambarkan dampak kebakaran terhadap habitat gajah Sumatra tahun ini sangat parah dan merusak.
"Secara ekologis, kebakaran menyebabkan gajah kehilangan tempat tinggal, merusak lingkungan, dan memecah-mecah wilayah jelajah mereka. Hal ini mengurangi sumber makanan dan air, serta mengubah pola perpindahan gajah," ujarnya.
Rahmawati mengatakan bahwa paparan asap beracun dari kebakaran hutan dapat meningkatkan stres fisik dan mental pada gajah.
Ia memperingatkan bahwa kekurangan pasokan makanan dan air dapat semakin memperlemah kemampuan gajah untuk bertahan hidup di alam liar.
Indonesia hampir selalu mengalami kebakaran hutan selama musim kemarau, yang biasanya berlangsung dari Juli hingga Oktober. Namun, kebakaran tahun ini jauh lebih parah, salah satunya disebabkan oleh fenomena cuaca El Niño.
Baca juga: Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Para ahli juga menyalahkan perubahan iklim, kerusakan hutan yang terjadi selama puluhan tahun, serta praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar yang telah merusak sifat alami hutan yang tadinya tahan api.
Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa lebih dari 202.000 hektar lahan terbakar di seluruh negeri antara bulan Januari dan Juli.
Namun Proyek Nusantara Atlas mencatat angka yang lebih tinggi, yaitu mendekati 300.000 hektar pada periode yang sama. Pekan lalu, mereka memperkirakan total area yang terdampak hingga bulan Agustus telah mencapai hampir 896.000 hektar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya