Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 20 Mei 2025, 17:43 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

 

KOMPAS.com — Upaya mengatasi krisis sampah sekaligus mempercepat transisi menuju energi terbarukan kembali mendapat dorongan baru.

WITS Group—melalui unit bisnis Jono Enviro Technology—menjalin kerja sama strategis dengan Institut Teknologi PLN (ITPLN) untuk mengembangkan teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy (WTE) berbasis kecerdasan buatan (AI).

Kesepakatan kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang dilakukan di kampus ITPLN, Jakarta.

Rektor ITPLN Prof Dr Ir Iwa Garniwa Mulyana K, MT, IPU, ASEANEng mengatakan bahwa kemitraan tersebut merupakan bentuk sinergi konkret antara institusi pendidikan dan dunia industri dalam merespons tantangan perubahan iklim dan krisis energi.

“ITPLN berkomitmen menjadi pelopor riset dan teknologi energi bersih. Bersama WITS Group, kami menggabungkan inovasi dan praktik nyata untuk menciptakan dampak jangka panjang bagi bangsa,” ujar Prof Iwa dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (20/5/2025).

Baca juga: Bank Sampah di Yogyakarta Buat Insinerator Sederhana dari Batu Bata

Kerja sama itu, lanjutnya, sejalan dengan pendekatan sistem pembelajaran di ITPLN yang mengusung formula 40-40-20, yakni 40 persen teori, 40 persen penyelesaian masalah, dan 20 persen kontribusi dari praktisi industri.

Chief Executive Officer (CEO) WITS Group Jodi Irawan menjelaskan bahwa teknologi yang dikembangkan tidak hanya bertujuan menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga membuka jalan menuju masa depan energi berkelanjutan.

Salah satu teknologi unggulan yang diperkenalkan dalam proyek ini adalah Mechanical Processing yang merupakan sistem pencacahan dan pengeringan sampah yang efisien.

Ada pula AI Sorting System yang merupakan sistem pemilah sampah otomatis berbasis kecerdasan buatan dengan tingkat akurasi tinggi.

Teknologi lainnya adalah IoT-Based Monitoring, yakni platform digital untuk pemantauan proses secara real-time dan transparan.

Baca juga: Menteri LH: Mangrove dan Gambut Jadi Kunci Pangkas Emisi

Salah satu produk utama dari teknologi ini adalah Enercycle Fuel (ECF), yakni bahan bakar alternatif padat hasil pengolahan limbah organik dan anorganik. Produk ini dirancang untuk mendukung skema co-firing pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), menggantikan sebagian bahan bakar fosil.

“Kami tidak hanya ingin menyelesaikan masalah hari ini. Kami sedang membangun fondasi untuk masa depan energi Indonesia,” ujar Jodi.

Jawaban atas tantangan krisis sampah dan energi

Berdasarkan data ITPLN, Indonesia memproduksi lebih dari 175.000 ton sampah setiap hari. Di sisi lain, bauran energi nasional masih didominasi oleh energi fosil, meski pemerintah menargetkan emisi nol bersih atau Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

Melalui kerja sama tersebut, WITS dan ITPLN berharap dapat mendorong beberapa langkah strategis, antara lain mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) dan emisi karbon, mempercepat pemanfaatan biomassa dalam sistem kelistrikan nasional, serta mendukung ekonomi sirkular dan menciptakan lapangan kerja hijau (green jobs).

Menurut Jodi, keterlibatan aktif berbagai pihak dalam mengembangkan teknologi ramah lingkungan merupakan hal mendesak.

“Kita tidak bisa menunggu generasi berikutnya untuk menyelamatkan bumi. Kitalah generasi itu. Dan kita harus bertindak, hari ini, sekarang,” tegas dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau