Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun

Kompas.com, 26 September 2026, 15:45 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Studi baru dari University of Washington membuktikan bahwa emisi masa lalu dari perusahaan-perusahaan penghasil emisi karbon terbesar (carbon majors) akan terus merusak lingkungan kita hingga puluhan tahun ke depan.

Carbon majors sendiri merupakan 178 produsen minyak, gas, batu bara dan semen terbesar di dunia. Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah PLOS Climate.

Temuan-temuan ini kemudian bisa menjadi landasan bagi makin banyaknya tuntutan hukum untuk menuntut tanggung jawab para penyumbang emisi besar atas korban jiwa dan kerugian yang terjadi akibat bencana iklim.

"Kita tahu bahwa emisi bahan bakar fosil telah menyebabkan pemanasan bumi yang signifikan dan dampaknya makin nyata. Namun pertanyaannya: Berapa lama pemanasan ini akan terus berlanjut di masa depan?" ujar Dargan Frierson, dosen asosiasi ilmu atmosfer dan iklim di University of Washington, dikutip dari Phys, Rabu (23/9/2026).

Baca juga: Kucuran Dana Bank untuk Bahan Bakar Fosil Naik 8 Persen Pada 2025

Pemanasan yang bertahan lama

Jika emisi gas rumah kaca dihentikan secara drastis besok, kondisi lingkungan tidak akan langsung kembali seperti sedia kala. Perusahaan-perusahaan penghasil emisi karbon terbesar telah melepaskan lebih dari satu triliun ton karbon dioksida ke udara.

Sebagian besar gas ini akan tetap tersimpan di atmosfer dan terus memerangkap panas hingga ribuan tahun.

Bahkan jika kita berhenti total menghasilkan emisi sekarang, suhu bumi akan tetap bertahan pada kisaran 1,5 derajat Celsius lebih panas dibanding era sebelum industri.

"Pemanasan iklim akan terus terjadi sampai kita benar-benar menghentikan emisi bahan bakar fosil. Satu-satunya masa depan yang stabil adalah masa depan tanpa pembakaran bahan bakar fosil sama sekali," tegas Frierson.

Untuk sampai pada kesimpulan ini, para peneliti menyimulasikan iklim global hingga tahun 2500 menggunakan model komputer FaIR (Finite Amplitude Impulse Response). Simulasi dilakukan pada dua skenario emisi yaitu rendah dan tinggi, baik yang memperhitungkan emisi carbon majors hingga tahun 2024 maupun yang tidak.

Dalam skenario masa depan dengan emisi yang dibatasi, perusahaan-perusahaan karbon terbesar ini bertanggung jawab atas porsi kenaikan suhu bumi yang lebih dominan di atas tingkat pra-industri.

Sebaliknya, pada skenario emisi tinggi di mana pembakaran bahan bakar fosil terus berlanjut tanpa kendali bumi menjadi jauh lebih panas seiring melonjaknya emisi.

Dalam skenario paling ekstrem, emisi masa depan memang menyumbang porsi pemanasan yang lebih besar. Namun, total dampak kenaikan suhu yang dihasilkan oleh carbon majors dari masa lalu nilainya tetap sama besarnya.

"Besarnya pemanasan tersebut dapat dihitung secara pasti dan tidak bergantung pada emisi di masa depan," kata Frierson.

"Jika kelak ada keputusan hukum mengenai tanggung jawab ganti rugi, beban tanggung jawab tersebut tidak hanya berlaku saat ini, tetapi akan terus berlanjut hingga bertahun-tahun ke depan," katanya lagi.

Baca juga: Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen

Tanggung jawab atas bencana di masa depan

Hubungan antara gas rumah kaca dan pemanasan global sebenarnya bukanlah hal baru. Ilmuwan bahkan sudah memahami risiko ini sejak puluhan tahun lalu.

Berbagai upaya untuk menuntut tanggung jawab para penyumbang emisi berpatokan pada tuduhan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut sebenarnya sudah tahu risikonya, namun sengaja menyembunyikannya dari publik bahkan menggunakan taktik menyesatkan untuk menyebarkan informasi keliru.

Studi baru ini menunjukkan bahwa gas yang dilepaskan oleh para penyumbang emisi utama, baik dari proses penambangan maupun pembakaran bahan bakar fosil, juga bisa menjadi penyebab bencana yang bahkan belum terjadi. Emisi dari masa lalu terus memerangkap panas, sehingga meningkatkan risiko terjadinya bencana di masa depan.

"Itu mengapa sangat penting untuk pengambilan keputusan terkait bahan bakar fosil saat ini. Produksi bahan bakar fosil di masa depan akan memperparah bencana iklim hingga puluhan tahun mendatang, sehingga pertarungan hukum baru mengenai siapa yang harus bertanggung jawab diperkirakan akan terus berlanjut selama bertahun-tahun," tambah Frierson.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau