KOMPAS.com - Studi baru dari University of Washington membuktikan bahwa emisi masa lalu dari perusahaan-perusahaan penghasil emisi karbon terbesar (carbon majors) akan terus merusak lingkungan kita hingga puluhan tahun ke depan.
Carbon majors sendiri merupakan 178 produsen minyak, gas, batu bara dan semen terbesar di dunia. Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah PLOS Climate.
Temuan-temuan ini kemudian bisa menjadi landasan bagi makin banyaknya tuntutan hukum untuk menuntut tanggung jawab para penyumbang emisi besar atas korban jiwa dan kerugian yang terjadi akibat bencana iklim.
"Kita tahu bahwa emisi bahan bakar fosil telah menyebabkan pemanasan bumi yang signifikan dan dampaknya makin nyata. Namun pertanyaannya: Berapa lama pemanasan ini akan terus berlanjut di masa depan?" ujar Dargan Frierson, dosen asosiasi ilmu atmosfer dan iklim di University of Washington, dikutip dari Phys, Rabu (23/9/2026).
Baca juga: Kucuran Dana Bank untuk Bahan Bakar Fosil Naik 8 Persen Pada 2025
Jika emisi gas rumah kaca dihentikan secara drastis besok, kondisi lingkungan tidak akan langsung kembali seperti sedia kala. Perusahaan-perusahaan penghasil emisi karbon terbesar telah melepaskan lebih dari satu triliun ton karbon dioksida ke udara.
Sebagian besar gas ini akan tetap tersimpan di atmosfer dan terus memerangkap panas hingga ribuan tahun.
Bahkan jika kita berhenti total menghasilkan emisi sekarang, suhu bumi akan tetap bertahan pada kisaran 1,5 derajat Celsius lebih panas dibanding era sebelum industri.
"Pemanasan iklim akan terus terjadi sampai kita benar-benar menghentikan emisi bahan bakar fosil. Satu-satunya masa depan yang stabil adalah masa depan tanpa pembakaran bahan bakar fosil sama sekali," tegas Frierson.
Untuk sampai pada kesimpulan ini, para peneliti menyimulasikan iklim global hingga tahun 2500 menggunakan model komputer FaIR (Finite Amplitude Impulse Response). Simulasi dilakukan pada dua skenario emisi yaitu rendah dan tinggi, baik yang memperhitungkan emisi carbon majors hingga tahun 2024 maupun yang tidak.
Dalam skenario masa depan dengan emisi yang dibatasi, perusahaan-perusahaan karbon terbesar ini bertanggung jawab atas porsi kenaikan suhu bumi yang lebih dominan di atas tingkat pra-industri.
Sebaliknya, pada skenario emisi tinggi di mana pembakaran bahan bakar fosil terus berlanjut tanpa kendali bumi menjadi jauh lebih panas seiring melonjaknya emisi.
Dalam skenario paling ekstrem, emisi masa depan memang menyumbang porsi pemanasan yang lebih besar. Namun, total dampak kenaikan suhu yang dihasilkan oleh carbon majors dari masa lalu nilainya tetap sama besarnya.
"Besarnya pemanasan tersebut dapat dihitung secara pasti dan tidak bergantung pada emisi di masa depan," kata Frierson.
"Jika kelak ada keputusan hukum mengenai tanggung jawab ganti rugi, beban tanggung jawab tersebut tidak hanya berlaku saat ini, tetapi akan terus berlanjut hingga bertahun-tahun ke depan," katanya lagi.
Baca juga: Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen
Hubungan antara gas rumah kaca dan pemanasan global sebenarnya bukanlah hal baru. Ilmuwan bahkan sudah memahami risiko ini sejak puluhan tahun lalu.
Berbagai upaya untuk menuntut tanggung jawab para penyumbang emisi berpatokan pada tuduhan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut sebenarnya sudah tahu risikonya, namun sengaja menyembunyikannya dari publik bahkan menggunakan taktik menyesatkan untuk menyebarkan informasi keliru.
Studi baru ini menunjukkan bahwa gas yang dilepaskan oleh para penyumbang emisi utama, baik dari proses penambangan maupun pembakaran bahan bakar fosil, juga bisa menjadi penyebab bencana yang bahkan belum terjadi. Emisi dari masa lalu terus memerangkap panas, sehingga meningkatkan risiko terjadinya bencana di masa depan.
"Itu mengapa sangat penting untuk pengambilan keputusan terkait bahan bakar fosil saat ini. Produksi bahan bakar fosil di masa depan akan memperparah bencana iklim hingga puluhan tahun mendatang, sehingga pertarungan hukum baru mengenai siapa yang harus bertanggung jawab diperkirakan akan terus berlanjut selama bertahun-tahun," tambah Frierson.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya