Penulis
KOMPAS.com - Edukasi mengenai lingkungan sering kali berhenti pada wacana teoritis di dalam kelas. Padahal, membentuk karakter generasi muda sadar akan dampak konsumsi membutuhkan pendekatan menyentuh kebiasaan harian mereka, seperti aktivitas jajan di sekolah.
Ketika anak-anak diajarkan memahami hubungan antara apa yang mereka konsumsi dan sampah kemasan yang dihasilkan, kebiasaan memilah sampah bukan lagi sebatas kewajiban, melainkan tumbuh menjadi bagian dari kesadaran sosial.
Langkah inilah yang diusung melalui perluasan gerakan edukatif "Bijak Jajan Cinta Bumi 2026".
Setelah sebelumnya menjangkau lebih dari 20.000 siswa di Surakarta, program ini kini hadir di Kabupaten Sumedang, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dengan target 23.000 penerima manfaat di 30 sekolah lintas tingkatan SD hingga SMA/SMK (25/9/2026).
Peresmian gerakan ditandai di SD Negeri (SDN) Tegalkalong, Kabupaten Sumedang, melalui kolaborasi bersama pemerintah daerah setempat.
Program ini membawa tiga pilar edukasi utama: pemilihan jajanan yang aman dan bergizi, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta pengelolaan sampah kemasan secara bertanggung jawab lewat metode simulasi dan permainan interaktif.
Head of Corporate Communication and External Relations Garudafood, Dian Astriana, menegaskan pentingnya intervensi kebiasaan sejak usia sekolah sebagai investasi masa depan.
"Bijak Jajan Cinta Bumi merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatan diri generasi muda dan kelestarian lingkungan. Kami percaya, kebiasaan baik yang ditanamkan sejak dini di bangku sekolah akan tumbuh menjadi budaya yang mengakar kuat di masa depan," ujar Dian.
Sinergi antara sektor usaha dan edukasi publik ini mendapat sambutan positif dari pemerintah daerah. Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menilai pendampingan mengenai literasi jajanan dan pemilahan limbah menjadi instrumen penting pembentukan karakter siswa.
"Kami mengapresiasi inisiatif Garudafood yang menghadirkan program edukasi seperti ini di Sumedang. Pendidikan mengenai jajanan sehat dan pengelolaan sampah adalah bagian penting dari upaya kami membentuk generasi muda Sumedang yang tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan," jelasnya.
Guna memastikan praktik pemilahan sampah berjalan secara konsisten, fasilitas penunjang berupa Dropbox Sampah Kemasan (DSK) khusus limbah kertas dan plastik mulai ditempatkan di area sekolah.
Penyerahan unit DSK secara simbolis dilakukan Dian Astriana kepada Kepala SDN Tegalkalong, Siti Masitoh, disaksikan langsung oleh Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir serta Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Eka Ganjar Kurniawan.
Seluruh sampah yang terkumpul nantinya diangkut dan diolah secara bertanggung jawab melalui kemitraan dengan pengelola limbah profesional. Menariknya, unit DSK yang disediakan juga berfungsi sebagai alat peraga pendidikan sirkular.
Setiap unit fasilitas tersebut diproduksi dari material daur ulang Multilayer Plastic (MLP). Pembuatan satu unit DSK memanfaatkan sekitar 42 kilogram sampah plastik pascakonsumsi, sehingga total 30 unit yang disebar diperkirakan menyerap lebih dari 1,2 ton limbah MLP.
Melalui integrasi ini, para siswa dapat melihat secara langsung bagaimana sampah kemasan yang dipilah dapat bertransformasi kembali menjadi barang berdaya guna.
Kepala SDN Tegalkalong, Siti Masitoh, menyampaikan bahwa metode belajar yang aplikatif ini memudahkan anak-anak dalam mengadopsi pola hidup bersih. "Kami menyambut sangat baik gerakan Bijak Jajan Cinta Bumi ini.
Program ini membantu kami menanamkan kebiasaan jajan sehat dan cinta lingkungan kepada siswa dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami. Kami berharap semangat ini terus dibawa anak-anak hingga ke rumah dan lingkungan sekitar mereka," ungkap Siti Masitoh.
Baca juga: Sambil Tunggu Hibah dari Jakarta, Pemkot Bogor Bakal Beli 5 Truk Sampah pada 2027
Guna memperkuat partisipasi siswa, kegiatan ini juga dilengkapi dengan kompetisi kreasi daur ulang serta lomba poster mini.
Penanaman kebiasaan memilah sampah sejak dini ini diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah, melainkan membentuk gaya hidup berkelanjutan yang terbawa hingga ke rumah dan komunitas masyarakat yang lebih luas.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya