Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dituduh Manipulasi Pasar Batu Bara lewat ESG, BlackRock Melawan

Kompas.com, 27 Mei 2025, 13:40 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com - Perusahaan investasi raksasa BlackRock membela diri dengan tegas terhadap tuduhan bahwa mereka memanipulasi pasar batu bara melalui investasi ESG, menganggap tuduhan tersebut sebagai tuduhan yang tidak beralasan dan tidak logis.

Respons ini dikeluarkan setelah Departemen Kehakiman AS dan Komisi Perdagangan Federal mengeluarkan pernyataan dukungan terhadap gugatan hukum yang diajukan oleh beberapa negara bagian yang dipimpin Texas.

Gugatan yang dikeluarkan oleh Jaksa Agung Texas Ken Paxton dan diikuti oleh 10 negara bagian Republik lainnya pada akhir tahun 2024 ini menuduh bahwa BlackRock, Vanguard, dan State Street, melalui kepemilikan saham yang besar, sengaja menekan perusahaan-perusahaan batu bara untuk mengurangi produksi demi tujuan energi bersih mereka, yang pada gilirannya menyebabkan kenaikan harga energi bagi masyarakat AS.

Baca juga: IEA: Emisi Metana Tambang Batu Bara Indonesia Terbesar Ketiga Dunia

Seperti diberitakan ESG Today, Jumat (23/5/2025), pengurangan produksi bata bara ini dilakukan dengan bergabung dalam inisiatif seperti Net Zero Asset Managers Initiative (NZAM) dan Climate Action 100+ dengan mencatat bahwa setiap inisiatif memerlukan komitmen dari para manajer aset untuk terlibat dengan perusahaan-perusahaan portofolio agar selaras dengan tujuan-tujuan iklim.

Dengan tindakannya itu, BlackRock dituduh melanggar Undang-Undang Clayton karena mengurangi persaingan dan akhirnya merugikan konsumen melalui kenaikan harga energi sehingga komitmen ESG ini bukan sekadar investasi yang bertanggung jawab, melainkan sebuah strategi anti-persaingan.

Meskipun BlackRock dan manajer aset lainnya mungkin telah mencoba menjauhkan diri dari inisiatif iklim yang menjadi fokus gugatan, pihak penggugat berargumen bahwa tindakan tersebut tidak menghilangkan dasar tuduhan mereka.

Mereka percaya bahwa dampak anti-persaingan dari kepemilikan saham besar yang dimiliki manajer aset tersebut di perusahaan batu bara masih ada, terlepas dari apakah mereka masih secara aktif berpartisipasi dalam inisiatif iklim formal.

Ketua Komisi Perdagangan Federal (FTC), Andrew Ferguson, mengatakan bahwa para manajer aset telah menghalangi produksi batu bara Amerika dan menakut-nakuti atas nama perubahan iklim. Sementara tujuan utama mereka adalah untuk mendapatkan keuntungan finansial sendiri dengan mengorbankan konsumen AS.

Baca juga: Dua Sisi Gasifikasi Batu Bara

"Kami tidak akan ragu untuk menentang perusahaan keuangan yang kuat yang menggunakan tabungan pensiun warga Amerika untuk merugikan persaingan dengan kedok ESG," kata Asisten Jaksa Agung DOJ Abigail A. Slater.

Dalam tanggapannya, BlackRock berpendapat bahwa dukungan Departemen Kehakiman AS (DOJ) dan Komisi Perdagangan Federal (FTC) untuk kasus yang tak berdasar ini merusak tujuan Pemerintah Trump untuk kemandirian energi Amerika.

Di sisi lain FTC dan DOJ mengatakan bahwa tujuan mereka adalah untuk melindungi pasar dari perilaku anti persaingan yang menaikkan tagihan energi warga AS.

State Street manajer aset lain yang digugat juga mengeluarkan pernyataan yang sama bahwa gugatan yang menuduh mereka memanipulasi pasar batu bara melalui investasi ESG adalah tidak berdasar.

Mereka menekankan bahwa tindakan mereka selalu didorong oleh tujuan finansial untuk memaksimalkan keuntungan investor, bukan oleh motif anti-persaingan atau ideologi tertentu.

Sementara Vanguard juga menyanggah gugatan tersebut dengan argumen bahwa interpretasi hukumnya keliru dan berpotensi merugikan investor individu. Mereka menegaskan kembali komitmen mereka untuk melindungi dan memajukan keuntungan investasi jangka panjang bagi klien mereka.

Baca juga: Trump Batalkan Penghentian Proyek Tenaga Angin Raksasa di New York

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau