Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bioteknologi Kurangi Emisi Pertanian, Selamatkan 231 Juta Hektar Lahan

Kompas.com, 20 Juni 2025, 14:04 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Peneliti Pusat Riset Teknologi Pengujian dan Standar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Prasetya, mengatakan bahwa salah satu manfaat bioteknologi pada tanaman pangan terhadap lingkungan adalah kemampuannya menurunkan emisi hingga 23 miliar kilogram CO2, berdasarkan hasil penelitian global tahun 2018.

Menurut Bambang, penurunan emisi tersebut terjadi karena efisiensi penggunaan lahan dalam pengembangan tanaman bioteknologi. Bioteknologi memungkinkan peningkatan hasil panen tanpa perlu perluasan lahan secara besar-besaran.

Beberapa jenis tanaman bioteknologi dapat tumbuh di lahan marginal yang sebelumnya tidak bisa dimanfaatkan, membuka potensi lahan baru dan berfungsi sebagai penyerap karbon.

“Berdasarkan penelitian yang sama, penggunaan bioteknologi ini mampu menyelamatkan 231 juta hektar lahan agar tetap menjadi kawasan hijau dan menjalankan fungsinya sebagai penyerap karbon di 71 negara yang mengadopsi bioteknologi tanaman pangan,” jelas Bambang dalam acara Media Class 2025 bertajuk “The Science Behind: Food Security” di Jakarta, Kamis (19/6/2025).

Baca juga: Hemat Pestisida dan Lahan, Tanaman Bioteknologi Dukung Keberlanjutan

Ia menambahkan, dari 1996 hingga 2018, 71 negara yang telah menerapkan teknologi ini mengalami peningkatan hasil produksi sebesar 822 juta ton, setara dengan nilai pendapatan sebesar 221 miliar dolar AS.

Pada aspek efisiensi input pertanian, variasi tanaman bioteknologi yang tahan terhadap hama dan gulma juga berkontribusi besar. Sepanjang periode yang sama, penggunaan pestisida dan bahan kimia lainnya berhasil dihemat hingga 776 kilogram.

“Selain itu, bioteknologi tanaman pangan ini telah mengentaskan kemiskinan sekitar 16–17 juta orang di negara berkembang yang menjadi bagian dari penelitian tersebut,” ujar Bambang.

Ia menjelaskan bahwa berbagai variasi bioteknologi tanaman pangan juga berperan dalam mengatasi tantangan ketahanan pangan akibat iklim yang tidak menentu, curah hujan tinggi, kekeringan, maupun serangan penyakit tanaman.

Salah satu contoh adalah tebu PRG N X1 4T yang dirancang untuk tahan terhadap kekeringan. Tanaman tersebut diuji coba pada tahun 2023 di Jawa Timur.

“Saat itu, warga yang terlibat dalam uji coba mengatakan bahwa tebu tetap tumbuh hijau dan segar dibandingkan dengan tebu biasa,” ujar Bambang.

Baca juga: Bioteknologi Jagung, Peluang Indonesia Jawab Masalah Ketahan Pangan

Contoh lainnya adalah jagung tahan kekeringan yang diuji pada tahun 2020. Hasilnya menunjukkan ukuran jagung yang lebih besar dan biji yang utuh, dibandingkan dengan jagung biasa yang cenderung kecil dan tidak utuh.

“Bioteknologi tanaman pangan ini merupakan solusi untuk mewujudkan ketahanan pangan dan keberlanjutan pertanian yang ramah lingkungan,” tegasnya.

Meski demikian, Bambang mengakui bahwa tantangan terbesar terletak pada proses pengembangannya yang memakan waktu panjang. Bioteknologi tanaman pangan harus melalui berbagai tahap uji untuk memastikan keamanan bagi manusia, hewan dan lingkungan.

“Waktu yang diperlukan sekitar 12–13 tahun untuk mengembangkan bioteknologi ini. Kami mulai pada tahun 2011 untuk berbagai macam tanaman seperti jagung, tebu, dan kedelai, dan baru bisa diuji coba sekitar dua tahun terakhir,” ujarnya.

Namun, dengan mempertimbangkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang telah terbukti, Bambang menekankan bahwa inovasi bioteknologi tetap harus dikembangkan sebagai upaya menuju ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Baca juga: Emisi Kapal Turun jika Temukan Jalur Pelayaran Baru yang Efisien

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau