Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Transisi Energi Terbarukan yang Adil Tingkatkan PDB Global 21 Persen

Kompas.com, 6 Juli 2025, 12:02 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Jika dunia secara cepat beralih ke energi terbarukan dan pada saat yang sama mengatasi masalah kemiskinan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka akan ada penghematan besar di sektor energi global yang bisa mencapai 20 triliun dolar AS.

Selain itu juga ekonomi global diperkirakan bakal tumbuh secara substansial sebesar 21 persen pada tahun 2060.

Kesimpulan itu merupakan hasil temuan studi baru dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), Octopus Energy, dan Pardee Institute di Universitas Denver.

Mengutip Edie, Sabtu (5/7/2025), studi mencatat jika tidak ada perubahan signifikan terhadap kebijakan nasional di berbagai negara maka bahan bakar fosil akan terus menyumbang lebih dari separuh (51,2 persen) produksi energi primer pada tahun 2060.

Produksi energi primer adalah total energi yang diekstrak atau dipanen langsung dari alam.

Jadi, proyeksi ini menunjukkan bahwa, meski ada dorongan untuk energi terbarukan, kita masih akan sangat bergantung pada bahan bakar fosil bahkan hingga tahun 2060 bila tidak ada perubahan kebijakan.

Hal tersebut akan menyebabkan intensitas energi tetap tinggi.

Baca juga: Transisi Energi di Kepulauan, Infrastruktur dan Insentif Kunci Suksesnya

Intensitas energi ini merupakan ukuran seberapa banyak energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit Produk Domestik Bruto.

Artinya, jika intensitas energi tinggi maka suatu negara atau ekonomi membutuhkan banyak energi untuk menghasilkan kekayaan atau output ekonomi, menunjukkan pemborosan atau kurangnya efisiensi energi secara keseluruhan.

Sementara itu, kendala infrastruktur jaringan, yang disebabkan oleh kurangnya investasi dan sistem perencanaan yang ketinggalan zaman, akan menghambat penyerapan energi terbarukan dan merusak akses energi universal.

Padahal, emisi yang dihasilkan dari sektor listrik, transportasi, industri, dan bangunan saja akan menyebabkan tingkat pemanasan global yang akan melampaui batas Perjanjian Paris, membahayakan kehidupan dan merusak kemajuan dalam akses energi, pendidikan, air bersih, sanitasi, dan gizi.

Akan tetapi laporan ini juga menjelaskan apa yang akan terjadi jika upaya untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan seperti tenaga angin, surya, dan panas bumi dibarengi dengan perubahan kebijakan untuk meningkatkan mata pencarian dan kesejahteraan.

Apa yang bisa disimpulkan adalah sangat mungkin untuk memangkas separuh intensitas energi dan mengurangi pangsa bahan bakar fosil dalam produksi primer menjadi 11,5 persen pada tahun 2060.

Pengurangan intensitas energi akan dipimpin oleh negara-negara berpenghasilan tinggi, yang lebih dari cukup untuk mengkompensasi peningkatan permintaan dan intensitas energi seiring dengan berkembangnya negara-negara lain.

Jika skenario ini dijalankan, total akumulasi uang yang bisa dihemat secara global hingga tahun 2060 adalah 20,4 triliun dolar AS dibandingkan terus-menerus menggunakan pendekatan yang bergantung pada bahan bakar fosil.

Rincian penghematan menurut studi yakni sebesar 8,9 triliun dolar AS yang didapat dari penggunaan energi yang lebih efisien di berbagai sektor serta teknologi yang lebih hemat energi.

Lalu sebesar 11,5 triliun dolar AS yang berasal dari biaya energi terbarukan yang lebih rendah.

Rincian tersebut belum termasuk biaya yang dapat dihindari dari risiko dampak negatif dari perubahan iklim.

Dengan beralih ke energi terbarukan dan mengurangi emisi, kita dapat mengurangi keparahan risiko-risiko tersebut sehingga menghindari biaya-biaya besar yang seharusnya akan ditanggung.

Baca juga: Transisi Energi Indonesia: Hijau dalam Narasi, Abu-abu dalam Praktik

Lebih lanjut, laporan menunjukkan pula meskipun transisi energi merupakan langkah krusial untuk mengatasi perubahan iklim dan menciptakan sistem energi yang berkelanjutan, itu bukanlah satu-satunya solusi untuk semua masalah dunia.

Agar pembangunan manusia benar-benar maju diperlukan intervensi dan kebijakan tambahan di luar hanya berfokus pada sektor energi. Transisi energi harus diintegrasikan dengan strategi pembangunan sosial dan ekonomi yang lebih komprehensif.

Untuk mencapai manfaat penuh tersebut, studi menyebut perlu beberapa hal seperti reformasi tata kelola yang lebih baik, pajak karbon progresif untuk negara berpendapatan tinggi dan menengah ke atas, serta Investasi pelengkap dalam infrastruktur, pendidikan, kesehatan, keluarga berencana, serta penelitian dan pengembangan (R&D).

“Saat ini, dunia menghadapi tantangan ganda: memajukan kesejahteraan manusia sambil mengurangi dampak lingkungan dari pembangunan yang didorong oleh bahan bakar fosil,” kata direktur global perubahan iklim UNDP, Cassie Flynn.

“Studi ini menunjukkan kepada kita bahwa masa depan energi bersih itu mungkin, tetapi kita harus memilih untuk menanamkan ambisi energi terbarukan ke dalam rencana iklim yang terkait dengan kebijakan pembangunan yang inklusif,” tambahnya.

Baca juga: Google Bilang Target Iklim Makin Sulit Diraih, Emisi Naik Tajam

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau