Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

MethaneSAT Hilang di Angkasa, Pemantauan Emisi Metana di Ujung Tanduk

Kompas.com, 7 Juli 2025, 15:00 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Hilangnya satelit MethaneSAT senilai 88 juta dolar AS yang digunakan untuk mendeteksi emisi gas metana dari industri minyak dan gas menjadi pukulan bagi upaya transparansi dan pengawasan emisi global.

Satelit ini didukung oleh Jeff Bezos dan dioperasikan bersama dengan Environmental Defense Fund (EDF).

Sejak Maret 2024, MethaneSAT telah mengumpulkan data emisi dan citra dari lokasi pengeboran, jaringan pipa, hingga fasilitas pengolahan di berbagai belahan dunia.

Proyek ini juga bekerja sama dengan Google untuk menyusun peta emisi global yang dapat diakses publik. MethaneSAT dinilai mampu memberikan data yang lebih rinci dan akurat dibanding satelit pemantau lainnya.

Namun sekitar 10 hari lalu, satelit tersebut keluar dari jalur dan kehilangan daya. Lokasi terakhirnya terdeteksi di atas wilayah Svalbard dan Norwegia. EDF menyatakan kemungkinan besar satelit tidak dapat dipulihkan.

"Kami menganggap ini sebagai kemunduran, bukan kegagalan," ujar Amy Middleton, Wakil Presiden Senior EDF, dikutip dari Reuters, Senin (7/7/2025).

Ia menegaskan bahwa pihaknya telah banyak belajar dari proyek ini. Jika tidak berani ambil risiko, maka mereka takkan mendapatkan pengetahuan tersebut.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, Jumlah Satelit yang Mengorbit Berkurang

Gas metana merupakan gas rumah kaca yang sangat kuat, dengan kemampuan memanaskan bumi 80 kali lebih besar dibanding karbon dioksida dalam periode 20 tahun. Ilmuwan menyebut menutup kebocoran dari sumur dan peralatan minyak-gas sebagai salah satu cara tercepat untuk mengatasi pemanasan global.

MethaneSAT sendiri merupakan bagian dari kampanye EDF untuk memantau pelaksanaan janji lebih dari 120 negara yang pada 2021 menyatakan komitmen mengurangi emisi metana.

Satelit ini juga ditujukan untuk menindaklanjuti kesepakatan 50 perusahaan minyak dan gas dalam KTT Iklim COP28 di Dubai, Desember 2023, yang berjanji menghentikan emisi metana dan praktik pembakaran gas secara rutin.

Saat ini, EDF telah melaporkan hilangnya satelit kepada sejumlah lembaga federal Amerika Serikat, termasuk Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), Komisi Komunikasi Federal (FCC), dan Angkatan Luar Angkasa AS.

Meskipun belum ada kepastian mengenai peluncuran satelit pengganti, EDF menyatakan akan tetap memanfaatkan sumber daya lainnya, seperti pesawat yang dilengkapi alat pendeteksi metana, untuk melanjutkan pengawasan kebocoran gas.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, Jumlah Satelit yang Mengorbit Berkurang

Menanggapi kejadian ini, Ember Energy menyatakan kekecewaannya. Mereka menilai hilangnya satelit pemantau dapat memperlemah pengawasan terhadap salah satu sumber emisi gas rumah kaca yang besar namun tersembunyi itu.

“Ini adalah kemunduran yang mengecewakan. Karena emisi metana dari tambang batu bara sering kali tidak dilaporkan atau diabaikan, kita justru membutuhkan lebih banyak, bukan lebih sedikit alat untuk mendeteksi dan memantau emisi ini,” ujar Dr Sabina Assan, senior analyst coal mine methane di Ember kepada Kompas.com.

Menurutnya, satelit merupakan salah satu dari sedikit cara yang bisa diandalkan untuk melacak ancaman tersembunyi ini secara independen.

Kekhawatiran ini juga muncul di tengah berkurangnya tekanan terhadap para pihak penyumbang emisi besar, menyusul langkah Presiden AS Donald Trump yang menghentikan program pelaporan emisi dan mencabut aturan era Biden yang bertujuan membatasi emisi metana dari industri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau