JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Yayasan Sintas Indonesia, Hariyo Wibisono, mengungkapkan bahwa populasi harimau di Indonesia saat ini turun 10 persen dari 2008 - 2017 berdasarkan data International Union for Conservation of Nature Red List.
Populasi hewan dilindungi itu diperkirakan tak lebih dari 400 ekor. Hariyo menyebut, menurunnya populasi harimau karena degradasi lahan hingga aktivitas masyarakat sekitar.
"Terlibat juga berkait dengan aktivitas masyarakat di dalam kawasan, misalnya memasang jerat babi hutan, yang mungkin tidak ditujukan untuk harimau tetapi terbukti ada beberapa jerat babi hutan sangat mematikan untuk harimau," ujar Hariyo saat dihubungi, Senin (28/7/2025).
Baca juga: Melihat Harimau sebagai Bagian dari Kearifan Lokal Masyarakat Sumatra
Tantangan lainnya ialah perburuan, dan perdagangan bagian tubuh harimau. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut menjadi catatan penting bagi berbagai pihak untuk melindungi populasi harimau. Di Riau, misalnya, karhutla kerap disebabkan pembukaan lahan dan memicu hilangnya habitat asli harimau.
"Dampaknya seperti apa pasti ada dampaknya, cuman memang sayangnya sampai saat ini belum ada yang secara saintifik mengukur dampaknya. Tetapi, secara teoretikal kan pasti berdampak," jelas dia.
Dia menyebut, sejumlah langkah konservasi seperti patroli pintar, mitigasi konflik antara harimau dengan manusia, serta pencegahan perburuan dan perdagangan ilegal telah dilakukan di berbagai lanskap utama habitatnya.
Pemantauan harimau sumatera gencar dilakukan oleh Kementerian Hutan serta melibatkan organisasi non pemerintah.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat dan Yayasan SINTAS Indonesia sempat melakukan sumatra-wide tiger survey (SWTS). Tujuannya, melindungi populasi harimau sumatera dan habitatnya.
"Hanya mungkin memang karena masifnya tantangan ya. Mungkin upaya-upaya tersebut juga pasti perlu diperkuat ya di samping ada faktor-faktor yang mungkin dulu kita tidak antisipasi karena memang belum muncul seperti penyakit CDV (canine distemper virus) ada juga yang menyerang harimau," tutur Hariyo.
Baca juga: Harimau Mangsa Ternak di Aceh Tenggara, Tim Gabungan Intensifkan Patroli
"Ada juga tahun 2020-an yang bebarengan dengan Covid terindikasi ada african swine fever yang menyerang babi hutan, indikasi di lapangan menunjukkan penyakit tersebut menyerang mangsa harimau utamanya babi hutan," imbuh dia.
Di samping itu, beberapa praktisi menyoroti pentingnya pembangunan koridor satwa liar untuk menghubungkan habitat-habitat yang terfragmentasi akibat pembangunan infrastruktur. Upaya ini dinilai krusial untuk spesies berukuran besar seperti harimau dan gajah yang memiliki area jelajah sangat luas.
"Karena upaya konservasi satwa liar utamanya yang berukuran besar dan jelajahnya luas membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit ya. Jadi itu mungkin perlu dijadikan catatan untuk ke depannya," sebut Hariyo.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya