Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belum Mulai, COP30 Sudah Dilanda Drama Hotel Rp 70 Juta per Malam

Kompas.com, 5 Agustus 2025, 11:24 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Penulis

KOMPAS.com - Setiap tahun, para pemimpin dunia berkumpul untuk membahas strategi mengatasi perubahan iklim lewat Conference of Parties (COP), digelar oleh United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). 

Tahun ini, COP yang ke 30 rencananya akan diadakan di Belem, sebuah kota di kawasan Amazon, Brasil.

Koneferensi kali ini penting bukan hanya karena dampak iklim semakin parah, tetapi juga karena digelar di kawasan hutan. Brasil sendiri sedang mengalami deforestasi parah tahun 2024.

Namun, alih-alih fokus pada urusan inti konferensi, perhatian banyak negara kini justru tertuju pada masalah logistik, seperti tiket penerbangan ke Belem dan terutama akomodasi yang super mahal.

Negara-negara berkembang memperingatkan bahwa mereka tidak mampu membayar harga akomodasi di Belem, yang melonjak hingga 10-15 kali lipat akibat kurangnya jumlah kamar dan tingginya permintaan.

Pekan lalu, perwakilan dari beberapa negara mendesak Brasil untuk memindahkan konferensi dari Belem dalam pertemuan darurat di biro iklim PBB, kata Correa do Lago.

Desakan tersebut merupakan puncak dari kekhawatiran yang terus disuarakan oleh anggota sekretariat UNFCCC kepada Brasil selama beberapa bulan terakhir terkait harga dan ketersediaan akomodasi di Belem.

UNFCCC sendiri telah memberi saran kepada Brasil untuk mempertimbangkan unuk memindahkan sebagian acara COP30, seperti bagian pidato para pemimpin dunia, ke luar Belem guna mengurangi tekanan harga akomodasi.

Baca juga: Tinggal 3 Tahun, Kita Kehabisan Waktu Atasi Krisis Iklim jika Tak Gerak Cepat

Brasil Menolak

Meski menerima banyak desakan, Brasil menolak untuk memindahkan lokasi konferensi yang rencananya akan digelar pada November 2025 nanti. 

Kekhawatiran negara peserta bukan hanya soal akomodasi. Mereka juga mempertanyakan apakah kamar-kamar yang ditawarkan kepada delegasi cukup berdekatan agar negosiasi dapat berjalan lancar, apakah tersedia cukup pilihan makanan, dan apakah bandara lokal mampu menampung lonjakan pengunjung.

Namun Brasil menegaskan bahwa persiapan konferensi masih berjalan sesuai rencana. Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur dari janjinya untuk “memperkenalkan hutan hujan Amazon kepada dunia” di COP30.

Pemerintahannya telah mengucurkan dana triliunan rupiah untuk meningkatkan infrastruktur di Belem demi menyambut konferensi tersebut, sekaligus membantu Gubernur Pará, Helder Barbalho, menarik investasi publik dan asing.

Sebagai sekutu politik lama, Barbalho membantu Lula menang di negara bagian Pará pada Pemilu 2022, dan akan menjadi tokoh penting dalam kampanye Lula tahun depan.

Lula dan Barbalho belum memberikan komentar atas permintaan dari media.

Brasil telah menawarkan 10 hingga 15 kamar kepada delegasi dari negara-negara yang dikategorikan sebagai paling tidak berkembang di dunia, dengan harga mencapai Rp3.520.000 per malam. 

Namun jumlah itu melebihi standar yang diberikan oleh PBB kepada diplomat negara-negara tersebut, yaitu sekitar Rp2.336.000 per hari untuk biaya akomodasi, makan, dan transportasi.

“Masalah infrastruktur,” Presiden COP 30 kata Andre Correa do Lago pada Jumat, “mengganggu momen yang seharusnya kita gunakan untuk membahas isu-isu substantif.”

Pada Jumat, Brasil membuka platform pemesanan untuk umum. Senin pagi, situs tersebut menunjukkan daftar tunggu hampir 2.000 orang. Namun, menurut laporan Reuters, harga kamar yang tercantum berkisar antara Rp 5.760.000 hingga Rp 70.400.000 per malam.

Baca juga: Pemerintah Godok NDC Iklim Kedua, Dipastikan Rampung Sebelum COP 30

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau