BrandzView
Konten ini merupakan Kerjasama Kompas.com dengan BPDP

Menilik Peran Sawit dalam Gaya Hidup Modern Berkelanjutan

Kompas.com, 6 Agustus 2025, 14:53 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

BOGOR. KOMPAS.com – Mulai dari menyantap sarapan, mengendarai kendaraan pribadi menuju bandara, hingga naik pesawat untuk perjalanan bisnis, setiap aktivitas sehari-hari terhubung erat dengan kelapa sawit.

Di sela-sela aktivitas itu, seseorang juga menggunakan sabun dan sampo serta mengonsumsi camilan kemasan.

Kelapa sawit yang selama ini dikenal luas sebagai bahan baku minyak goreng sejatinya memiliki kontribusi jauh melampaui dapur rumah tangga.

Di balik wujudnya yang sederhana, sawit menyimpan potensi besar sebagai pilar gaya hidup modern yang ramah lingkungan lantaran juga menjadi sumber energi yang lebih bersih.

"Sawit adalah sumber energi terbarukan yang sangat potensial. Dari satu tanaman, kita bisa mendapatkan beragam bentuk energi," ujar pakar surfaktan dan bioenergi di Surfactant and Bioenergy Research Center Institut Pertanian Bogor (IPB) Erliza Hambali saat ditemui di rumahnya di bilangan Bogor, Jawa Barat, Jumat (18/7/2025).

Ia merinci, salah satu bentuk energi itu adalah biodiesel B35. Seperti diketahui, program B35 resmi berlaku pada 1 Februari 2023.

Lewat B35, pemerintah memaksimalkan CPO untuk menghasilkan bahan bakar dengan campuran 35 persen biodiesel dengan 65 persen solar. Inisiatif ini merupakan bagian dari kebijakan energi nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus menghemat devisa.

Selain biodiesel, Indonesia juga tengah mengembangkan bioavtur, yakni bahan bakar pesawat terbang berbasis sawit.

Uji coba penerbangan dengan campuran bioavtur telah dilakukan oleh Garuda Indonesia dan PT Dirgantara Indonesia. Meski tantangan produksi dan biaya masih besar, langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia serius menjajaki energi terbarukan dari sawit hingga ke langit.

Tak hanya itu, limbah kelapa sawit, seperti palm oil mill effluent (POME), juga bisa diolah menjadi biogas yang dapat mengurangi emisi hingga 65 persen jika ditangani dengan baik.

“Bahkan, cangkang sawit tengah diteliti sebagai bahan pembuat biochar, yaitu bahan penyimpan energi yang dapat digunakan dalam baterai ponsel, laptop, dan mobil listrik,” terang Erliza.

Baca juga: Dari Desa ke Devisa, Menakar Peran Sawit untuk Negeri

Dengan beragam inovasi tersebut, kelapa sawit tak hanya menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga berkontribusi signifikan dalam menekan emisi karbon. Potensi ini sekaligus memperkuat peran sawit dalam mendukung pencapaian target net-zero emission (NZE) nasional.

Direktur Perencanaan, Penghimpunan, dan Pengembangan Dana BPDP Lupi Hartono mengatakan bahwa pihaknya tengah memperluas fokus dari sekadar penyerap CPO melalui biodiesel ke penguatan sektor hilir yang berbasis riset dan inovasi.

"Kami membiayai penelitian untuk produk bio-hydrocarbon fuel, bioplastik, bioavtur, bahkan helm dari tandan kosong sawit," kata Lupi dalam wawancara eksklusif di kantor BPDP Jakarta, Senin (28/7/2025).

Direktur Perencanaan, Penghimpunan, dan Pengembangan Dana BPDP Lupi Hartono. KOMPAS.com/ANINGTIAS JATMIKA Direktur Perencanaan, Penghimpunan, dan Pengembangan Dana BPDP Lupi Hartono.

Salah satu arah baru yang juga didorong BPDP adalah konversi limbah sawit menjadi produk hijau. Tandan kosong, misalnya, bisa diolah menjadi bioethanol, biomaterial, dan komposit teknis.

"Kami mendukung pilot project refinery untuk bio-hydrocarbon fuel dengan RON 110 dari minyak sawit," jelas Lupi.

Secara efisiensi, kelapa sawit juga unggul jauh ketimbang tanaman minyak lain, seperti kedelai, bunga matahari, atau jagung.

Satu hektare lahan sawit dapat menghasilkan minyak lebih banyak. Pohon sawit pun hanya perlu ditanam sekali untuk masa panen hingga 25 tahun. Biaya produksinya juga lebih murah.

“Sawit cocok dengan pola hidup kita (orang Indonesia) yang suka menggoreng dan membutuhkan minyak dalam jumlah besar. Tapi sekarang, sawit juga bisa menjadi solusi energi yang lebih hijau,” ucap Erliza.

Tak heran, Indonesia pun menjelma sebagai produsen sawit terbesar di dunia. Dari jumlah minyak sawit dunia yang telah tersertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sekitar 56 persen merupakan minyak sawit yang diproduksi dan berasal dari Tanah Air.

Mengatasi stigma dan tantangan industri sawit

Meski memiliki potensi besar, industri sawit tidak lepas dari sorotan negatif. Isu deforestasi, kerusakan lingkungan, dan ancaman keanekaragaman hayati kerap dikaitkan dengan perkebunan sawit.

Menurut Erliza, sebagian besar stigma ini berasal dari narasi yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan tertentu.

“Yang penting (narasi) itu (harus) basisnya data, bukan katanya. Edukasi publik harus dimulai dari fakta ilmiah, bukan opini dari media sosial,” tegasnya.

Baca juga: Dari Kebun ke Dapur, Ini Kisah Petani Swadaya Sawit dalam Rantai Pangan Indonesia

Dia tak menampik bahwa beberapa praktik perkebunan belum sepenuhnya berkelanjutan akibat lemahnya pengawasan, inkonsistensi kebijakan, dan ketidakpastian hukum.

Untuk itu, tata kelola yang kuat, regulasi yang adil, serta penegakan hukum yang konsisten menjadi syarat mutlak agar sawit bisa bertransformasi menjadi energi bersih yang bisa dibanggakan.

“Pemerintah juga perlu memastikan kepastian hukum dan regulasi yang tidak diskriminatif. Legalitas lahan, konsistensi izin, dan keadilan dalam penegakan hukum menjadi fondasi penting dalam tata kelola sawit berkelanjutan,” jelas Erliza.

Pakar surfaktan dan bioenergi di Surfactant and Bioenergy Research Center IPB Erliza HambaliKOMPAS.com/ANINGTIAS JATMIKA Pakar surfaktan dan bioenergi di Surfactant and Bioenergy Research Center IPB Erliza Hambali

Keberhasilan transformasi energi berbasis sawit juga sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Mulai dari petani, koperasi, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), mahasiswa, hingga media, semua harus dilibatkan.

Selain itu, komunitas kreatif pengolah limbah sawit dan industrialisasi hilir berbasis bioenergi bisa dikembangkan.

Sementara itu, dunia akademik tetap menjadi tulang punggung riset dan inovasi. IPB sendiri telah terlibat dalam pengembangan indikator keberlanjutan energi berbasis sawit bersama FAO sejak 2012. Hasilnya menunjukkan bahwa biodiesel sawit dapat dikategorikan berkelanjutan secara lingkungan ataupun sosial.

Erliza menilai, mengedukasi publik tentang sawit juga harus dilakukan dengan pendekatan baru—bukan hanya logika data, melainkan juga emosi.

“Kampanye sawit keren perlu digaungkan, terutama untuk generasi muda. Misalnya dengan narasi seperti ‘Baterai ponselmu tahan lama karena materialnya dari cangkang sawit’, ‘sate yang kamu makan dimasak dengan briket dari limbah sawit’, atau ‘pesawat yang kamu tumpangi bisa lebih hijau karena bioavtur dari sawit’,” ucap Erliza.

Menurutnya, dengan pendekatan yang relatable, publik akan lebih mudah menerima sawit sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bahkan sebagai simbol inovasi dan kebanggaan nasional.

“Gaya hidup modern tak harus bertentangan dengan prinsip keberlanjutan. Justru, dengan pendekatan yang tepat, sawit bisa menjadi kunci menuju masa depan energi hijau yang inklusif, mandiri, dan membanggakan,” kata Erliza.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau