Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Kekeringan pada Pohon Minim, tapi Perubahan Iklim Tingkatkan Angka Kematiannya

Kompas.com, 14 Agustus 2025, 16:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebuah studi mengungkapkan kondisi kekeringan hanya memberikan dampak minimal pada pohon-pohon tropis.

Tetapi, riset baru menunjukkan bahwa perubahan iklim kini mengancam keseimbangan ekosistem tersebut.

Temuan ini berdasarkan studi yang dipimpin oleh Wageningen University Belanda dan melibatkan University of Birmingham Inggris terhadap lebih dari 20.000 seri cincin pohon dari hampir 500 lokasi di 36 negara, dengan data yang dikumpulkan sejak tahun 1930.

Data cincin pohon dikumpulkan di 483 lokasi yang tersebar di seluruh wilayah tropis mulai dari hutan Amazon yang basah dan hangat, hingga hutan kering di Afrika bagian selatan dan hutan pegunungan yang lebih dingin di Asia.

Dalam studi ini, peneliti menentukan tahun-tahun terkering sejak 1930 untuk semua lokasi. Kemudian, mereka menghitung seberapa jauh cincin pohon menyempit selama tahun-tahun tersebut dibandingkan dengan tahun-tahun normal.

Baca juga: Melihat Desa Wisata Samtama, Warga Kelola Sampah hingga Tanam Pohon di Gang Sempit

Pohon menyerap CO2 dari atmosfer melalui proses fotosintesis. Sebagian dari CO2 ini disimpan di batang pohon selama puluhan tahun. Penyimpanan karbon jangka panjang di hutan tropis ini dapat membantu mitigasi perubahan iklim.

Akan tetapi pertumbuhan batang pohon biasanya melambat selama periode kekeringan, yang menyebabkan lebih sedikit CO2 yang tersimpan di dalam kayu.

“Hingga saat ini, kami tidak tahu seberapa jauh penurunan pertumbuhan batang pohon di hutan tropis selama kekeringan. Cincin pohon adalah alat yang sangat baik untuk mengukurnya, karena cincin itu menyimpan arsip pertumbuhan pohon selama abad terakhir," ungkap Profesor Pieter Zuidema dari Wageningen University & Research dan penulis utama studi.

"Dengan jaringan data cincin pohon yang baru ini, untuk pertama kalinya kami dapat menghitung dampak kekeringan terhadap pertumbuhan batang pohon di seluruh wilayah tropis,” katanya lagi.

Peneliti menghitung  secara rata-rata di seluruh wilayah tropis, pertumbuhan pohon menurun 2,5 persen selama tahun-tahun kekeringan dibandingkan dengan tahun-tahun dengan curah hujan normal atau di atas rata-rata. Penurunan pertumbuhan ini sebagian besar hilang di tahun setelah kekeringan.

Peneliti juga memperkirakan bahwa setiap tahun kekeringan dapat menyebabkan sekitar 0,1 persen kematian pohon tambahan, yang mengakibatkan emisi CO2 tambahan dari kayu mati yang membusuk.

Angka 0,1 persen ini mungkin terlihat tidak signifikan, tetapi jika dijumlahkan di seluruh wilayah tropis dunia, jumlah CO2 yang dilepaskan signifikan. Diperlukan waktu puluhan tahun sebelum jumlah tersebut dapat diserap kembali melalui pertumbuhan pohon.

Baca juga: Ikut Lestarikan Lingkungan, Peruri Serahkan Bibit Pohon ke Pemkab Karawang

Namun, para peneliti juga memperingatkan bahwa dampak kekeringan yang jauh lebih kuat di tingkat lokal akan memburuk seiring berjalannya perubahan iklim, dan kemungkinan besar telah menyebabkan meningkatnya tingkat kematian pohon.

“Kolaborasi penelitian global ini menunjukkan betapa tangguhnya pohon-pohon terhadap kondisi iklim. Pohon-pohon tropis ini telah bertahan dari kondisi kekeringan selama hampir 300 tahun dan menunjukkan kemampuan yang luar biasa untuk pulih dalam satu tahun setelah kekeringan,” kata Dr. Bruno B L Cintra dari University of Birmingham, salah satu penulis studi ini.

"Namun ada risiko nyata bahwa perubahan iklim dapat memengaruhi bagaimana pohon-pohon menjalankan peran protektifnya. Hal ini bisa memiliki dampak signifikan pada total emisi global," terangnya lagi, dikutip dari laman resmi University of Birmingham, Jumat (1/8/2025).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau