Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Reformasi Sistem Pangan Dunia Bisa Selamatkan Lahan Seluas 43 Juta Km Persegi

Kompas.com, 15 Agustus 2025, 15:09 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi baru yang dipublikasikan di jurnal Nature mengungkapkan reformasi besar-besaran pada sistem pangan global dapat membalikkan kerusakan lingkungan, menekan perubahan iklim, dan memulihkan keanekaragaman hayati pada pertengahan abad ini.

Sebuah tim yang terdiri dari 21 ilmuwan memperingatkan bahwa degradasi lahan sedang meningkat secara global, yang membawa konsekuensi serius bagi iklim, keanekaragaman hayati, dan ketahanan pangan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut mereka mengusulkan serangkaian reformasi yang, jika diterapkan, dapat memulihkan setengah dari lahan terdegradasi di dunia pada tahun 2050.

Melansir Down to Earth, Kamis (14/8/2025) untuk pertama kalinya, penelitian ini mengukur dampak gabungan dari pengurangan limbah makanan sebesar 75 persen dan pergeseran pola makan dari produk hewani yang butuh banyak lahan ke makanan laut yang berkelanjutan.

Baca juga: Pentingnya Pengelolaan Pangan Berkelanjutan di Tengah Gejolak Global

Menurut peneliti, gabungan tersebut bisa membebaskan lahan seluas 30 juta kilometer persegi. Dan jika upaya tersebut disandingkan dengan restorasi, total lahan yang bisa dilindungi atau dipulihkan dari tahun 2020 hingga 2050 mencapai 43,8 juta kilometer persegi.

“Tingkat degradasi lahan yang terus berlangsung berkontribusi pada serangkaian tantangan global yang semakin meningkat, termasuk ketidakamanan pangan dan air, relokasi paksa dan migrasi penduduk, kerusuhan sosial, dan ketidaksetaraan ekonomi,” kata rekan penulis Barron J Orr, Kepala Ilmuwan dari UNCCD.

Rekomendasi Peneliti

Lantas seperti apa rekomendasi peneliti untuk mengatasi degradasi lahan?

Rekomendasi pertama adalah memulihkan 13 juta kilometer persegi lahan, yang terdiri dari 3 juta kilometer persegi lahan pertanian dan 10 juta kilometer persegi lahan non-pertanian.

Pemulihan ini dilakukan melalui manajemen lahan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat adat, petani kecil, perempuan, dan komunitas rentan lainnya.

Subsidi pertanian harus dialihkan dari pertanian industri skala besar ke petani kecil yang berkelanjutan, dengan dukungan untuk akses teknologi, jaminan hak atas tanah, dan pasar yang adil.

Selain itu, sekitar 33 persen makanan saat ini terbuang. Dengan mengurangi limbah ini melalui berbagai kebijakan kita bisa menghemat lahan seluas sekitar 13,4 juta kilometer persegi.

Terakhir, daging merah dari produksi yang tidak berkelanjutan menggunakan lahan, air, dan pakan dalam jumlah besar, serta menghasilkan emisi gas rumah kaca yang tinggi.

Baca juga: Investasi Pompa Air Rp 1,7 Triliun untuk Pangan: Solusi atau Ancaman Baru?

Mengganti 70 persen daging merah ini dengan ikan, moluska, dan rumput laut yang bersumber secara berkelanjutan dapat membebaskan 17,1 juta kilometer persegi lahan padang rumput dan lahan pertanian.

Bahkan, mengganti 10 persen asupan sayuran dengan produk rumput laut saja bisa melepaskan lebih dari 0,4 juta kilometer persegi lahan.

Para penulis mencatat bahwa perubahan pola makan ini terutama relevan untuk negara-negara kaya dengan tingkat konsumsi daging yang tinggi, karena di beberapa wilayah miskin, produk hewani tetap penting untuk nutrisi.

“Makalah ini menyajikan serangkaian tindakan terpadu yang berani untuk mengatasi degradasi lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim secara bersamaan, serta jalur yang jelas untuk mengimplementasikannya pada tahun 2050,” kata penulis utama Fernando T. Maestre dari King Abdullah University of Science and Technology, Arab Saudi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau