Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Panel Surya Antariksa, Solusi 80 Persen Energi Terbarukan Eropa pada 2050

Kompas.com, 23 Agustus 2025, 20:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Sebuah studi menemukan bahwa panel surya di luar angkasa dapat memangkas kebutuhan energi terbarukan di daratan Eropa hingga 80 persen pada tahun 2050.

Menggunakan model komputer yang terperinci tentang jaringan listrik masa depan di benua tersebut, para peneliti menemukan bahwa sistem panel berbasis luar angkasa yang dirancang oleh NASA dapat mengurangi biaya seluruh sistem listrik Eropa hingga 15 persen.

Sistem ini juga bisa memangkas penggunaan baterai hingga lebih dari dua pertiga.

Studi ini, yang dipimpin oleh para peneliti dari King’s College London, adalah yang pertama menilai dampak potensial energi surya dari luar angkasa bagi Eropa.

Panel surya berbasis luar angkasa (SBSP) yang memberikan hasil menjanjikan ini memakai desain heliostat. Desain tersebut menggunakan reflektor mirip cermin untuk mengumpulkan sinar matahari di orbit.

Sinar matahari yang terkumpul lalu dipancarkan ke stasiun-stasiun di Bumi untuk diubah menjadi listrik, sebelum akhirnya didistribusikan ke jaringan listrik.

Baca juga: Rumput Laut Bisa Menjadi Pengganti Panel Surya untuk Hasilkan Energi

Dengan mencakup 33 negara, model komputer jaringan listrik benua ini menyimulasikan kebutuhan, produksi, dan penyimpanan listrik untuk menentukan opsi termurah demi memenuhi kebutuhan listrik Eropa.

Setelah para peneliti mengintegrasikan konsep SBSP ke dalam model, dengan menggunakan prediksi NASA mengenai potensi kapasitas energinya, hasilnya menunjukkan bahwa panel mampu menggantikan hingga 80 persen dari kebutuhan energi terbarukan berbasis daratan di Eropa.

Menurut para peneliti, energi terbarukan berbasis darat sering kali tidak teratur dan bergantung pada cuaca, yang membuat pasokannya tidak dapat diandalkan, serta memiliki biaya yang bervariasi.

SBSP pun bisa menjadi sumber energi terpusat alternatif yang beroperasi di atas atmosfer dengan daya skala gigawatt secara terus-menerus.

Kendati demikian, peneliti mencatat bahwa pemodelan ini tidak memperhitungkan dampak potensial dari tantangan yang spesifik di luar angkasa, seperti kepadatan orbit, gangguan transmisi, atau variabilitas pancaran sinar. Semua faktor ini dapat memengaruhi keandalan dan kinerja operasional SBSP

Lebih lanjut, potensi SBSP untuk hemat biaya baru bisa tercapai setelah tahun 2050. Sebab, biaya pembuatan, peluncuran, dan perawatannya saat ini masih sangat tinggi, dan akan tetap demikian kecuali jika kemajuan teknologi berhasil menurunkannya.

"Ada beberapa risiko yang perlu dipertimbangkan, seperti bagaimana satelit di luar angkasa bisa memiliki terlalu banyak panel surya. Bisakah itu menyebabkan tabrakan atau rusak akibat puing-puing di luar angkasa?" kata Dr Wei He, seorang dosen senior di departemen teknik KCL dan penulis utama studi ini.

Baca juga: Kombinasi Panel Surya Atap dan Baterai EV Penuhi 85 Persen Listrik Jepang

Meskipun ada risiko-risiko tersebut, Wei yakin bahwa penelitian ini menunjukkan SBSP berpotensi membantu negara-negara mencapai target net-zero.

"Energi terbarukan untuk menggantikan bahan bakar fosil adalah tindakan terpenting yang sedang kita lakukan sebagai manusia. Tenaga surya berbasis luar angkasa adalah teknologi yang potensial dan dapat menyediakan sumber energi terbarukan secara terus-menerus," katanya dikutip dari Guardian, Kamis (21/8/2025).

Jepang sendiri sudah mengembangkan SBSP dan mengintegrasikannya ke dalam strategi luar angkasa dan nol bersihnya.

Dan Eropa bisa mengikuti jejak ini dengan memanfaatkan kerja sama multinasionalnya untuk mengembangkan dan mengoperasikan infrastruktur SBSP yang terpusat.

Dengan demikian, mereka bisa menciptakan solusi skala benua untuk menyediakan pasokan energi terbarukan yang stabil dalam skala baseload, sekaligus mengurangi ketergantungan benua tersebut pada pembangkit listrik berbahan bakar gas.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau