Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim dan Banjir Picu Kenaikan Kasus Penyakit yang Dibawa Tikus

Kompas.com, 19 September 2025, 18:00 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perubahan iklim dan urbanisasi meningkatkan potensi terjadinya kasus infeksi dari bakteri Leptospira, yang ditemukan dalam urin tikus.

Banjir di beberapa tempat, termasuk rob, memicu kasus Leptospirosis — yang telah meningkat drastis akibat perubahan iklim dan urbanisasi — menjadi kejadian luar biasa atau mewabah (outbreak).

"Potensi risiko (penyakit Leptospirosis) akan meningkat cukup untuk tahun-tahun ke depan. (termasuk juga) potensi untuk terjadinya outbreak Leptospirosis," ujar peneliti ahli muda Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono dalam webinar beberapa hari lalu.

Outbreak kasus Leptospirosis pernah terjadi pasca banjir di Semarang, Demak, dan Jakarta. Buruknya sanitasi berkontribusi terhadap outbreak kasus Leptospirosis karena menyediakan makanan bagi tikus sebagai agen penyebaran bakteri Leptospira.

Tikus merupakan penular patogen zoonosis atau penyakit dari hewan yang bisa menginfeksi manusia. Tikus mampu membawa sekitar 88 patogen yang terdiri dari virus, parasit, bakteri, sampai infeksi jamur.

Tikus dapat bereproduksi dengan sangat cepat. Bahkan, sehari usai melahirkan banyak anak, tikus sudah bisa kawin lagi. Ini merupakan kemampuan tikus yang berperan cukup vital sebagai sasaran penyakit.

Perubahan iklim menaikkan frekuensi tikus untuk berkembang biak dan meningkatkan keberhasilan hidup anaknya pasca melahirkan. Kenaikan suhu akibat perubahan iklim juga berdampak terhadap ekologi tikus.

Baca juga: Asia Tenggara Kini Jadi Magnet Hijau, Banjir Dana Iklim

Tikus akan senantiasa berpindah ke wilayah yang nyaman untuk berkembang biak.

"Tikus akan bermigrasi dari zona yang sudah tidak nyaman baginya, ke zona yang bisa ditoleransi olehnya. Tikus menginvasi daerah-daerah yang dulunya tidak bersahabat karena ada perubahan iklim. Saat bermigrasi, tikus juga membawa patogen, besar potensinya terhadap penyebaran zoonosis," tutur Arief.

Kenaikan curah hujan akibat perubahan iklim meningkatkan ketersediaan makanan bagi tikus, yang pada gilirannya hewan pengerat ini semakin cepat bereproduksi.

Di sisi lain, kerusakan habitat tikus mendekatkannya ke tempat tinggal manusia. Imbasnya, kasus zoonosis naik seiring peningkatan interaksi antara manusia dan tikus.

"Ketersediaan makanan, terutama di daerah-daerah pertanian yang dulunya hutan, sekarang terbuka, menyebabkan tikus populasinya meningkat. Peningkatkan populasi tikus menguatkan daya hidup patogen serta membuatnya lebih cepat untuk bereplikasi pada tubuh inangnya dan meningkatkan transmisinya," ucapnya.

Selain Leptospirosis, penyakit lain yang dibawa oleh tikus juga mengalami peningkatan kasus akibat perubahan iklim. Misalnya, kasus orhohantavirus meningkatkan secara global dalam 10 tahun terakhir, termasuk di Indonesia.

"Ini kasusnya di Indonesia saat ini juga awal-awal tahun ini cukup banyak ditemukan karena kesadaran dari kemampuan untuk mendeteksinya di Indonesia sudah baik," ujar Arief.

Baca juga: Banjir Adalah Politik: Soliditas Kita Melawan Bisa Jadi Jalan Keluar

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau