Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perairan Timur Indonesia Terancam: Nelayan Kian Miskin, Ekosistem di Ujung Tanduk

Kompas.com, 23 September 2025, 12:07 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Krisis iklim semakin memperparah kerentanan masyarakat pesisir di kawasan Indonesia bagian timur. Wilayah ini sejak lama sudah berada dalam tekanan bencana ekologis akibat kombinasi abrasi, banjir rob, pencemaran laut, hingga penangkapan ikan secara berlebihan (overfishing).

Ancaman tersebut bertambah berat dengan maraknya aktivitas pertambangan di Sulawesi dan pulau-pulau kecil. Pertambangan tidak hanya menghilangkan aset ekologi, tetapi juga menurunkan kualitas perikanan tangkap maupun budi daya. Akibatnya, biaya penanggulangan bencana meningkat, dan potensi migrasi masyarakat pesisir kian besar.

Menurut akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Baharuddin Sabur, nelayan di kawasan Indonesia timur kini semakin miskin dan terpinggirkan, baik secara ekonomi maupun infrastruktur.

"Anak-anak kita tidak akan ada lagi yang melaut, karena harus melaut jauh, kemudian belum tentu juga mendapatkan ikan. Itu gambaran dampaknya," ujar Baharuddin dalam webinar Ancaman di Kawasan Timur Indonesia; Solusi Adaptasi & Mitigasi Krisis Iklim, Kamis (18/9/2025).

Berdasarkan kajiannya, Baharuddin memprediksi kondisi 10 tahun ke depan jika wilayah ini tidak dikelola secara berkelanjutan.

Pertama, habitat dan sumber daya ikan akan semakin rusak pada 2035. Kedua, alat tangkap destruktif seperti trawl dan cantrang akan semakin marak karena tekanan ekonomi nelayan.

Ketiga, pendapatan nelayan turun drastis, sementara biaya operasional, terutama BBM, melonjak karena harus melaut lebih jauh.

"Kami coba untuk memprediksi bagaimana nantinya, ternyata tahun 2035 ekosistem kita, perikanan kita akan habis dan bisa terbukti nantinya kita harus impor ikan dan itu yang akan terjadi kalau umpamanya kondisi ini terus dibiarkan," tutur Baharuddin.

Keempat, aspek kelembagaan tetap lemah, dengan penegakan hukum yang sulit, koordinasi antar instansi yang minim, serta regulasi yang tidak berjalan. Kelima, konflik antara nelayan dengan sektor lain seperti pertambangan dan pariwisata akan semakin meningkat. Konflik horizontal antar nelayan juga berpotensi meluas.

Baca juga: 29 Izin untuk Budidaya Udang, Usaha Perikanan Terkendala Regulasi

"Nelayan kecil, khususnya yang memiliki alat tangkap di bawah 5 GT (gross tonnage) itu akan sulit untuk bersaing, malah konflik karena adanya kedatangan nelayan-nelayan dari Andon (para nelayan yang menangkap ikan di luar wilayah asal mereka)," ucapnya.

Di sisi lain, terumbu karang di sepanjang wilayah pesisir Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara juga dalam kondisi sangat terancam. Padahal, terumbu karang merupakan habitat penting bagi berbagai jenis ikan.

Solusi keberlanjutan

Untuk meminimalisir kerusakan, terdapat sejumlah strategi yang dapat dilakukan. Pertama, restorasi ekosistem pesisir seperti mangrove, lamun, dan karang.

"Itu harus jelas, bukan hanya sekadar memperbanyak, memperluas kawasan konservasi, kalau tidak ada pengelolaan yang jelas, kemudian tidak ada sanksi yang jelas, pasti itu akan rusak," ujar Baharuddin.

Kedua, integrasi tata ruang darat-laut dengan menyatukan RTRW dan RZWP3K.

"Harapannya ke depan bukan hanya sekadar tertata di dalam konteks peta, tetapi memang betul-betul bahwa tata ruang laut sebagai kawasan konservasi di darat. Di laut juga harus konservasi, jangan sampai di daratnya itu adalah industri, di lautnya konservasi atau sebaliknya," tutur Baharuddin.

Ketiga, penerapan green-gray infrastructure, yakni kombinasi infrastruktur proteksi pantai dengan solusi berbasis alam. Keempat, penguatan kapasitas masyarakat melalui diversifikasi ekonomi, misalnya ekowisata dan budidaya adaptif.

Kelima, pembangunan sistem pemantauan serta early warning system berbasis teknologi spasial dan partisipatif. Keenam, kolaborasi multipihak antara pemerintah, akademisi, NGO, swasta, dan masyarakat lokal.

Baca juga: Ironi Perikanan Indonesia: Produk Buruk, Penduduk Pesisir Stunting

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau