Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 9 Oktober 2025, 18:29 WIB
HTRMN,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Jika keberlanjutan adalah tentang mendengarkan, perempuan memiliki keunggulan dalam hal ini. Sejak lama, mereka terbiasa mendengar dengan teliti dan penuh empati.

Dalam menyuarakan keberlanjutan, suara mereka pun konsisten bergema, meski tak selantang lainnya. Dengan ketekunan dan kepedulian tinggi, para perempuan punya peran dalam menautkan kembali hubungan antara manusia dan alam.

Semangat itu terasa kuat dalam sesi “The Voice of Women in Sustainability Movement” di Lestari Summit 2025 yang digelar Kompas Gramedia (KG) Media di Raffles Hotel Jakarta, Kamis (2/10/2025).

Di sesi tersebut, tiga perempuan hadir berbagi kisah dan keyakinan bahwa keberlanjutan tak hanya soal kebijakan dan teknologi, tetapi juga tentang hati yang mau mendengar, memahami, dan bertindak.

Baca juga: Perempuan Adat, Penjaga Alam dan Pengetahuan untuk Kedaulatan Pangan

Datang dengan membawa kegelisahan dan suara-suara yang selama ini terabaikan, mereka adalah Chairperson Paloma Sjahrir Foundation sekaligus Co-Founder Bicara Udara Ratna Kartadjoemena, Direktur Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (KIARA) sekaligus penerima Whitley Awards Rahayu Oktaviani, dan Ketua Yayasan Lohjinawi Yasmin.

Gerak cepat mencegah bencana polusi udara

Ratna memulai kariernya di industri perhotelan dengan mencoba mereduksi dampak bisnis terhadap lingkungan. Pengalaman tersebut membawanya untuk melakukan impact investing dengan mendirikan Paloma Sjahrir Foundation untuk membantu ekosistem pengusaha kecil yang peduli berkelanjutan.

Namun, perjalanan Ratna mengambil momentum baru ketika dia belajar tentang polusi partikulat PM2.5 pada 2018.

"Kok bisa ini suatu masalah tapi belum pernah dibicarakan di Indonesia?" ujar Ratna, menggambarkan kegelisahannya saat itu.

Baca juga: Dari Leuser hingga Jakarta, Perempuan dan Komunitas Muda Jadi Garda Depan Lingkungan

Dari rasa khawatir tersebut, pada 2020—saat pandemi membuat banyak orang bekerja dari rumah—Ratna mengajak dua teman dekatnya, Novita Natalia dan Amalia Ayuningtyas, untuk mendiskusikan masalah udara yang terus diabaikan.

Ketiga ibu tersebut membentuk Bicara Udara dengan visi sederhana tapi kuat untuk menyuarakan hak semua orang atas udara bersih.

Mereka memulai dengan petisi "Stop Bakar Sampah" yang ditandatangani lebih dari 78.000 orang. Langkah awal ini mencerminkan respons publik yang telah lama menunggu momentum untuk menyuarakan kekhawatiran tentang kualitas udara.

Dampak polusi udara ternyata sangat nyata dan mendesak. Penelitian menunjukkan paparan PM2.5 tidak hanya memicu penyakit pernapasan, tetapi juga mengganggu kehamilan, pertumbuhan janin, dan kesehatan jangka panjang anak-anak.

Baca juga: Kisah Perempuan Dayak Melawan Dampak Tambang dengan Cabai

Kisah nyata seperti Ibu Tiara Yunanda yang anaknya dirawat di rumah sakit sebanyak tujuh kali pada 2023 akibat polusi udara menunjukkan urgensi masalah ini.

Bicara Udara kemudian mengembangkan tiga program utama untuk menyebarkan kesadaran, yakni Biru Talks, Biru Voices, dan Biru School Alliance.

Program Biru Talks sendiri adalah platform diskusi publik yang melibatkan para pembuat kebijakan.

Ratna menjelaskan bagaimana mereka tidak hanya mengajak masyarakat untuk mendengarkan, tetapi juga membawa isu udara bersih ke meja-meja pembuat keputusan, termasuk bertemu dengan calon presiden dan gubernur.

Baca juga: Mengurai Jejak Pohon, Begini Kiprah 2 Perempuan Peneliti di Garis Depan Forensik Kayu Indonesia

Program Biru Voices, dimulai dari kampus, kini melibatkan orang tua dengan program Duta Udara Bersih.

"Cerita kami sebagai seorang ibu itu resonan bukan hanya dengan anak ibu atau ayah, tapi dengan semua orang," ungkap Ratna.

Sementara itu, program Biru School Alliance membawa edukasi sains tentang udara ke sekolah-sekolah agar generasi muda memahami pentingnya kualitas udara sejak dini.

Advokasi Bicara Udara telah mencapai tingkat strategis. Mereka menjadi anggota Komite Penanggulangan Penyakit Respirasi dan Polusi Udara Kementerian Kesehatan serta melakukan audiensi dengan berbagai lembaga pemerintahan untuk mendorong pembaruan peraturan daerah tentang penanganan udara kotor yang telah berusia 20 tahun.

Baca juga: Kampanyekan Pengurangan Emisi, 3 Perempuan Bali Bersepeda ke Jakarta

Data periode 2021 hingga November 2024 menunjukkan Bicara Udara telah menjangkau 87.059 peserta langsung dengan total jangkauan digital mencapai 2,8 juta.

Direktur Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (KIARA) sekaligus penerima Whitley Awards Rahayu Oktaviani.ARNOLD SIMANJUNTAK Direktur Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (KIARA) sekaligus penerima Whitley Awards Rahayu Oktaviani.

Mendengarkan suara perempuan di hulu rimba

Rahayu memulai misi keberlanjutan melalui pendekatan yang unik. Dia mempelajari perilaku Owa Jawa untuk memahami lebih dalam tentang kepemimpinan dan suara dalam kelompok. Menurutnya, ada kemiripan menarik antara struktur sosial hewan langka tersebut dengan manusia.

“Owa Jawa betina menjadi yang dominan bersuara dalam keluarga. Ketika betina mengeluarkan nyanyiannya setiap pagi, ia sedang memberitahu keberadaan dan menandai wilayahnya,” demikian Rahayu menjelaskan.

Observasi tersebut menginspirasi Rahayu untuk mendengarkan suara-suara terabaikan di komunitas sekitar. Salah satunya di Kampung Cinta, perkampungan kecil yang dikelilingi hutan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jawa Barat.

Baca juga: Perubahan Iklim, Perempuan Terpaksa Jadi Tulang Punggung Tanpa Jaminan Sosial

Para perempuan di kampung itu, lanjut Rahayu, umumnya ditempatkan dalam ranah domestik dengan ruang terbatas untuk berpartisipasi dalam keputusan publik. Padahal, mereka memiliki pengalaman hidup luar biasa dan resiliensi tinggi.

Lebih dari itu, mereka juga penjaga pengetahuan alam dan ingatan lokal berharga yang semakin hilang.

Salah satu penemuan penting, kata Rahayu, adalah pengetahuan perempuan tentang buah-buahan dan tumbuhan yang dulunya dimanfaatkan sebagai makanan, lalapan, obat tradisional, bahkan permainan masa kecil.

Pengetahuan tersebut berisiko hilang karena tidak ada lagi penerus yang mempelajarinya. Dari kesadaran tersebut, Rahayu bersama perempuan-perempuan di Kampung Cinta membentuk Ambu Halimun, kelompok pemberdayaan yang mengabadikan pengetahuan lokal.

Baca juga: Perempuan, Masyarakat Adat, dan Pemuda Jadi Bagian dari Iklim

"Ambu dalam bahasa Sunda artinya Ibu, dan Halimun adalah tempat gunung dan hutan tempat kampung ini berada," jelas Rahayu.

Melalui Ambu Halimun, para perempuan tersebut bekerja menggunakan pengetahuan tradisional untuk menciptakan produk, seperti kerajinan tangan, yang tidak hanya menjadi sumber penghasilan tetapi juga identitas dan kebanggaan komunitas lokal.

Ambu Halimun kini berhasil menjadi ruang aman bagi perempuan untuk tumbuh, mengembangkan kepercayaan diri, dan belajar keterampilan organisasi.

Namun, Rahayu menekankan, pencapaian Ambu Halimun bukan diukur dari angka, melainkan dari dampak nyata terhadap perubahan kehidupan. Salah satu anggota berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang yang lebih tinggi berkat pendapatan dari program ini.

Baca juga: Perempuan, Tambang, dan Masa Depan Berkelanjutan

"Pemberdayaan seharusnya membuka peluang dan menciptakan kemandirian, bukan menciptakan ketergantungan," tegas Rahayu.

Ketua Yayasan Lohjinawi Yasmin.ARNOLD SIMANJUNTAK Ketua Yayasan Lohjinawi Yasmin.

Dikelilingi sampah, lalu mengubahnya jadi berkah

Dalam kesempatannya, Yasmin menggugah peserta dengan kalimat pembuka, “Buat saya, aset paling berharga itu adalah sampah”. Ia mengisahkan perjalanan pribadi dari seorang sales promotion officer menjadi aktivis pengelolaan sampah di Surabaya.

“Dulu saya berpikir, urus sampah orang itu pekerjaan yang kotor. Namun, rupanya dari situlah hidup saya berubah,” katanya.

Titik balik Yasmin terjadi pada 2003. Saat itu, tempat pembuangan akhir sampah di Keputih, Surabaya, penuh dan ditutup. Akibatnya, jalan-jalan kota dipenuhi sampah. Kenyataan pahit ini menyadarkannya bahwa masalah sampah bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab bersama.

Baca juga: Perempuan Berperan Penting saat Bencana, Butuh Kebijakan Berperspektif Gender

Melalui edukasi dan dukungan berbagai pihak, pada 2012, Yasmin akhirnya memutuskan untuk mendirikan Yayasan Lohjinawi. Lewat yayasan ini, Yasmin mengajarkan masyarakat sekitar bahwa sampah yang tadinya tidak bernilai dapat bernilai jika dikelola dengan baik.

Tujuan baik bukan berarti tanpa hambatan. Setelah mengumpulkan sampah dari masyarakat, tim Yasmin sempat bingung cara mengelola sampah tersebut karena belum memiliki pengguna akhir (off-taker) sampah.

Namun, melalui proses belajar berkelanjutan dan kerja keras, Lohjinawi berhasil menemukan berbagai off-taker sampah dari berbagai sektor industri untuk mendaur ulang dan memanfaatkan sampah.

Transformasi paling jelas terlihat dalam kisah Umi, salah satu kader terbaik Lohjinawi di Kota Surabaya.

Baca juga: Bagaimana Perempuan Memimpin Pengurangan Emisi Global?

Dulu, Umi tidak memiliki pekerjaan dan kondisi ekonomi keluarganya sangat sulit. Setelah belajar mengenai sampah dan menjalankan bisnis sampah, Umi berhasil merenovasi rumahnya, memperbaiki kamar mandi, dan bahkan mempekerjakan penyandang disabilitas.

Dalam 20 tahun beroperasi, Lohjinawi telah mendampingi 15 kota di Indonesia dan mengelola 5.000 bank sampah yang melayani 50.000 penerima manfaat dengan 9.000 kader. Organisasi ini memberikan edukasi kepada 20-30 orang per bulan tentang pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan.

Meskipun Yasmin mengakui bahwa masalah sampah di Indonesia sangat besar, berat, dan rumit, ia yakin semuanya dapat diatasi melalui kolaborasi.

"Dengan kolaborasi yang kuat, tujuan akan bisa tercapai," tegasnya, mengajak berbagai pihak untuk bergabung dalam upaya mengubah sampah menjadi nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan.

Melalui perjalanan ketiga perempuan ini, Lestari Summit 2025 menyampaikan pesan yang jelas bahwa keberlanjutan lingkungan hanya dapat terwujud ketika suara perempuan didengarkan, potensi masyarakat diberdayakan, dan berbagai sektor bekerja bersama dengan komitmen yang sama untuk masa depan yang lebih baik.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Berkomitmen Sejahterakan Umat, BSI Maslahat Raih 2 Penghargaan Zakat Award 2025
Berkomitmen Sejahterakan Umat, BSI Maslahat Raih 2 Penghargaan Zakat Award 2025
BUMN
Veronica Tan Bongkar Penyebab Pekerja Migran Masih Rentan TPPO
Veronica Tan Bongkar Penyebab Pekerja Migran Masih Rentan TPPO
Pemerintah
Mengapa Sumatera Barat Terdampak Siklon Tropis Senyar Meski Jauh? Ini Penjelasan Pakar
Mengapa Sumatera Barat Terdampak Siklon Tropis Senyar Meski Jauh? Ini Penjelasan Pakar
LSM/Figur
Ambisi Indonesia Punya Geopark Terbanyak di Dunia, Bisa Cegah Banjir Terulang
Ambisi Indonesia Punya Geopark Terbanyak di Dunia, Bisa Cegah Banjir Terulang
Pemerintah
Saat Hutan Hilang, SDGs Tak Lagi Relevan
Saat Hutan Hilang, SDGs Tak Lagi Relevan
Pemerintah
Ekspansi Sawit Picu Banjir Sumatera, Mandatori B50 Perlu Dikaji Ulang
Ekspansi Sawit Picu Banjir Sumatera, Mandatori B50 Perlu Dikaji Ulang
LSM/Figur
SBTi Rilis Peta Jalan untuk Industri Kimia Global
SBTi Rilis Peta Jalan untuk Industri Kimia Global
Pemerintah
Bukan Murka Alam: Melacak Jejak Ecological Tech Crime di Balik Tenggelamnya Sumatra
Bukan Murka Alam: Melacak Jejak Ecological Tech Crime di Balik Tenggelamnya Sumatra
Pemerintah
Agroforestri Sawit: Jalan Tengah di Tengah Ancaman Banjir dan Krisis Ekosistem
Agroforestri Sawit: Jalan Tengah di Tengah Ancaman Banjir dan Krisis Ekosistem
Pemerintah
Survei FTSE Russell: Risiko Iklim Jadi Kekhawatiran Mayoritas Investor
Survei FTSE Russell: Risiko Iklim Jadi Kekhawatiran Mayoritas Investor
Swasta
Tuntaskan Program KMG-SMK, BNET Academy Dorong Penguatan Kompetensi Guru Vokasi
Tuntaskan Program KMG-SMK, BNET Academy Dorong Penguatan Kompetensi Guru Vokasi
Swasta
Harapan Baru, Peneliti Temukan Cara Hutan Tropis Beradaptasi dengan Iklim
Harapan Baru, Peneliti Temukan Cara Hutan Tropis Beradaptasi dengan Iklim
Pemerintah
Jutaan Hektare Lahan Sawit di Sumatera Berada di Wilayah yang Tak Layak untuk Monokultur
Jutaan Hektare Lahan Sawit di Sumatera Berada di Wilayah yang Tak Layak untuk Monokultur
LSM/Figur
Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar
Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar
Swasta
FAO: Perluasan Lahan Pertanian Tidak Lagi Memungkinkan
FAO: Perluasan Lahan Pertanian Tidak Lagi Memungkinkan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau