Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Retno Marsudi Ungkap Tantangan Air Bersih, dari Infrastruktur hingga Investasi

Kompas.com, 10 Oktober 2025, 13:46 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, mengungkapkan infrastruktur, teknologi dan investasi menjadi tantangan air bersih global.

Menurut dia, infrastruktur air mulai dari pipa, mata air, bendungan hingga jaringan distribusi merupakan tulang punggung akses terhadap air. Namun di banyak wilayah dunia, hal tersebut masih tidak memadai, rapuh, bahkan tak ada sama sekali.

"Secara global, diperkirakan sekitar 30 persen air yang sudah diolah hilang akibat kebocoran. Di beberapa kota, angkanya bahkan mencapai 50 persen," ujar Retno dalam Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta Pusat, Jumat (10/10/2025).

Infrastruktur, lanjut dia, seharusnya tahan terhadap perubahan iklim, inklusif, dan terintegrasi dengan sistem alam. Lahan basah, akuifer, dan daerah aliran sungai juga merupakan bagian dari infrastruktur yang wajib dijaga.

Baca juga: Dari Krisis ke Harapan, Warga Oenenu Selatan Kini Nikmati Air Bersih Berkat Energi Surya

Retno menyebutkan, perbaikan infrastruktur memerlukan pembiayaan, inovasi, serta kerja sama termasuk dengan sektor swasta.

"Kedua, teknologi. Kita masih menemukan bahwa di banyak sektor air kita masih bergantung pada sistem yang usang dan data yang terfragmentasi," papar Retno.

"Kita perlu memperluas penggunaan alat manajemen smart water, mulai dari sensor yang dapat mendeteksi kebocoran," imbuh dia.

Lainnya, memantau kualitas air dan prakiraan berbasis satelit yang membantu petani maupun lembaga penyedia layanan air mengantisipasi kekeringan. Kendati teknologi untuk air bersih sangat terjangkau, beberapa kelompok justru masih belum mendapatkan akses.

"Itulah sebabnya kerja sama dan kemitraan termasuk dengan sektor swasta menjadi sangat penting. Pada saat yang sama, kita harus memastikan bahwa solusi teknologi berpusat pada manusia," ucap Retno.

Investasi di sektor air menghadapi kesenjangan yang besar. Retno mencatat, kebutuhan investasi untuk penyediaan air dan sanitasi diperkirakan mencapai 600-1.000 miliar dolar AS per tahun. Sementara, pendanaan yang tersedia saat ini hanya sekitar 300-400 miliar dolar AS per tahun, meninggalkan kesenjangan investasi tahunan sebesar 300-600 miliar dollar AS.

Baca juga: Analisis Temukan Jutaan Bangunan Global Berada di Zona Risiko Kenaikan Air Laut

Bank Dunia menyatakan, negara-negara berkembang hanya mengalokasikan sekitar 0,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk infrastruktur air. Secara global, hampir 91 persen dari pengeluaran tahunan di sektor air masih berasal dari sektor publik.

"Air sering kali dipandang sebagai sektor berisiko tinggi dengan imbal hasil rendah, namun pandangan itu salah. Karena berinvestasi di sektor air memberikan hasil yang besar, tidak hanya bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagi kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, dan ketahanan terhadap perubahan iklim," papar dia.

Di Afrika, Bank Dunia menyoroti setiap 1 dollar yang diinvestasikan di sektor air menghasilkan imbal hasil hingga 7 dollar AS. Oleh karena itu, ia berpandangan investasi pada air harus terus diperkuat.

"Antara lain melalui pembiayaan campuran sambil tetap menjaga, sekali lagi, kepentingan publik. Jangan pernah lupa untuk selalu menjaga kepentingan publik," sebut Retno.

Dia lalu menegaskan bahwa air erat kaitannya dengan isu perubahan iklim, kesehatan, ketahanan pangan, energi, maupun migrasi. Memperbaiki pengelolaan air berarti mendorong tercapainya tujuan yang lebih luas untuk dunia yang adil serta berkelanjutan.

"Setiap anak yang meminum air bersih, setiap petani yang mampu mengairi lahannya, dan setiap komunitas yang berhasil bertahan dari kekeringan, adalah pengingat tentang apa yang mungkin tercapai ketika kita berinvestasi untuk masa depan bersama," ucap dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau