Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Oxford dan Pennsylvania: Carbon Offset Gagal Jawab Masalah, Hentikan Saja

Kompas.com, 15 Oktober 2025, 18:04 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Para akademisi di University of Oxford dan University of Pennsylvania telah melakukan tinjauan mengenai bukti efektivitas carbon offset.

Apa yang mereka simpulkan adalah praktik tersebut tidak efektif dan dipenuhi oleh masalah yang tidak dapat dipecahkan.

Hasil tinjauan ini dipublikasikan dalam jurnal Annual Review of Environment and Resources.

Carbon Offset adalah mekanisme di mana proyek-proyek menciptakan kredit yang diklaim setara dengan jumlah emisi gas rumah kaca (GHG) yang berhasil dikurangi, dihindari, atau dihilangkan dari atmosfer. Praktik ini pertama kali muncul pada tahun 1989.

Penulis studi mendesak agar sebagian besar skema carbon offset dihentikan, dan hanya mempertahankan kredit yang berasal dari proyek penghilangan karbon dioksida secara permanen dari atmosfer.

"Kita harus mengakhiri ekspektasi bahwa carbon offset dapat bekerja secara efektif dalam skala besar. Setelah meninjau bukti selama 25 tahun, kami menyimpulkan bahwa hampir semua upaya hingga saat ini telah gagal," ujar Dr. Stephen Lezak, peneliti dari Smith School of Enterprise and the Environment dan rekan penulis studi.

Baca juga: Kredit Karbon Dinilai Gagal Kurangi Emisi Perusahaan, Studi Ungkap

"Kegagalan pasar yang terjadi sekarang ini bukan hanya karena kesalahan beberapa pihak, tetapi disebabkan oleh masalah sistematis yang sulit diatasi, dan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan perbaikan bertahap," katanya lagi seperti dikutip dari Phys, Selasa (14/10/2025).

Dr. Joseph Romm, penulis utama studi tersebut menyatakan pula bahwa ia berharap hasil studi ini dapat memberikan kejelasan sebelum COP30.

Pasalnya, credit offset yang tidak kredibel alias yang tidak didukung oleh teknologi penghilangan dan penyimpanan karbon permanen, hanyalah pengalih perhatian yang berbahaya dari solusi inti masalah iklim, yaitu upaya pengurangan emisi yang harus dilakukan secara cepat dan terus-menerus.

Lebih lanjut, masalah paling serius yang ditemukan dalam penelitian ini adalah soal menghasilkan kredit tanpa mengurangi emisi, ketidakpermanenan, kebocoran, penghitungan ganda, insentif yang menyimpang dan kemampuan untuk dimanipulasi dari sistem pengkreditan, di mana pelaku nakal secara rutin mampu mengakali aturan yang dirancang dengan baik sekalipun.

Alih-alih menyelesaikan masalah ini, Pasal 6 Perjanjian Paris, yang diselesaikan pada COP29, justru hanya mengulang prinsip-prinsip pengembangan pasar karbon yang sudah lama diabaikan, dengan harapan yang diragukan bahwa kali ini hasilnya mungkin akan berbeda secara signifikan.

Baca juga: Apakah Kredit Karbon Hutan Berfungsi dan Membantu Lingkungan?

"Terlepas dari segala upaya pengamanan, proyek carbon offset masih sering dihadapkan pada masalah akuntabilitas yang lemah. Hal ini berisiko mempertahankan praktik apropriasi yang bersifat neocolonial," papar Amna Alshamsi, peneliti doktoral di University of Sussex.

Menurutnya, meskipun proyek berbasis alam memberikan manfaat di tingkat lokal, pendanaan proyek tersebut sebaiknya tidak menggunakan skema kredit karbon.

Sebaliknya, pendanaan harus dilakukan melalui mekanisme klaim kontribusi, di mana dana diberikan sambil tetap mewajibkan entitas yang membeli untuk tetap bertanggung jawab memangkas emisi mereka sendiri.

Riset yang telah dilakukan sebelumnya mengungkapkan bahwa program carbon offset juga kerap kali menilai terlalu tinggi manfaat iklim yang mereka hasilkan. Dalam banyak kasus, klaim manfaat tersebut dilebih-lebihkan hingga 10 kali lipat atau bahkan lebih.

Para penulis menyimpulkan bahwa ke depannya, semua pasar offset wajib memprioritaskan pengembangan mekanisme Penghilangan Karbon Dioksida (CDR) yang kuat dan permanen, yang didukung oleh sistem pengukuran serta verifikasi jangka panjang.

Mereka juga menyadari bahwa teknologi CDR yang efektif dan dapat diskalakan mungkin sulit diwujudkan, dan membutuhkan investasi dan riset yang sangat intensif.

Baca juga: Gula-gula Pasar Karbon Dunia dan Pahitnya bagi Indonesia

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau