Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Energi Terbarukan Global Meningkat Tiga Kali Lipat, China Memimpin

Kompas.com, 12 November 2025, 16:09 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Investasi dan instalasi energi terbarukan, terutama surya dan angin di seluruh dunia sedang mengalami pertumbuhan yang eksplosif, menciptakan momentum yang signifikan dan positif menjelang perundingan iklim global di COP30.

Pada 2025, penambahan energi terbarukan kemungkinan akan mencapai 793 GW, meningkat 11 persen dari 717 GW pada 2024.

China berada di garis depan dalam ekspansi energi terbarukan ini dengan mencatatkan sekitar 66 persen dari penambahan kapasitas surya global dan 69 persen dari penambahan kapasitas angin global.

Melansir Know ESG, Selasa (11/11/2025), peningkatan ini terjadi setelah peningkatan tahunan berturut-turut sebesar 66 persen pada 2022 dan 22 persen pada 2023 dan menandakan percepatan berkelanjutan dalam penerapan energi bersih.

Baca juga: Investasi Energi Terbarukan Capai Rp 21,64 Triliun, REC Dinilai Bisa Percepat Balik Modal

Tenaga surya menyumbang energi bersih paling besar secara keseluruhan, tetapi angin menunjukkan momentum pertumbuhan yang lebih cepat dalam hal persentase peningkatan tahunan.

Tapi yang perlu digaris bawahi adalah meskipun ada ekspansi yang cepat di lapangan, target nasional negara-negara saat ini kurang ambisius. Janji pemerintah secara kolektif masih tertinggal di belakang tujuan global untuk melipatgandakan tiga kali lipat kapasitas energi terbarukan pada 2030.

Total target nasional energi terbarukan hanya meningkat tipis sebesar 8 persen sejak tahun 2022, dengan China menaikkan target 2030-nya melalui Nationally Determined Contribution (NDC) tahun 2025.

Namun peningkatan target China itu hampir seluruhnya dibatalkan oleh target AS yang lebih rendah.

Kesenjangan antara penerapan dan target resmi ini menciptakan ketidakpastian mengenai apakah target peningkatan tiga kali lipat energi terbarukan global dapat tercapai.

Terlepas dari itu, karena dunia telah berhasil menggenjot kapasitas surya dan angin dalam jumlah besar dalam beberapa tahun terakhir, target global yang tersisa untuk melipatgandakan tiga kali lipat kapasitas energi terbarukan pada 2030 kini menjadi lebih mudah.

Baca juga: 250 Perusahaan Migas Terbesar Hanya Kuasai 1,5 Persen Energi Terbarukan Dunia

Dunia hanya perlu mempertahankan pertumbuhan penambahan kapasitas sebesar 12 persen setiap tahun dari 2026 hingga 2030 untuk mencapai target melipatgandakan tiga kali lipat, setelah tingkat pertumbuhan sangat tinggi (29 persen) yang terjadi diperiode 2023 hingga 2025.

Akan tetapi lagi-lagi pertumbuhan energi terbarukan saat ini tidak seimbang karena terlalu bergantung pada energi surya. Hal ini menyebabkan target kapasitas terlihat bagus tetapi target produksi energi listrik aktual masih jauh.

Pemerintah harus menyadari hal ini dan menyesuaikan kebijakan perencanaan mereka untuk mengatasi kekurangan produksi.

"Energi terbarukan sedang berkembang pesat, dipimpin oleh energi surya. Namun, jika negara-negara tidak segera memperbarui target mereka, kita berisiko kekurangan pasokan jaringan listrik, fleksibilitas, dan penyimpanan yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan luar biasa ini,” papar Katye Altieri, Analis Transisi Listrik (Global), Ember.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mengapa Anggaran Perlindungan Anak Harus Ditambah? Ini Penjelasannya
Mengapa Anggaran Perlindungan Anak Harus Ditambah? Ini Penjelasannya
LSM/Figur
Banjir di Sumatera, Kemenhut Beberkan Masifnya Alih Fungsi Lahan
Banjir di Sumatera, Kemenhut Beberkan Masifnya Alih Fungsi Lahan
Pemerintah
Limbah Plastik Diprediksi Capai 280 Juta Metrik Ton Tahun 2040, Apa Dampaknya?
Limbah Plastik Diprediksi Capai 280 Juta Metrik Ton Tahun 2040, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
Koperasi Bisa Jadi Kunci Transisi Energi di Masyarakat
Koperasi Bisa Jadi Kunci Transisi Energi di Masyarakat
LSM/Figur
2025 Termasuk Tahun Paling Panas Sepanjang Sejarah, Mengapa?
2025 Termasuk Tahun Paling Panas Sepanjang Sejarah, Mengapa?
LSM/Figur
Jelajah Mangrove di Pulau Serangan Bali, Terancam Sampah dan Sedimentasi
Jelajah Mangrove di Pulau Serangan Bali, Terancam Sampah dan Sedimentasi
LSM/Figur
Guru Besar IPB Sebut Tak Tepat Kebun Sawit Penyebab Banjir Sumatera
Guru Besar IPB Sebut Tak Tepat Kebun Sawit Penyebab Banjir Sumatera
LSM/Figur
Perkuat Profesionalisme, AIIR Jadi Organisasi Profesi Investor Relations Pertama di Indonesia
Perkuat Profesionalisme, AIIR Jadi Organisasi Profesi Investor Relations Pertama di Indonesia
LSM/Figur
13 Perusahaan Dinilai Picu Banjir Sumatera, Walhi Desak Kemenhut Cabut Izinnya
13 Perusahaan Dinilai Picu Banjir Sumatera, Walhi Desak Kemenhut Cabut Izinnya
LSM/Figur
Agroforestri Karet di Kalimantan Barat Kian Tergerus karena Konversi Sawit
Agroforestri Karet di Kalimantan Barat Kian Tergerus karena Konversi Sawit
LSM/Figur
Perkebunan Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan untuk Serap Karbon dan Cegah Banjir
Perkebunan Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan untuk Serap Karbon dan Cegah Banjir
Pemerintah
Di Balik Kayu Gelondongan yang Terdampar
Di Balik Kayu Gelondongan yang Terdampar
LSM/Figur
Survei LinkedIn 2025 Sebut Permintaan Green Skills di Dunia Kerja Meningkat
Survei LinkedIn 2025 Sebut Permintaan Green Skills di Dunia Kerja Meningkat
Swasta
Menunda Net Zero Picu Gelombang Panas Ekstrem, Wilayah Dekat Khatulistiwa Paling Terdampak
Menunda Net Zero Picu Gelombang Panas Ekstrem, Wilayah Dekat Khatulistiwa Paling Terdampak
LSM/Figur
Guru Besar IPB Sebut Kebun Sawit di Sumatera Bisa Jadi Hutan Kembali
Guru Besar IPB Sebut Kebun Sawit di Sumatera Bisa Jadi Hutan Kembali
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau