KOMPAS.com - Investasi dan instalasi energi terbarukan, terutama surya dan angin di seluruh dunia sedang mengalami pertumbuhan yang eksplosif, menciptakan momentum yang signifikan dan positif menjelang perundingan iklim global di COP30.
Pada 2025, penambahan energi terbarukan kemungkinan akan mencapai 793 GW, meningkat 11 persen dari 717 GW pada 2024.
China berada di garis depan dalam ekspansi energi terbarukan ini dengan mencatatkan sekitar 66 persen dari penambahan kapasitas surya global dan 69 persen dari penambahan kapasitas angin global.
Melansir Know ESG, Selasa (11/11/2025), peningkatan ini terjadi setelah peningkatan tahunan berturut-turut sebesar 66 persen pada 2022 dan 22 persen pada 2023 dan menandakan percepatan berkelanjutan dalam penerapan energi bersih.
Baca juga: Investasi Energi Terbarukan Capai Rp 21,64 Triliun, REC Dinilai Bisa Percepat Balik Modal
Tenaga surya menyumbang energi bersih paling besar secara keseluruhan, tetapi angin menunjukkan momentum pertumbuhan yang lebih cepat dalam hal persentase peningkatan tahunan.
Tapi yang perlu digaris bawahi adalah meskipun ada ekspansi yang cepat di lapangan, target nasional negara-negara saat ini kurang ambisius. Janji pemerintah secara kolektif masih tertinggal di belakang tujuan global untuk melipatgandakan tiga kali lipat kapasitas energi terbarukan pada 2030.
Total target nasional energi terbarukan hanya meningkat tipis sebesar 8 persen sejak tahun 2022, dengan China menaikkan target 2030-nya melalui Nationally Determined Contribution (NDC) tahun 2025.
Namun peningkatan target China itu hampir seluruhnya dibatalkan oleh target AS yang lebih rendah.
Kesenjangan antara penerapan dan target resmi ini menciptakan ketidakpastian mengenai apakah target peningkatan tiga kali lipat energi terbarukan global dapat tercapai.
Terlepas dari itu, karena dunia telah berhasil menggenjot kapasitas surya dan angin dalam jumlah besar dalam beberapa tahun terakhir, target global yang tersisa untuk melipatgandakan tiga kali lipat kapasitas energi terbarukan pada 2030 kini menjadi lebih mudah.
Baca juga: 250 Perusahaan Migas Terbesar Hanya Kuasai 1,5 Persen Energi Terbarukan Dunia
Dunia hanya perlu mempertahankan pertumbuhan penambahan kapasitas sebesar 12 persen setiap tahun dari 2026 hingga 2030 untuk mencapai target melipatgandakan tiga kali lipat, setelah tingkat pertumbuhan sangat tinggi (29 persen) yang terjadi diperiode 2023 hingga 2025.
Akan tetapi lagi-lagi pertumbuhan energi terbarukan saat ini tidak seimbang karena terlalu bergantung pada energi surya. Hal ini menyebabkan target kapasitas terlihat bagus tetapi target produksi energi listrik aktual masih jauh.
Pemerintah harus menyadari hal ini dan menyesuaikan kebijakan perencanaan mereka untuk mengatasi kekurangan produksi.
"Energi terbarukan sedang berkembang pesat, dipimpin oleh energi surya. Namun, jika negara-negara tidak segera memperbarui target mereka, kita berisiko kekurangan pasokan jaringan listrik, fleksibilitas, dan penyimpanan yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan luar biasa ini,” papar Katye Altieri, Analis Transisi Listrik (Global), Ember.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya