Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

UN Women Peringatkan, Kekerasan Digital Berbasis AI Ancam Perempuan

Kompas.com, 20 November 2025, 19:09 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - UN Women memperingatkan bahwa kekerasan digital semakin meningkat di seluruh dunia, menyebabkan hampir separuh perempuan dan anak perempuan tidak memiliki perlindungan hukum dari pelecehan daring.

Untuk memeranginya, badan PBB tersebut pun meluncurkan kampanye 16 Days of Activism tahunan pada 17 November 2025.

Kampanye tersebut ingin memberikan edukasi bagaimana teknologi terutama kecerdasan buatan (AI) semakin banyak digunakan untuk menyakiti wanita dan anak perempuan, bukannya memberdayakan mereka.

Masalah ini kemudian diperburuk oleh anonimitas dan kegagalan sistem hukum untuk mengimbanginya.

Menurut UN Women pelecehan daring, cyberstalking, doxing, berbagi gambar tanpa persetujuan, deepfake, dan disinformasi gender kini memengaruhi setiap sudut Internet.

Sayangnya, kurang dari 40 persen negara memiliki undang-undang yang melindungi perempuan dari pelecehan siber atau cyberstalking, sehingga 1,8 miliar perempuan dan anak perempuan tidak memiliki akses terhadap perlindungan hukum.

Baca juga: Agar AI Tak Lagi Bias, UN Women Serukan Teknologi yang Ramah Gender

Perempuan yang terlibat dalam urusan publik seperti politisi, pemimpin bisnis, aktivis, dan jurnalis termasuk di antara mereka yang paling rentan.

UN Women menyatakan perempuan di bidang tersebut mengalami deepfake, pelecehan terkoordinasi, dan kampanye disinformasi yang dirancang untuk memaksa mereka keluar dari ranah online dan membungkam suara mereka.

UN Women menambahkan bahwa satu dari empat jurnalis perempuan melaporkan ancaman kekerasan fisik daring, termasuk ancaman pembunuhan.

"Kekerasan digital merembet ke kehidupan nyata, menyebarkan ketakutan, membungkam suara, dan dalam kasus terburuk mengarah pada kekerasan fisik dan femisida,” kata Direktur Eksekutif UN Women, Sima Bahous, dikutip dari Down to Earth, Rabu (19/11/2025).

"Hukum harus berkembang seiring perkembangan teknologi untuk memastikan keadilan melindungi perempuan, baik daring maupun luring. Perlindungan hukum yang lemah membuat jutaan perempuan dan anak perempuan rentan, sementara pelaku bertindak tanpa hukuman. Hal ini tidak dapat diterima," katanya lagi.

UN Women juga memperingatkan bahwa pelaporan pelecehan daring masih rendah, sementara sistem peradilan kurang memadai dan platform teknologi menghadapi sedikit akuntabilitas.

Meningkatnya pelecehan yang dihasilkan AI, katanya, telah memperburuk impunitas lintas batas.

Generasi baru perangkat AI yang sangat canggih mempercepat penyebaran pelecehan digital, membuatnya lebih cepat, lebih sulit dideteksi, dan lebih kompleks daripada sebelumnya.

Baca juga: Perempuan Berperan Penting saat Bencana, Butuh Kebijakan Berperspektif Gender

Teknologi ini menciptakan bentuk-bentuk pelecehan baru dan memperkuat bentuk-bentuk pelecehan yang sudah ada pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Lebih lanjut, kampanye 16 Days of Activism menyerukan kerja sama global untuk meningkatkan standar keamanan platform digital dan perangkat AI, hukum dan penegakan hukum yang lebih kuat, dukungan yang lebih baik bagi penyintas, dan tanggung jawab yang lebih besar dari perusahaan teknologi.

Kampanye ini juga mendesak investasi dalam pencegahan, literasi digital, dan organisasi hak-hak perempuan yang mendukung mereka yang terdampak.

UN Women akan meluncurkan pula perangkat baru untuk membantu pemerintah dan kepolisian, termasuk panduan legislatif terbaru tentang kekerasan yang difasilitasi teknologi dan panduan bagi penegak hukum tentang pencegahan dan respons.

Kampanye 16 Days of Activism dari 25 November hingga 10 Desember dan tahun ini berfokus pada upaya mengakhiri kekerasan digital.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau