Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ancaman Baru, Perubahan Iklim Perluas Habitat Nyamuk Malaria

Kompas.com, 27 November 2025, 14:39 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Setiap tahun, sekitar 600.000 orang meninggal karena malaria. Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk itu sebagian besar menyerang wilayah di Afrika sub-Sahara, dan anak-anak adalah yang paling rentan.

Hal ini menjadikan malaria salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia.

Kini, sebuah studi baru dari Universitas Kopenhagen menunjukkan bahwa perubahan iklim di masa depan bisa menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi nyamuk malaria, membuat jutaan orang di sebagian besar wilayah Afrika terpapar gigitan nyamuk yang lebih berbahaya.

"Studi kami menunjukkan bahwa perubahan iklim akan menguntungkan nyamuk malaria. Hal ini dapat meningkatkan risiko antara 200 juta hingga satu miliar orang, kecuali kita bertindak," kata penulis utama Tiem van der Deure, mahasiswa Ph.D. di Departemen Kedokteran Hewan dan Ilmu Hewan di Universitas Kopenhagen.

Baca juga: Nyamuk Muncul di Islandia, Tanda Nyata Dampak Perubahan Iklim

"Angka 200 juta adalah perkiraan yang sangat konservatif dengan asumsi tidak ada perubahan demografis, tetapi memperhitungkan perubahan iklim. Skenario satu miliar mencakup pertumbuhan populasi yang signifikan," jelasnya, dikutip dari Phys, Rabu (26/11/2025).

Jika daerah-daerah baru terpapar malaria, konsekuensinya bisa parah, karena populasi di wilayah tersebut akan kurang berpengalaman dalam mengelola penyakit ini dan memiliki kekebalan yang sangat rendah.

Dalam studi ini, peneliti meneliti bagaimana enam spesies nyamuk malaria yang paling tersebar luas akan merespons perubahan iklim.

"Bagi kebanyakan orang, nyamuk tampak serupa. Namun, mereka sangat berbeda. Perilaku dan lingkungan yang mereka sukai sangat bervariasi," kata Associate Professor Anna-Sofie Stensgaard dari Departemen Ilmu Kedokteran Hewan dan Hewan di Universitas Kopenhagen dan penulis senior studi tersebut.

Hasilnya, dari enam spesies yang diteliti, separuhnya akan menyebar ke wilayah baru dan sisanya akan tetap ada. Ini secara kolektif menyebabkan peningkatan penyebaran nyamuk secara keseluruhan.

Meskipun prospeknya suram, sesuatu dapat dilakukan, tegas van der Deure.

Baca juga: Harga Vaksin Malaria Turun, Selamatkan 7 Juta Anak Tambahan hingga 2030

"Skenario iklim kami menunjukkan bahwa kita dapat mencegah sebagian besar hal ini dengan membatasi perubahan iklim. Kami mengkaji satu skenario di mana kita melanjutkan seperti biasa, dan skenario lain di mana kita memenuhi target Perjanjian Paris," ujarnya.

"Studi ini merupakan pengingat yang jelas bahwa kegagalan memenuhi target Perjanjian Paris bukan hanya tentang naiknya permukaan laut atau cuaca ekstrem tetapi juga merupakan krisis kesehatan masyarakat yang sedang terjadi," tambah Profesor David Nogués Bravo, penulis lain yang terlibat dalam studi.

Otoritas kesehatan global pun harus bersiap menghadapi penyebaran malaria.

Dan yang penting juga untuk dicatat perubahan iklim hanyalah sebagian dari penyebab pergeseran pola penyakit. Globalisasi, perdagangan internasional, dan perubahan tata guna lahan setidaknya memainkan peran yang sama besarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
Pemerintah
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
LSM/Figur
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
LSM/Figur
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Pemerintah
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Pemerintah
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau