KOMPAS.com - Sebuah analisis baru mengungkapkan bahwa populasi amfibi telah menurun tajam di seluruh dunia.
Studi tersebut menyebut sebanyak 788 spesies amfibi telah mengalami penurunan status konservasi selama empat dekade terakhir, sementara hanya 121 yang menunjukkan perbaikan.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Reviews Biodiversity ini memperingatkan bahwa amfibi mengalami krisis keanekaragaman hayati yang lebih parah daripada kelompok vertebrata lainnya, namun investasi konservasi dan penelitian masih sangat rendah.
Menurut studi tersebut, hilangnya dan degradasi habitat mengancam jumlah amfibi terbesar, memengaruhi 2.684 spesies. Pertanian berdampak pada 77 persen spesies, penebangan kayu dan tanaman 53 persen, dan pembangunan infrastruktur 40 persen.
Baca juga: Proyek Konservasi Dunia Diam-diam Gagal, Target Alam Global Terancam
Perubahan iklim dan penyakit merupakan tekanan paling signifikan berikutnya, masing-masing memengaruhi 29 persen spesies yang terancam. Eksploitasi berlebihan untuk makanan dan perdagangan hewan peliharaan berdampak pada 8 persen lainnya.
Melansir Down to Earth, Kamis (27/11/2025) amfibi merupakan kelompok vertebrata yang paling terancam secara global, dengan 41 persen spesies diklasifikasikan sebagai terancam.
Sayangnya, meski masuk dalam daftar merah IUCN, amfibi hanya menerima 3,4 persen dari dana konservasi vertebrata.
Amfibi memainkan peran penting sebagai predator sekaligus mangsa, memfasilitasi siklus nutrisi antara ekosistem akuatik dan terestrial, serta meningkatkan aerasi dan produktivitas tanah.
Penurunan jumlah mereka dapat memicu hilangnya keanekaragaman hayati secara berjenjang, mengganggu predator, dan mengganggu kestabilan ekosistem. Mereka juga menyediakan jasa seperti pengendalian hama pertanian dan pengaturan penyakit.
Peneliti dalam studi ini mencatat beberapa upaya konservasi telah dilakukan untuk mendorong penurunan risiko kepunahan untuk beberapa spesies.
Beberapa intervensi konservasi ini antara lain perlindungan habitat yang efektif, penyingkiran spesies invasif, dan praktik pengelolaan yang lebih baik.
Baca juga: Pulau Buru Maluku Ditetapkan Jadi Kawasan Konservasi Baru Penyu Belimbing
Misalnya, penyingkiran ikan invasif telah memungkinkan kelangsungan hidup katak pohon tutul (Litoria spenceri) yang sangat terancam punah.
Lebih lanjut, peneliti juga menyerukan upaya yang lebih kuat dan terkoordinasi untuk menghentikan kepunahan amfibi, termasuk implementasi kerangka kerja konservasi global yang lebih baik seperti inisiatif Bentang Alam Amfibi yang Terancam dan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal.
Peneliti menekankan pula perlunya peningkatan kapasitas, mekanisme pendanaan yang lebih baik, dan adopsi teknologi baru, termasuk DNA lingkungan, pengindraan jauh, dan intervensi genetik, untuk melindungi masa depan keanekaragaman hayati amfibi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya