Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Lepas dari Ancaman, Bahan Kimia Abadi Ditemukan di Hewan Laut

Kompas.com, 2 Desember 2025, 16:53 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Hewan laut kini tak lepas dari ancaman bahan kimia abadi (PFAS). Penelitian baru mengungkapkan bahan kimia ini ditemukan di dalam tubuh paus dan lumba-lumba di berbagai zona laut yang luas.

Paus dan lumba-lumba dianggap sebagai spesies indikator karena mencerminkan ekosistemnya.

Sebelumnya, peneliti menduga bahwa spesies yang mencari makan terutama di perairan dalam seperti paus sperma akan memiliki kontaminasi PFAS yang lebih rendah daripada spesies pesisir seperti lumba-lumba, yang lebih dekat dengan sumber polusi.

Namun, analisis mereka menunjukkan bahwa itu tidak benar. Tampaknya tidak ada tempat untuk bersembunyi dari PFAS.

Baca juga: Studi: Sejumlah Kecil Plastik Mematikan Bagi Hewan Laut

Sebagai informasi PFAS adalah bahan kimia yang sangat stabil, tersebar luas di lingkungan, dan menjadi perhatian serius karena kemampuan mereka bertahan di alam dan di tubuh makhluk hidup selama periode waktu yang sangat lama.

Itu mengapa PFAS seringkali disebut sebagai bahan kimia abadi.

Melansir Earth, Senin (1/12/2025) dalam studi ini, tim peneliti menganalisis jaringan hati dari 127 paus dan lumba-lumba yang terdampar.

Peneliti kemudian menemukan beberapa kelompok memiliki beban PFAS yang tinggi.

Jantan terus mengakumulasi zat tersebut, sementara betina memiliki mekanisme biologis seperti kehamilan dan menyusui yang memungkinkan mereka mengeluarkan sebagian dari beban tersebut dan mentransfernya ke generasi berikutnya, sehingga konsentrasi dalam tubuh mereka sendiri lebih rendah.

Ini alasan hewan muda seringkali menunjukkan nilai PFAS yang lebih tinggi karena adanya transfer dari induk.

Tren seperti itu sesuai dengan pola yang dilaporkan di seluruh studi lumba-lumba dan pesut. Hal ini menekankan betapa pentingnya faktor biologi dan reproduksi dalam memahami bagaimana mamalia laut menyimpan dan berurusan dengan polusi kimia.

Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa predator mendapat paparan PFAS lebih tinggi. Sementara hewan yang hidup lama dan lambat membersihkan zat kimia akan memiliki beban kontaminan terberat.

"Studi menunjukkan bukan hanya spesies lepas pantai melainkan mereka yang menyelam dalam pun juga terpapar PFAS pada tingkat yang sama. Polusi yang meluas dan diperparah stresor yang didorong oleh iklim menimbulkan ancaman yang makin besar terhadap keanekaragaman hayati laut," papar rekan penulis studi ini, Frederik Saltre.

Baca juga: Studi Sebut Teknologi Digital Efektif Ajarkan Keberlanjutan Laut pada Generasi Muda

Keberadaan PFAS di berbagai spesies menandakan kekhawatiran ekologis yang mendalam. Bahan kimia ini dapat mengganggu fungsi kekebalan tubuh, keseimbangan hormon, dan kesehatan reproduksi pada mamalia laut.

Kekhawatiran meluas ke komunitas manusia karena jalur biologis yang sama. Mamalia laut bertindak sebagai indikator peringatan dini, yang mengungkapkan perubahan kualitas laut jauh sebelum dampaknya di permukaan menjadi jelas.

Data gabungan menunjukkan PFAS menyebar di berbagai habitat, terlepas dari kedalaman atau jaraknya.

Kehidupan di zona dalam kini menyimpan jejak kimia yang dibentuk oleh industri global, transportasi jarak jauh, dan desain molekuler yang persisten.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
MBG Bikin Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Rajin Belajar di Sekolah?, Riset Ini Ungkap Persepsi Orang Tua
MBG Bikin Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Rajin Belajar di Sekolah?, Riset Ini Ungkap Persepsi Orang Tua
LSM/Figur
Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
LSM/Figur
Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta
Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta
LSM/Figur
Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat
Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat
Pemerintah
PHE Konsisten Lestarikan Elang Jawa di Kamojang Jawa Barat
PHE Konsisten Lestarikan Elang Jawa di Kamojang Jawa Barat
Pemerintah
Indeks Investasi Hijau Ungkap Bank Nasional di Posisi Teratas Jalankan ESG
Indeks Investasi Hijau Ungkap Bank Nasional di Posisi Teratas Jalankan ESG
LSM/Figur
Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
Pemerintah
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Pemerintah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
Pemerintah
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
Pemerintah
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
LSM/Figur
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Swasta
KLH Identifikasi Hutan di Aceh Dibuka untuk Sawit dan Tambang Ilegal
KLH Identifikasi Hutan di Aceh Dibuka untuk Sawit dan Tambang Ilegal
Pemerintah
Menjaga Bumi Nusantara Melalui Kearifan Lokal
Menjaga Bumi Nusantara Melalui Kearifan Lokal
Pemerintah
Tingkatkan Produktivitas Lahan, IPB Latih Petani Kuasai Teknik Agroforestri
Tingkatkan Produktivitas Lahan, IPB Latih Petani Kuasai Teknik Agroforestri
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau