KOMPAS.com - Hewan laut kini tak lepas dari ancaman bahan kimia abadi (PFAS). Penelitian baru mengungkapkan bahan kimia ini ditemukan di dalam tubuh paus dan lumba-lumba di berbagai zona laut yang luas.
Paus dan lumba-lumba dianggap sebagai spesies indikator karena mencerminkan ekosistemnya.
Sebelumnya, peneliti menduga bahwa spesies yang mencari makan terutama di perairan dalam seperti paus sperma akan memiliki kontaminasi PFAS yang lebih rendah daripada spesies pesisir seperti lumba-lumba, yang lebih dekat dengan sumber polusi.
Namun, analisis mereka menunjukkan bahwa itu tidak benar. Tampaknya tidak ada tempat untuk bersembunyi dari PFAS.
Baca juga: Studi: Sejumlah Kecil Plastik Mematikan Bagi Hewan Laut
Sebagai informasi PFAS adalah bahan kimia yang sangat stabil, tersebar luas di lingkungan, dan menjadi perhatian serius karena kemampuan mereka bertahan di alam dan di tubuh makhluk hidup selama periode waktu yang sangat lama.
Itu mengapa PFAS seringkali disebut sebagai bahan kimia abadi.
Melansir Earth, Senin (1/12/2025) dalam studi ini, tim peneliti menganalisis jaringan hati dari 127 paus dan lumba-lumba yang terdampar.
Peneliti kemudian menemukan beberapa kelompok memiliki beban PFAS yang tinggi.
Jantan terus mengakumulasi zat tersebut, sementara betina memiliki mekanisme biologis seperti kehamilan dan menyusui yang memungkinkan mereka mengeluarkan sebagian dari beban tersebut dan mentransfernya ke generasi berikutnya, sehingga konsentrasi dalam tubuh mereka sendiri lebih rendah.
Ini alasan hewan muda seringkali menunjukkan nilai PFAS yang lebih tinggi karena adanya transfer dari induk.
Tren seperti itu sesuai dengan pola yang dilaporkan di seluruh studi lumba-lumba dan pesut. Hal ini menekankan betapa pentingnya faktor biologi dan reproduksi dalam memahami bagaimana mamalia laut menyimpan dan berurusan dengan polusi kimia.
Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa predator mendapat paparan PFAS lebih tinggi. Sementara hewan yang hidup lama dan lambat membersihkan zat kimia akan memiliki beban kontaminan terberat.
"Studi menunjukkan bukan hanya spesies lepas pantai melainkan mereka yang menyelam dalam pun juga terpapar PFAS pada tingkat yang sama. Polusi yang meluas dan diperparah stresor yang didorong oleh iklim menimbulkan ancaman yang makin besar terhadap keanekaragaman hayati laut," papar rekan penulis studi ini, Frederik Saltre.
Baca juga: Studi Sebut Teknologi Digital Efektif Ajarkan Keberlanjutan Laut pada Generasi Muda
Keberadaan PFAS di berbagai spesies menandakan kekhawatiran ekologis yang mendalam. Bahan kimia ini dapat mengganggu fungsi kekebalan tubuh, keseimbangan hormon, dan kesehatan reproduksi pada mamalia laut.
Kekhawatiran meluas ke komunitas manusia karena jalur biologis yang sama. Mamalia laut bertindak sebagai indikator peringatan dini, yang mengungkapkan perubahan kualitas laut jauh sebelum dampaknya di permukaan menjadi jelas.
Data gabungan menunjukkan PFAS menyebar di berbagai habitat, terlepas dari kedalaman atau jaraknya.
Kehidupan di zona dalam kini menyimpan jejak kimia yang dibentuk oleh industri global, transportasi jarak jauh, dan desain molekuler yang persisten.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya