JAKARTA, KOMPAS.com – Warga Desa Barunang, Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas, masih bergulat untuk mendapatkan akses internet memadai. Terletak di kawasan terdalam Kalimantan, internet bak barang mewah untuk didapat.
Untuk mengakses layanan internet, warga mesti membeli voucer Wi-Fi yang tersedia di warung-warung.
Sosialis (43), misalnya, mesti merogoh kocek Rp 5.000 untuk mendapatkan akses internet berdurasi lima jam. Warga Desa Barunang itu membeli voucer Wi-Fi agar anaknya dapat belajar dan mengerjakan tugas sekolah di rumah.
Apa yang terjadi di Desa Barunang mencerminkan bagaimana akses internet masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat di Tanah Air, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kondisi tersebut menjadi perhatian banyak pihak, termasuk penyedia infrastruktur digital, seperti FiberStar. Perusahaan ini menegaskan komitmennya untuk menghadirkan akses internet yang lebih setara bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Baca juga: Pakar Unair: Pemerataan Internet Jadi Tantangan Besar Indonesia
Customer Service Assurance Division Head FiberStar, Wisnu Wardhana, mengatakan, pemerataan akses internet di Indonesia masih menghadapi kendala geografis dan infrastruktur.
Sedari awal, pihaknya mengutamakan pembangunan jaringan kabel fiber optic di Tanah Air.
“FiberStar sudah menggulirkan jaringan fiber optic di Sumatera, Jawa, Bali, sebagian Kalimantan Selatan, dan sebagian Sulawesi Selatan. Namun, untuk menjangkau ribuan desa terpencil masih menjadi tantangan,” ujar Wisnu kepada Kompas.com, Kamis (4/12/2025).
“Indonesia ini sangat luas. Untuk membentangkan fiber sampai ke pelosok membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit,” kata Wisnu.
Head of Division FiberStar Wisnu Wardhana mengatakan, Untuk mengatasi kendala geografis, FiberStar mengadopsi strategi hibrida dengan memanfaatkan teknologi satelit orbit rendah (LEO) milik Starlink. FiberStar mulai bekerja sama sebagai mitra resmi Starlink sejak 2024.Keterbatasan tersebut berdampak langsung pada layanan publik di wilayah 3T. Data yang dihimpun FiberStar menunjukkan bahwa sekitar 13.000 desa masih belum memiliki akses internet stabil.
Bahkan 30 persen sekolah terpencil dan 25 persen puskesmas belum terjangkau layanan internet memadai.
“Kadang anak-anak harus naik bukit atau berjalan jauh ke kota hanya untuk dapat sinyal,” ujar Wisnu.
Untuk mengatasi kendala geografis, FiberStar mengadopsi strategi hibrida dengan memanfaatkan teknologi satelit orbit rendah (LEO) milik Starlink. FiberStar mulai bekerja sama sebagai mitra resmi Starlink sejak 2024.
“Starlink memberi terobosan besar untuk daerah yang sulit dijangkau fiber. Karena satelitnya berada di orbit rendah, latensinya sangat kecil, bahkan bisa di bawah 50 milidetik,” jelas Wisnu.
Menurutnya, unit perangkat Starlink yang ringkas membuat proses instalasi lebih cepat. Di area tanpa listrik, perangkat tersebut bahkan bisa dikombinasikan dengan panel surya.
Baca juga: Pakar Unair: Jaringan 5G dan Pemerataan Internet Jadi Hal Penting
Hingga 2025, FiberStar telah mengintegrasikan layanan fiber optic dan Starlink di sekitar 5.000 titik di seluruh Indonesia.
Titik-titik tersebut mencakup wilayah 3T, seperti Wamena, Miangas, Anambas, Sumba, Flores, Malinau, hingga sejumlah desa di Sumatera Utara dan Aceh.
“Kalau fibrisasinya sulit, kami pasang Starlink. Di beberapa lokasi kami kombinasikan keduanya,” ujar Wisnu.
Dalam kerja sama dengan Starlink, FiberStar memberikan prioritas pada layanan publik, terutama sekolah dan puskesmas.
Wisnu menambahkan, sekitar 1.800 puskesmas kini telah terhubung melalui jaringan fiber optic atau Starlink.
Hingga 2025, FiberStar telah mengintegrasikan layanan fiber optic dan Starlink di sekitar 5.000 titik di seluruh Indonesia. Titik-titik tersebut mencakup wilayah 3T, seperti Wamena, Miangas, Anambas, Sumba, Flores, Malinau, hingga sejumlah desa di Sumatera Utara dan Aceh.Baca juga: FiberStar Jadi Mitra Starlink di Indonesia
“Di sekolah-sekolah 3T, kami siapkan kuota data sampai 2 terabita per bulan. Penggunaannya optimal untuk belajar, riset, dan mengunduh materi pelajaran,” jelasnya.
Starlink juga membantu mendukung layanan telemedicine di puskesmas, termasuk akses ke platform Kementerian Kesehatan seperti SatuSehat dan data imunisasi ibu dan anak.
“Tenaga kesehatan di daerah terpencil butuh konektivitas stabil, tidak hanya akses internet biasa. Dengan data besar dan latensi rendah, operasional mereka jadi jauh lebih terbantu,” ujarnya.
Selain layanan publik, FiberStar juga bekerja sama dengan sejumlah bank BUMN untuk mendukung UMKM binaan yang beroperasi di daerah terpencil.
Menurut Wisnu, banyak pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di desa akhirnya mampu meningkatkan omzet sejak mendapat akses internet.
Baca juga: Harmoni di Pedalaman Kalimantan: Cerita Anak SD Barunang Hidup dengan Ragam Agama dan Alam
“Kenaikannya bisa 18–25 persen. Mereka jadi bisa riset produk, menemukan ide, bahkan mengakses pasar daring,” katanya.
WiFi yang dipasang untuk UMKM juga sering dibuka untuk warga sekitar agar lebih banyak masyarakat yang dapat menikmati konektivitas.
FiberStar juga aktif mendukung penanganan bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Ketika konektivitas fiber terputus akibat bencana, Starlink dipasang di posko-posko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), dan lokasi pengungsian.
Bahkan Basarnas meminta dukungan pemasangan Starlink di kapal-kapal mereka demi kebutuhan komunikasi selama operasi penyelamatan.
“Di beberapa lokasi, warga langsung antre mengakses internet untuk menghubungi keluarga atau menarik uang di ATM. Kami bantu agar akses ini tetap berjalan,” kata Wisnu.
Baca juga: Internet Starlink Elon Musk Cocok di Daerah Terpencil yang Tak Terjangkau Fiber Optic
Sejak beroperasi lebih dari satu dekade, FiberStar telah membangun 70.000 kilometer (km) jaringan fiber optic dan melayani hampir 500.000 pelanggan residensial dan korporat.
Meski demikian, pemerataan akses internet masih menjadi pekerjaan panjang yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Kami bekerja bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga kemanusiaan untuk menentukan area yang paling membutuhkan jaringan,” ujarnya.
Komitmen itu mencakup pembangunan fiber optic baru, memperluas titik Starlink, dan memperkuat infrastruktur di lokasi rawan bencana.
“Internet sekarang sudah seperti kebutuhan utama, sama pentingnya dengan sandang dan pangan. Kami berharap kombinasi fiber optic dan Starlink bisa mempercepat pemerataan akses, terutama di wilayah 3T,” kata Wisnu.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya