Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sepanjang 2025, Bencana Iklim Sebabkan Kerugian hingga Rp 1.800 Triliun

Kompas.com, 22 Desember 2025, 17:14 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan terbaru Christian Aid berjudul Counting the Cost 2025: A year of climate breakdown, mengungkapkan kerugian akibat bencana iklim global sepanjang 2025 diperkirakan mencapai 120 miliar dollar AS atau setara lebih dari Rp 1.800 triliun.

Peneliti menyebutkan, angka tersebut menandai 2025 sebagai salah satu tahun dengan biaya iklim tertinggi.

CEO Christian Aid, Patrick Watt menilai bencana tersebut sebagai peringatan karena berbagai negara tak juga menghentikan bahan bakar fosil dan bertransisi ke energi terbarukan.

“Bencana ini juga menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk adaptasi, khususnya di negara-negara Selatan, di mana sumber daya terbatas dan masyarakat sangat rentan terhadap guncangan iklim,” ujar Watt dalam keterangannya, Senin (22/12/2025).

Baca juga: Anomali Iklim di Indonesia Bikin Badai Tropis Makin Sering, Ini Penjelasan BRIN

Dia mencatat, peringkat pertama bencana dengan kerugian tertinggi yakni kebakaran California, Amerika Serikat mencapai 60 miliar dollar AS lalu menyebabkan kematian lebih dari 400 orang.

Kedua, siklon dan banjir yang melanda Asia Tenggara pada November 2025, dengan kerugian 25 miliar dollar AS dan menewaskan lebih dari 1.750 orang di Thailand, Indonesia, Sri Lanka, Vietnam, serta Malaysia.

Banjir musiman China menyebabkan kerugian hingga 11,7 miliar dollar AS, menewaskan 30 orang. Selanjutnya, angin topan melissa di Jamaika, Kuba, dan Bahama pada pertengahan hingga akhir 2025, dengan kerugian 8 miliar dollar AS dan angka kematian yang belum selesai dihitung.

Kerugian akibat banjir di India dan Pakistan pada Juni-September mencapai 5,6 miliar dollar AS dan menyebabkan lebih dari 1.860 kematian. Topan di Filipina pada pertengahan tahun sampai November, kerugian ekonominya mencapai 5 miliar dollar AS dan ratusan kematian.

Kekeringan di Brazil pada Januari-Juni, dengan kerugian 4,75 miliar dollar AS.

Lalu, Siklon Tropis Alfred di Australia pada Februari dengan kerugian US$1,2 miliar dan satu korban jiwa. Siklon Garance di Réunion, Afrika Timur, pada Februari dengan kerugian 1,5 miliar dollar dengan lima kematian, serta Banjir Texas, Amerika Serikat pada Juli dengan kerugian 1 miliar dollar AS dan lebih dari 135 kematian.

Baca juga: Greenpeace Sebut Banjir Sumatera akibat Deforestasi dan Krisis Iklim

Beban Tambahan

Selain kerugian, wilayah-wilayah yang terhantam bencana juga mesti menanggung biaya rekonstruksi. Membenahi kerusakan akibat banjir parah di Sumatera, misalnya, dibutuhkan pendanaan di atas 3 miliar dollar AS, sementara di Sri Lanka mencapai 6-7 miliar dollar.

“Tahun ini mengungkapkan kenyataan brutal perubahan iklim. Sementara negara-negara kaya menghitung kerugian finansial akibat bencana, jutaan orang di seluruh Afrika, Asia, dan Karibia menghitung nyawa, rumah, dan masa depan yang hilang," jelas Direktur Power Shift Africa, Mohamed Adow.

Pada 2026, lanjut dia, pemerintah harus berhenti menutup mata dan mulai menanggapi dengan dukungan nyata bagi masyarakat melalui peningkatan pendanaan bagi mereka yang membutuhkan. Lainnya, memangkas emisi karbon.

Laporan Christian Aid menekankan, bencana-bencana ini bukan kejadian alami. Di California, perubahan iklim meningkatkan 35 persen kemungkinan kondisi cuaca kebakaran ekstrem.

Menurut para ilmuwan, perubahan iklim turut memengarubu intensnya badai dj Asia Tenggara. Sehingga curah hujan melonjak, dan menyebabkan banjir mematikan. Dampak lainnya, meningkatkan kemungkinan terjadinya topan dengan intensitas seperti Topan Ragasa.

Joanna Haigh selaku Profesor Emeritus Fisika Atmosfer Imperial College London, menyatakan bahwa negara-negara global saat ini harus membayar harga yang makin tinggi untuk krisis iklim.

"Bencana-bencana ini bukanlah bencana alam, melainkan akibat tak terhindarkan dari perluasan bahan bakar fosil dan penundaan keputusan politik. Meskipun biayanya mencapai miliaran, beban terberat jatuh pada komunitas dengan sumber daya paling sedikit untuk pulih," kata Haigh.

Apabila pemerintah bertindak sekarang untuk mengurangi emisi dan mendanai langkah-langkah adaptasi iklim, maka penderitaan itu akan terus berlanjut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau