Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WHO Rilis Rekomendasi Makanan Sehat untuk Sekolah di Seluruh Dunia

Kompas.com, 30 Januari 2026, 21:05 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber WHO

KOMPAS.com - World Health Organization (WHO) merilis rekomendasi terbaru terkait penyediaan makanan sehat dan bergizi di sekolah-sekolah di seluruh dunia.

Rekomendasi ini ditujukan untuk membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini sekaligus mengurangi kesenjangan kesehatan dan gizi pada anak.

WHO menilai sekolah menjadi lingkungan strategis karena anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sana. Lingkungan sekolah, termasuk jenis makanan yang tersedia, dinilai memiliki pengaruh jangka panjang terhadap pola makan, kesehatan, dan kesejahteraan anak hingga dewasa.

Baca juga: Guru Besar UGM: RI Mestinya Pajaki Minuman Berpemanis dan Beri Subsidi Makanan Sehat

“Makanan yang dikonsumsi anak-anak di sekolah, serta lingkungan yang membentuk apa yang mereka makan, dapat memberikan dampak yang mendalam pada pembelajaran mereka dan memiliki konsekuensi seumur hidup bagi kesehatan dan kesejahteraan,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari laman resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (27/1/2026).

Makanan tidak sehat di sekitar sekolah

WHO menyoroti kondisi di sekitar sekolah yang masih dipenuhi makanan tinggi lemak jenuh, asam lemak trans, gula bebas, dan garam.

Pola konsumsi tersebut dinilai tidak sejalan dengan pedoman diet nasional di banyak negara dan berkontribusi pada berbagai bentuk malnutrisi, kelebihan berat badan, serta meningkatnya penyakit tidak menular yang berkaitan dengan pola makan.

Rekomendasi WHO ini bertujuan meningkatkan ketersediaan, pembelian, dan konsumsi makanan serta minuman yang mendukung pola makan sehat di lingkungan sekolah. Sebaliknya, WHO juga mendorong pembatasan dan pengurangan konsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat.

Dalam pedoman tersebut, WHO menegaskan bahwa makanan dan minuman yang disediakan, disajikan, dijual, atau dikonsumsi di sekolah harus aman, bergizi, dan mendukung tujuan kesehatan masyarakat nasional, serta sejalan dengan pemenuhan hak anak.

Baca juga: 15 Makanan Sehat untuk Penderita Migrain yang Bantu Redakan Gejalanya

Pedoman ini berlaku untuk seluruh jenjang pendidikan, mulai dari pra-sekolah, sekolah dasar, hingga sekolah menengah, baik negeri maupun swasta.

Namun, WHO tidak mengatur secara rinci mekanisme penerapan dan pemantauan kebijakan tersebut, melainkan memberikan kerangka dan rekomendasi langkah yang dapat diambil oleh masing-masing negara.

WHO mengusulkan tiga strategi utama intervensi gizi di sekolah. Pertama, penyediaan makanan langsung bagi siswa di sekolah.

Kedua, penerapan standar gizi yang mengatur kualitas makanan yang tersedia. Ketiga, penerapan intervensi dorongan atau nudging interventions untuk mempromosikan perilaku makan sehat.

Melalui strategi tersebut, WHO merekomendasikan peningkatan ketersediaan makanan sehat di dalam dan sekitar sekolah, seperti makanan rendah lemak, pengurangan kandungan energi makanan sekolah, serta penghapusan camilan yang tidak sehat.

Perubahan kemasan

Salah satu rekomendasi yang disorot adalah penerapan nudging interventions, yakni perubahan pada kemasan, penempatan, atau ukuran porsi makanan untuk mendorong anak memilih makanan yang lebih sehat.

Contohnya, menempatkan susu murni di posisi yang lebih mudah terlihat dibandingkan susu cokelat, menyajikan buah dalam bentuk potongan, serta meningkatkan daya tarik buah dan sayuran melalui kemasan atau tampilan yang lebih menarik.

Baca juga: 28 Siswa SD di Cipatat Bandung Barat Dilarikan ke Puskesmas, Diduga Keracunan Jajanan Sekolah

Selain itu, WHO juga menyarankan pengelolaan kantin sekolah agar mendorong pilihan makanan sehat. Salah satu caranya adalah dengan memberi label menu sederhana, seperti kategori “harian”, “sesekali”, atau “pertimbangkan untuk beralih”, sehingga siswa dan orang tua dapat memahami kualitas gizi makanan tanpa harus membaca label nutrisi yang kompleks.

WHO berharap rekomendasi ini dapat membantu negara-negara menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung pola makan sehat, sekaligus menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan generasi mendatang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau