Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025, timbulan sampah di Indonesia mencapai 24,8 juta ton per tahun.
Dari jumlah itu, hanya 34,55 persen atau sekitar 8,5 juta ton yang terkelola dengan baik. Sisanya, 65,45 persen atau sekitar 16,3 juta ton per tahun, belum tertangani secara optimal.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna, menilai diperlukan strategi terpadu untuk mengatasi persoalan tersebut.
Baca juga: Di London, Proses Daur Ulang Masih Stagnan meski Robot AI Bantu Sortir Sampah
"Kombinasi reformasi kebijakan, inovasi teknologi, kampanye edukasi publik, dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci pengelolaan sampah yang berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (26/2/2026).
Ia menjelaskan, reformasi kebijakan perlu menghadirkan regulasi yang tegas, insentif bagi praktik ramah lingkungan, serta sistem pengawasan yang konsisten.
Di sisi lain, inovasi teknologi seperti pengolahan sampah berbasis daur ulang, pemanfaatan limbah menjadi energi, dan digitalisasi sistem pengumpulan dapat meningkatkan efisiensi dan menekan pencemaran.
Edukasi publik juga dinilai penting untuk membentuk perilaku masyarakat dalam mengurangi dan memilah sampah sejak dari sumbernya.
"Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi," lanjut dia.
Menurutnya, pengelolaan sampah berkelanjutan merupakan langkah strategis menuju pembangunan rendah karbon dan ekonomi sirkular.
Karena itulah, HPSN 2026 diharapkan menjadi momentum kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat solusi inovatif dalam mengatasi persoalan sampah nasional.
Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 menjadi momentum untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih terpadu guna mendukung mitigasi perubahan iklim dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Baca juga: HPSN 2026, Kompas.com Gandeng Gen Z Bersih-bersih Sampah
HPSN diperingati setiap 21 Februari untuk mengenang tragedi longsor sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Leuwigajah pada 21 Februari 2005 yang menewaskan banyak korban.
Tahun ini, pemerintah mengusung tema *Kolaborasi Aksi untuk Gerakan Nasional Indonesia Asri (Aman, Sehat, Resik, dan Indah)*.
Dari total sampah yang masuk ke TPA, sebanyak 36,24 persen dikelola dengan metode sanitary landfill atau controlled landfill. Sementara itu, 63,76 persen lainnya masih menggunakan sistem open dumping atau penimbunan terbuka.
Sektor rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar, yakni 56,7 persen atau sekitar 7,2 juta ton per tahun. Sumber lainnya meliputi pasar (sekitar 1,7 juta ton per tahun), perniagaan 7,58 persen, fasilitas publik 7,03 persen, kawasan 4,68 persen, serta perkantoran 4,22 persen dari total timbulan sampah nasional.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya