Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belajar dari Pencemaran Sungai Cisadane, Reproduksi Ikan Bisa Terancam

Kompas.com, 26 Februari 2026, 15:16 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Air bekas pemadaman kebakaran gudang bahan kimia milik PT BS pada Senin (9/2/2026) malam, mengalir ke Kali Jaletreng, Tangerang Selatan, yang berujung pada pencemaran pestisida di Sungai Cisadane. 

Sebelumnya, Kali Rawa Buntu di Tangerang Selatan, yang bermuara ke Sungai Cisadane, juga pernah tercemar limbah yang mengubah warna airnya menjadi merah pekat pada pada Oktober 2025.

Baca juga:

Waktu itu, dalam dua minggu, sejumlah warga menyaksikan air Kali Rawa Buntu sempat beberapa kali berubah warna menjadi biru, hijau, dan hitam, dilaporkan oleh Kompas.com, Senin (6/10/2025).

Belajar dari pencemaran Sungai Cisadane

Reproduksi ikan bisa terganggu bila sungai tercemar logam berat

Kondisi air kali di kawasan Rawa Buntu kembali normal setelah viral karena tiba-tiba jadi warna merah.Intan Afrida Rafni Kondisi air kali di kawasan Rawa Buntu kembali normal setelah viral karena tiba-tiba jadi warna merah.

Menurut pakar pencemaran dan ekotoksikologi IPB University, Etty Riani, cemaran limbah makanan akan lebih mudah teruai dan warnanya dapat dengan segera memudar.

Namun, merah pekat di Kali Rawa Buntu juga masih ada risiko kemungkinan berasal dari cemaran limbah pewarna tekstil. 

Limbah pewarna tekstil sintesis mengandung logam berat yang bisa masuk ke dalam tubuh makhluk hidup. Jika benar dari limbah pewarna tekstil sintesis, dampak pencemaran tersebut terhadap keanekaragaman hayati dalam ekosistem sungai juga sangat tergantung jenis logam beratnya.

Misalnya, timbal dapat menganggu reproduksi ikan. Proses pembuahan akan terhalangi timbal, yang mengakibatkan kegagalan reproduksi.

Umumnya, reproduksi ikan di sungai terjadi secara ekternal (ovipar), yang mana ikan betina melepaskan telur dan ikan jantan melepaskan sperma ke air. Nantinya, di dalam sperma ada bahan kimia yang akan mempercepat gerak sel tersebut menuju ke arah telur agar terjadi pembuahan.

"Adanya timbal itu justru akan menganggu bahan kimia ini sehingga seharusnya mempercepat, itu enggak bisa bekerja karena diganggu oleh timbal tadi. Akibatnya, tentu saja reproduksinya enggak terjadi," ujar Etty kepada Kompas.com, Rabu (25/2/2026).

Sungai Cisadane tercemar limbah gudang bahan kimia, Selasa (10/2/2026). Ahli menjelaskan dampak pencemaran limbah B3 seperti timbal dan pestisida terhadap ekosistem Sungai Cisadane, khususnya ikan.Kompas.com/Intan Afrida Rafni Sungai Cisadane tercemar limbah gudang bahan kimia, Selasa (10/2/2026). Ahli menjelaskan dampak pencemaran limbah B3 seperti timbal dan pestisida terhadap ekosistem Sungai Cisadane, khususnya ikan.

Kalau memang sumber pencemaran sungai yang mengubah warna airnya itu berasal dari limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), biasanya keanekaragaman hayati akan menurun.

Pencemaran pestisida jenis cypermethrin dan profenofos, tambah Etty, juga sama berbahaya karena termasuk limbah B3.

Selain timbal, sebagai limbah B3, pewarna tekstil sintesis juga mengandung berbagai jenis logam berat lainnya, dengan bentuk gangguan yang berbeda-beda.

Salah satunya, gangguan yang menyasar pada tahap pematangan akhir usai telur ikan berkembang ke tingkat kematangan gonad (TKG) secara bertahap seiring penambahan nutrisi.

"Ada yang bisa mengganggu reproduksi, menganggu proses fisiologis lainnya, bisa mengganggu si sel telur itu harusnya matang, ini enggak matang-matang," tutur Etty.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau