Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sungai Cisadane Ditargetkan Bersih Pestisida dalam 2 Minggu, Bagaimana Ekosistemnya?

Kompas.com, 15 Februari 2026, 08:21 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Antara

KOMPAS.com - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Banten menargetkan proses pembersihan pestisida di Sungai Cisadane rampung dalam waktu satu hingga dua minggu.

Kepala DLH Banten, Wawan Gunawan mengatakan, pembersihan harus dilakukan cepat karena zat pestisida berisiko terhadap kesehatan dan lingkungan. DLH Banten bergerak bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mempercepat penanganan.

Baca juga:

Pencemaran ini terjadi akibat kebakaran gudang pestisida di Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten, pada Senin (9/2/2026).

"Nah, ini kan pabrik pestisida. Begitu kejadian kebakaran, akhirnya pestisida mengalir ke sungai. Dampak pestisida itu memang bahaya karena mengandung racun, jadi memang harus dibersihkan segera," ucap Kepala DLH Banten, Wawan Gunawan, dilansir dari Antara, Sabtu (13/2/2026).

Target Sungai Cisadane bersih dari pestisida dalam 2 minggu

Ada jenis pestisida yang mudah terikat pada partikel tanah

Penampakan gudang pestisida di Taman Tekno, Serpong, Tangsel, pascakebakaran, Jumat (13/2/2026). DLH Banten targetkan pembersihan pestisida di Sungai Cisadane dalam dua minggu. Pakar menilai ekosistem butuh waktu tahunan untuk pulih.KOMPAS.com/INTAN AFRIDA RAFNI Penampakan gudang pestisida di Taman Tekno, Serpong, Tangsel, pascakebakaran, Jumat (13/2/2026). DLH Banten targetkan pembersihan pestisida di Sungai Cisadane dalam dua minggu. Pakar menilai ekosistem butuh waktu tahunan untuk pulih.

Menanggapi hal itu, pakar pencemaran dan ekotoksikologi IPB University, Etty Riani, menyampaikan, tidak mungkin bisa "membersihkan" seluruh dampak pestisida di Sungai Cisadane hanya dalam waktu dua minggu.

"Hanya dua minggu? Untuk air iya, tetapi untuk ekosistem secara keseluruhan sangat tidak mungkin," ujar Etty kepada Kompas.com, Sabtu (14/2/2026).

Menurut Etty, sangat tidak mungkin Sungai Cisadane benar-benar "bersih" dalam dua minggu.

Sebab, pestisida yang tumpah sangat banyak, khususnya, pestisida jenis Cypermethrin yang bersifat mudah terikat pada partikel tanah meski sulit larut dalam air.

Imbasnya, cemaran dari pestisida jenis Cypermethrin relatif stabil di dasar perairan. Bahkan, cemaran dari pestisida jenis Cypermethrin akan tertinggal karena mengendap pada sedimen dan pinggir sungai.

Maka dari itu, proses pembersihan harus memastikan baik dasar maupun pinggir sungai sudah benar-benar "bersih" dari cemaran pestisia.

"Ya (pestisida) bisa mengendap dan berakumulasi dalam sedimen. Waktu (Pestisida yang tumpah) hilang hanya dalam air, begitu air berganti langsung hilang dua minggu (itu) cukup, tetapi yang di dasar dan pinggir sungai enggak mungkin bisa cepat. Butuh waktu panjang, bisa tahunan baru benar-benar hilang dari ekosistem sungai," jelas Etty.

Baca juga:

Ikan dan biota lain dari Sungai Cisadane tidak bisa dikonsumsi

Konsumsi ikan yang tercemar bisa membahayakan kesehatan

Penampakan Ikan mati di Sungai Cisadane, Kota Tangerang, pada Selasa (10/2/2026). DLH Banten targetkan pembersihan pestisida di Sungai Cisadane dalam dua minggu. Pakar menilai ekosistem butuh waktu tahunan untuk pulih.KOMPAS.com/INTAN AFRIDA RAFNI Penampakan Ikan mati di Sungai Cisadane, Kota Tangerang, pada Selasa (10/2/2026). DLH Banten targetkan pembersihan pestisida di Sungai Cisadane dalam dua minggu. Pakar menilai ekosistem butuh waktu tahunan untuk pulih.

Air sisa pemadaman sekitar 20 ton pestisida jenis Cypermethrin dan Profenofos dalam insiden kebakaran di kawasan pergudangan Kota Tangerang Selatan, mengalir ke Sungai Cisadane.

Dampaknya, ekosistem di Sungai Cisadane terkontaminasi kedua jenis pestisida itu.

Etty menuturkan bahwa ikan dari Sungai Cisadane yang telah terkontaminasi kedua jenis pestisida itu tidak bisa dikonsumsi karena berpotensi membahayakan kesehatan.

Ia juga menyarakan warga untuk tidak mengonsumsi biota lain yang hidup di dalam ekosistem Sungai Cisadane.

"(Cemaran pestisida dari Sungai Cisadane bisa berdampak ke ikan) baik secara langsung (dengan) masuk ke dalam tubuhnya maupun melalui proses makan memakan atau melalui rantai makanan akibat mengkonsumsi biota lain yang sudah terkontaminasi oleh kedua pestisida tersebut. Apalagi, kalau ikan tersebut merupakan ikan pemakan dasar," tutur Etty.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau